Mohon tunggu...
Rudy W
Rudy W Mohon Tunggu... Lainnya - dibuang sayang

Ngopi dulu ☕

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Apa Itu Fobia Matematika dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

9 Januari 2021   10:05 Diperbarui: 10 Januari 2021   08:01 342
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Belajar matematika rumit? (merdeka.com)

Ketika di sekolah, saya sendiri mengalami ketakutan dan bermasalah dengan pelajaran matematika ini. Karena menurut saya, persoalannya sangat rumit dan tidak dapat dimengerti sama sekali. Dari sudut nilai, saya selalu mendapatkan nilai yang rendah dalam pelajaran matematika ini, bahkan sudah terbiasa dengan nilai 0.

Apakah saya tergolong dalam fobia matematika, memang terasa ada "rasa angka-angka yang ruwet" jika melihat pelajaran matematika yang diajarkan di sekolah. Gurunya juga sepertinya tidak memperhatikan saya.

Belum kepikiran saat itu untuk berkonsultasi dengan Psikolog. Terasa sedih memang melihat teman-teman nampaknya tidak bermasalah dengan pelajaran matematika itu.

Tari mengatakan matematika diperlukan dalam hidup. Dari soal perhitungan dasar, seperti pertambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian.

Ucapan dari Tari ini sangat menyentuh hati. "Jika fobia ini tidak diatasi, maka seorang anak tidak akan mempunyai pengalaman berhasil dalam matematika, sehingga si anak tidak akan mengerti pentingnya belajar matematika,".

Saat-saat paling menentukan adalah pada saat anak duduk di kelas 3-4 SD. Pengalaman yang tidak menyenangkan di masa-masa itu akan terbawa sampai si anak dewasa.

Tari mengatakan seorang anak bisa mengalami mimpi buruk sebelum menghadapi pelajaran matematika atau nafsu makannya berkurang dan murung. Itulah fobia.

Dalam mengatasi fobia yang pertama adalah menerima dulu apa yang menjadi kenyataan si anak terhadap sesuatu. Kemudian mengatur taktik agar si anak merasa rileks. 

Dalam hal fobia matematika si anak bisa saja terpicu rasa takutnya ketika melihat gambar atau lukisan yang bergaris-garis. Untuk itu harus diupayakan agar si anak merasa rileks ketika akan melihat gambar yang bergaris-garis itu. Dalam hal ini, guru matematikanya bisa saja memakai baju yang bergaris-garis.

Membangun relasi dengan murid, juga diperlukan seorang guru. Maka dengan demikian, guru tahu betul bagaimana harus berinteraksi dengan muridnya.

Bukannya apa yang disebut dengan fobia matematika itu tidak dipahami para pihak pendidik. Jika dulu memang ditemukan kasus itu, seiring dengan kemajuan jaman, juga dalam hal pendidikan, lantas kemudian bermunculan metode belajar matematika yang terasa lebih menyenangkan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun