Ruli Mustafa
Ruli Mustafa wiraswasta

THE TWINSPRIME GROUP- Founder\r\n"Jangan lihat siapa yang menyampaikan, tapi lihat apa yang disampaikannya" (Ali bin Abi Thalib ra). E-mail : hrulimustafa@gmail.com. Ph.0818172185. Cilegon Banten INDONESIA

Selanjutnya

Tutup

Politik

Hijrah Kebangsaan

13 Januari 2018   16:42 Diperbarui: 13 Januari 2018   16:56 220 0 0
Hijrah Kebangsaan
RoelMoez

Hari-hari ini bangsa Indonesia tengah diuji dengan berbagai masalah yang berpotensi meruntuhkan sendi-sendi bernegara, terutama persoalan perbedaan sikap politik yang menukik pada adanya ancaman persatuan dan kesatuan bangsa. Terlebih di era kemutakhiran teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini, membuat masyarakat dibuat bingung dengan bertebarannya aneka opini dan informasi di beragam media, utamanya di jagad maya yang tidak jarang saling berbenturan satu dengan lainnya, belum lagi maraknya ujaran kebencian (hate speech) serta hoax yang dikemas guna mencari pembenaran sepihak dan sebagai modal gerakan politik praktis yang tidak sejalan dengan semangat kebhinekaan serta persatuan bangsa. 

Sungguh hal hal tersebut telah menciderai budaya bangsa yang luhur serta merusak tatanan soliditas dan solidaritas sebagai bangsa yang majemuk. Hal tersebut perlu kita cermati untuk kemudian mengambil sikap tegas sebagai bangsa yang sadar akan  pentingnya persatuan dan kesatuan dalam wajah multikultural. Sebab tanpa komitmen kebangsaan yang jelas, niscaya ancaman disintegrasi bangsa akan semakin mengemuka. Membebaskan diri dari kungkungan kepentingan individu atau kelompok demi kemaslahatan bersama menjadi tantangan sekaligus peluang membangun bangsa yang tangguh.

 Maka kata kunci untuk keluar dari sempitnya pemikiran adalah hijrah secara totalitas, dari gelap menuju terang, dari kemungkaran menjadi amal ma'ruf, dari jiwa jiwa yang egoistik menjadi figur figur altruistik (mengutamakan kepentingan bersama) tanpa harus mengorbankan keyakinannya atas nilai-nilai keagamaan yang dianut. Kini Fajar hijrah Muharram 1439 H telah terbit dan sejatinya menjadi titik tolak atau momentum hijrah bagi kaum muslim Indonesia untuk menampilkan jatidirinya sebagai rahmat bagi semesta alam. 

Dinamika perbedaan pendapat yang ada saat ini masih dalam batas yang  wajar adanya selama hal tersebut tidak melanggar kesepakatan yang termaktub didalam kesepakatan yang tertuang dalam aturan hukum dan perundang undangan yang berlaku. Kita harus sepakat bahwa supremasi hukum ada di wilayah yang harus dihormati, sikap-sikap kebersamaan sebagai bangsa harus dikedepankan, jangan sampai tergerus oleh sikap egois dan mau menang sendiri, karenanya diperlukan gerak hijrah kebangsaan. 

 Hijrah dalam konteks luas adalah salah satu prinsip dasar dinamika Islam. Prinsip yang menuntut umatnya untuk hidup dinamis, supaya mereka mampu mengantisipasi segala bentuk perubahan yang terjadi disekitarnya dan menjadi agen atau aktor perubahan sosial. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan dan berpindah. 

Dalam formasi 'hijrah makaniyah' atau hijrah berdasarkan tempat dan ruang, hijrah ini telah dilakukan di masa Rasululullah shalallahu alaihi wa sallam, disamping sebagai tuntutan guna melakukan perubahan juga untuk menyelamatkan akidah dan ibadah mereka, secara tekstual, makna hijrah ini telah difahami oleh umat Islam sesuai dengan kronologi catatan sejarah Islam di masalalu. 

Selanjutnya hijrah dalam formasi 'maknawiyah' atau kontekstual adalah hijrah yang terkait dengan sisi intelektualitas, spritualitas, karakter atau sikap dan perilaku individu. Hijrah inilah yang akan menentukan pribadi pribadi muslim untuk menjadi umat pilihan  dan menentukan struktur peradaban Islam kedepannya.

 Hijrah  maknawiyah juga berhubungan dengan hijrah fikriyah yang kini penting untuk dilakukan.  Urgensi hijrah fikriyah atau hijrah pemikiran, perubahan pola pikir (mindset) saat ini adalah untuk menyikapi perkembangan teknologi kekinian, agar setiap pribadi muslim waspada terhadap dinamika globalisasi dan modernisasi, dalam artian boleh saja mengikuti pilihan masing-masing akan tetapi tidak boleh hanyut dalam degradasi moral dan erosi kultural, tidak melanggar hukum serta tetap teguh dalam keyakinan agamanya masing masing. 

Fakta yang kini terjadi adalah bahwa kemajuan teknologi  informasi dan multimedia menjadikan dunia ini seolah olah tanpa batas (borderless). Berbagai informasi dan pemikiran dari belahan dunia manapun dapat  kita akses dengan bebas bahkan dapat diperoleh secara langsung serta semakin interaktif. 

Tanpa kecerdasan untuk menyaring informasi, nicaya kita hanya akan menjadi korban perang pemikiran (ghazwul fikri) dan jebakan konflik yang tidak kentara. Karena itu hijrah fikriyah menjadi isu utama guna mencegah instabilitas bangsa. Masyarakat perlu dicerdaskan dengan wawasan kebangsaan yang utuh serta pemahaman agama yang benar. 

Agama sejatinya mengajarkan beragam kebaikan dan mencegah aneka kemungkaran, inilah yang didalam Islam dikenal sebagai gerakan amar ma'ruf nahi munkar serta fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan) dan  bukan menjadi penyulut tindakan-tindakan yang melampaui batas seperti vandalism dan radikalisme. 

Upaya menegakkan kebenaran dan supremasi hukum juga harus dikawal dengan sikap sikap adil dan obyektif, Jangan sampai kebencian menyeret kita berfikir dan bertindak tidak adil terhadap suatu kaum atau kelompok dalam kehidupan bernegara. Betatapun,  hijrah kebangsaan, yakni segala niat dan upaya menghijrahkan jiwa  (hijratunnafs)  serta  menghijrahkan perbuatan (hijratul'amal) harus dilakukan  untuk kebaikan bersama, baik dalam konteks memperkuat ukhuwah Islamiyah maupun dalam upaya membangun ukhuwah insaniyah.

Karenanya perubahan itu harus dilakukan dengan melibatkan seluruh komponen bangsa. Simpulnya pesan ayat di dalam Alquran sudah jelas, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, jika bangsa tersebut tidak mulai mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar Ra'd 11). Karena itulah, hijrah kebangsaan hakikatnya adalah membawa bangsa ini berubah menjadi lebih baik di segala bidang, dan ini hanya bisa dilakukan secara bersama-sama ! (*)