Ruli Mustafa
Ruli Mustafa wiraswasta

THE TWINSPRIME GROUP- Founder\r\n"Jangan lihat siapa yang menyampaikan, tapi lihat apa yang disampaikannya" (Ali bin Abi Thalib ra). E-mail : hrulimustafa@gmail.com. Ph.0818172185. Cilegon Banten INDONESIA

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Profil Generasi Digital

7 Desember 2017   07:25 Diperbarui: 7 Desember 2017   08:10 231 0 0
Profil Generasi Digital
RoelMoez

Para orang tua saat ini mungkin agak cemas dalam menghadapi "tradisi" anak-anak mereka yang cenderung lebih suka berlama-lama dengan ponsel pintar atau laptop mereka daripada berdialog langsung atau bermain dengan teman-temannya. Namun realitas itu sudah hadir di depan mata, sejak serbuan teknologi internet dan multimedia di penghujung era 90-an. 

Tentu saja hal ini tidak perlu direspons secara berlebihan, sebaliknya harus diimbangi oleh sikap-sikap bijak kita selaku generasi pendahulu, yang penting adalah fahami dulu fenomenanya, baru kemudian kita mencari solusi terbaik agar generasi kedepan memiliki cukup pengetahuan mengenai plus-minus penggunaan instrument teknologi digital, seperti filosofi Jawa yang mengatakan "ojo kagetan lan ojo gumunan" alias tidak perlu terkaget-kaget tidak perlu pula terlampau terkagum kagum, melainkan biasa saja. Mac Prensky (2001) misalnya, membagi umat manusia era digital menjadi dua kelompok, yakni generasi digital immigrant dan digital native

Digital native adalah kelompok yang saat mulai belajar menulis sudah mengenal internet atau yang saat ini berada di bawah 27 tahun. Sedangkan digital immigrant adalah generasi yang mengenal dunia internet setelah mereka dewasa. Interaksi kedua generasi ini tentu berbeda, baik soal komunikasi, gaya gaul hingga karakter mereka di dunia maya, yang pastinya akan berimbas kepada kebiasaan-kebiasaan mereka sehari-hari, hal inilah yang sejak dini harus diantisipasi oleh para orang tua. 

Kendati tidak ada terminologi yang jelas atas kelompok-kelompok generasi sesuai dengan zaman kelahirannya, namun para peneliti kerap menggolongkannya berdasarkan fase perkembangan ilmu pengetahuan , teknologi serta budaya pada kurun waktu yang sama. Patut diingat pula bahwa pemahaman spiritual manusia juga memegang porsi sangat penting dalam hal menciptakan pembaruan persepsi-persepsi serta pencerahan bagi kehidupan umat manusia. 

Maka kemudian lahirlah istilah-istilah yang ditujukan kepada kelompok-kelompok antar generasi tersebut. Didalam berbagai literatur demografi telah banyak dibahas soal keberadaan generasi millenium atau yang kerap disebut sebagai generasi Y. Sebutan ini mengacu padagenerasi yang muncul setelah Generasi X (Generasi baby boomers). Ungkapan Generasi Y itu mulai dipakai pada editorial koran besar di Amerika Serikat bulan Agustus tahun 1993 yang pada mulanya  membahas para remaja yang  saat itu masih berusia sekitar 12--13 tahun, namun memiliki perilaku yang berbeda dengan Generasi X (Pramudianto, 2015). 

Kemudian perusahaan-perusahaan pada saat itu mulai mengelompokkan anak-anak yang lahir setelah tahun 1980-an sebagai anak-anak Generasi Y. Hingga saat ini, apabila kita membaca berbagai literatur yang mendiskusikan tentang Generasi Y, tidak pernah ada suatu kesepakatan kapan generasi ini dimulai. Sebagian literatur menetapkan bahwa mereka adalah generasi yang lahir di awal tahun 1980-an, namun banyak juga literatur yang menetapkan bahwa generasi ini lahir di awal, di tengah bahkan di akhir 1990-an. Tokoh seperti William Strauss dan Neil Howe's mengkategorikan Generasi Y sebagai mereka yang lahir pada 1982 hingga 1997. 

Sedangkan Generasi Z ialah Generasi Internetdi mana umur mereka yang paling tua sekarang ialah 17 tahun. Para orang tua generasi Y atau generasi milenium mungkin akan terkaget-kaget dengan perubahan pola pikir dan nilai-nilai yang dianut oleh anak-anak mereka. Hal yang umum terjadi setiap ada lompatan generasi. Tata nilai yang berubah jelas dipengaruhi oleh perkembangan budaya serta kemajuan teknologi. Demikian juga bagi mereka yang kini menjadi orang tua generasi masadepan (net gen) atau generasi Z. Selalu ada plus-minus di tiap kelompok generasi yang terus berkembang sebagai sebuah sunnatullah.  

Anak-anak yang kini masuk dalam kelompok generasi internet, jelas akan berbeda pola perilakunya dengan generasi Y dimana ayah dan ibu mereka hidup. Tahun 2000, William Strauss dan Neil Howe melakukan penelitian lalu menulis buku yang didekasikan kepada Generasi Y dengan diberi judul "Millennials Rising: The Next Great Generation"

Mereka sangat percaya bahwa semua orang yang lulus SMA sampai tahun 2000 nanti akan sangat berbeda dengan mereka yang lulus SMA sebelum dan sesudah masa itu, karena orang-orang pada masa itu menerima banyak perhatian dari media dan perkembangan politik yang mereka terima. Bahkan William Strauss dan Neil Howe berpendapat bahwa generasi ini akan menjadi generasi yang peduli akan masalah-masalah kemasyarakatan. Jean Twenge, dalam Generation Me (2007), mempunyai pendapat yang berbeda tentang Generasi Y. 

Menurutnya, Generasi Y dan bersama-sama Generasi X termasuk generasi yang diberi nama Generation Me atau angkatan usia yang sangat mementingkan diri sendiri (self-oriented). Ia berpendapat seperti ini, karena dari riset perilaku yang dilakukannya ia berkesimpulan bahwa generasi ini meningkat kecenderungan narcissism-nya, mereka perlu pengakuan lebih tinggi dari lingkungannya, aktualisasi diri yang cenderung berlebihan. Atas dasar pemahaman dan wawasan psikologi, tatanan budaya, aspek demografis serta trend ketergantungan pada teknologi digital itulah maka para orang tua masadepan akan lebih memiliki bekal kesiapan pendidikan keluarga yang lebih baik dan terarah, bukan sebaliknya memperlebar kesenjangan antar generasi (generation gap), dengan segala eksesnya seperti menyusutnya tradisi-tradisi baik lalu hanyut dalam tatanilai yang semakin absurd, mislead alias  menyimpang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, karena ketidaktahuan. 

Penggalan bait puitis ungkapan seorang pujangga besar India Kahlil Gibran diatas menyiratkan sebuah pesan bahwa realitas antar generasi dalam peradaban manusia itu selalu berbeda dan berubah, itu adalah sebuah keniscayaan. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta budaya turut andil dalam memengaruhi karakter manusia di di fase zamannya masing-masing dan tak bisa ditolak. 

Yang penting adalah seberapa berhasil orang tua saat ini mampu menjembatani kiprah anak anak mereka di era digital dengan nilai-nilai spiritual serta kemampuan logis untuk memilah dan memilih informasi yang mereka terima, harus ada keluwesan atau sikap sikap moderat untuk mendidik dengan efektif dan kreatif, bukan terlalu memanjakan mereka dengan fasilitas teknologi informasi semata dan bukan pula dengan memenjarakan atau mengisolasi mereka dari era gadget dan dunia cyber, karena itulah realitas generasi digital !. (*)