Mohon tunggu...
Ruminto
Ruminto Mohon Tunggu... Guru - Back to Nature

Senang membaca dan menulis, menikmati musik pop sweet, nonton film atau drama yang humanistik dan film dokumenter dan senang menikmati alam.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Umroh: Serba-serbi Tempat dan Suasana

12 Juni 2024   14:55 Diperbarui: 12 Juni 2024   16:25 100
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
minum dulu (dok pribadi)

Sederhana saja, tempat umroh dalam arti luas, bagai manapun merupakan sesuatu yang baru. Hal tersebut, sedikit banyak tentu akan menimbulkan kebingungan juga. Atau suasana yang beda, akan mengundang keheranan pula. Nah, dua hal itulah yang akan kami tuturkan berikut ini.

Dimana Tempat Wudhu?

Kedengarannya remeh banget, dimana tempat berwudhu, tapi ini penting sekali untuk dipahami. Sebab dalam kenyataanya tidak sesederhana itu. Baik di masjidil Haram maupun di masjid Nabawi, tempat wudhu terpisah jauh diluar masjid. Di masjid nabawi, tempat wudhunya ditepi batas kompleks halaman, bahkan ada yang diluar kompleks. Dan tempat wudhu tersebut, justru tulisan yang terbaca adalah WC atau Toilet. Dan memang disitu ada toilet dan tempat wudhu,tapi terpisah, dan kedua tempat tersebut, terletak dibawah tanah. Ada escalator yang mengantarnya turun kebawah.

Di masjid Nabawi, ada satu tempat wudhu yang letaknya boleh dibilang tergolong di area " tengah halaman ", jadi dekat dengan masjid. Untuk tempat wudhu yang satu ini, tidak ada toiletnya tapi plus tempat minum yang menyatu dengan tempat wudhu. Kran atas untuk minum dan"  kran " bawah untuk wudhu. Oh ya, kran yang bawah yang untuk wudhu disini umumnya bukan kran konvensional model " handle " yang ditarik lalu mengucur airnya, melainkan model tombol yang ditekan. Jadi ada garis melingkar, cuma warna dan bentuknya sama dengan luar lingkaran dan juga tidak menonjol, melainkan datar saja, sehingga bisa membingungkan, karena kesannya tidak ada apa-apa ?!

Bila lingkaran itu ditekan ,maka air akan  tercurah mengucur keluar. Tapi air tidak mengucur terus, melainkan ada batas waktunya. Bila air berhenti sedang wudhu pasti belum selesai maka tombol lingkaran ditekan lagi. Saya pikir ini cara untuk menghindari pemborosan air.

Sedang di masjidil Haram, tempat wudhu lokasinya juga diluar halaman masjid dan ditepian jalan menuju masjid. Disitu ada tertulis WC, dan Bahasa Arab "Duuroh mayaa " serta ada nomornya. Sama seperti di masjid Nabawi, lokasi wudhu dan WC satu tempat tapi beda ruang dan " bawah tanah ". WC ini dijaga petugas kebersihan 24 jam full.

Minum di tempat

Baik di masjid Nabawi dan terlebih lagi ketika di masjidil Haram, kita bisa minum air zam-zam atau yang bukan zam-zam, kapan saja. Di dalam masjid, disediakan galon-galon besar air zam-zam yang tersebar dibanyak tempat.dan bila habis langsung diganti Gelas plastik sudah disediakan pula disitu. Gelas yang belum dipakai, tersusun rapi menghadap kebawah, sedang yang sudah dipakai diletakan disusun rapi juga menghadap keatas. Jadi orang yang mau minum sudah tahu dan paham tata tertibnya pula. Kapan kitab oleh minum ?  Kapan saja kita mau. Baru masuk masjid langsung minum juga boleh. Disela-sela tadarus atau dzikir juga boleh, ingat orang pergi sholat kemasjid umumnya waktunya berlama-lama, baik sebelum atau sesudah. Sesudah sholat ketika mau pulang juga boleh.

Di salah satu jalan masuk ke masjidil Haram, ditepi jalan ada videotron yang menjelaskan pembelajaran seputar ibadah haji dan umroh. Misalnya bagaimana cara memakai baju ihrom yang salah dan yang benar, bagaimana cara thowaf dan perlakuan terhadap hajar aswad yang salah dan yang benar, dan termasuk pula bagaimana memahami tempat minum air zam-zam yang salah dan yang benar. Ternyata air zam-zam yang banyak tersebar itu sebenarnya hanya untuk minum ditempat. Tidak boleh mengambil pake botol dan apalagi pake jerigent u nntuk dibawa.

Sebenarnya, para jama'ah haji atau umroh sudah dapat paket air zam-zam resmi. Tapi biasanya kita ingin nambah. Jadi banyak juga yang " illegal " ambil air zam-zam untuk dibawa pulang. Cara yang masih wajar atau bisa ditoleransi, adalah dengan botol aqua. Dan botol aqua yang paling gampang adalah yang dibawah 600 ml. yang 6oo ml saja sudah agak repot memasukannya ketempat air mengucur. 

Tapi ada juga yang mengambil dengan botol aqua besar bahkan jerigent plastik khusus ( soalnya ada yang jual juga disitu, bahkan kadang ada yang membagikan gratis didalam masjid, jadi siapa  yang salah ? ). Itu menyusahkan diri. Dibandara akan ada pemeriksaan barangbawaan, bila melebihi kapasitas aka ada tambahan  biaya khusus. Bagi jama'ah haji atau umroh, tak mungkinkan untuk repot-repot membayar ?.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun