Mohon tunggu...
Rumondang Ernawati Sitohang
Rumondang Ernawati Sitohang Mohon Tunggu... Guru - Proud Mom. Bahagia itu jika masih bisa traveling, menulis dan bernyanyi

Seorang pendidik, blogger.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Karena Tak Ada Libur

13 Desember 2021   22:40 Diperbarui: 13 Desember 2021   23:24 45 3 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Mataku mendadak basah. Bukan tanpa sebab. Kemarin sekitar pukul 10 pagi aku mendapat surat pemberitahuan dari sekolah anakku. Anak bungsuku yang bersekolah di sekolah berasrama di kota Medan, provinsi Sumatera Utara. Isinya menginformasikan bahwa tidak ada libur untuk semester ganjil ini. 

Tidur malamku jadi tak nyenyak. Rasa tak percaya membaca surat tersebut. Penyebabnya karena aku terlalu bersemangat. Berencana untuk menjemputnya menghabiskan libur semester di rumah kami di Jakarta. Dalam perkiraanku, siapa tahu sekolah berbasis agama ini punya kebijakan berbeda saat Natal. Apadaya, harapan tak sesuai kenyataan. Sama saja. Tak ada libur.

Jam 4 pagi aku terbangun. Karena tak bisa tidur, akhirnya aku membuat badanku lelah dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Berharap bisa tidur nyenyak. Rumah berulang kali aku sapu. Aku pel. Kain aku cuci, pakaian yang jumlahnya tak seberapa segera kusetrika. Aku lanjutkan aktivitas memasak. Jam 6 pagi semua sudah beres. 

Badanku sudah lelah. Ingin tidur sebentar. Tapi mataku basah lagi, air mata deras mengalir. Rinduku tak tertahankan. Rindu pada anak laki-laki satu-satunya. Pikiranku melayang ke masa 12 tahun yang lalu. Anak yang pada masa kandungan sungguh penuh perjuangan. Aku pernah terjatuh dua kali dari sepeda motor saat bertugas, bahkan pernah terlempar hingga ke pinggir sawah. Jarak rumah ke sekolah tempatku bertugas saat itu cukup jauh hampir 31 km. Semua terjadi saat usia kehamilan masih 2 bulan dan 5 bulan. Anak laki-lakiku adalah anak yang kuat. Dia lahir sempurna dengan berat 4,3 kg berkat kemurahan Tuhan.

Saat ini aku benar-benar rindu. Rindu anak laki-lakiku yang selalu memijat badan dan kakiku saat aku lelah. Rindu pada sosok yang paling rajin membantu pekerjaan rumah. Rindu pada anakku yang sangat jarang membantah. Rindu senyum simpulnya saat aku mencoba membuat lelucon. 

Tuhan, sampaikan rinduku untuknya. Peluk dan cium dia untukku. Tuntun dia agar selalu berjalan di jalan yang lurus dan selalu takut akan Engkau. Aku hanya wanita lemah, ibu yang yang tak berdaya menahan rasa rindu. Rindu yang terhalang karena tak ada libur. Kutitipkan jiwa raganya dalam lindungan tanganMu. Amin.

Kota Industri, 13 Desember 2021

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan