Mohon tunggu...
Rudy W
Rudy W Mohon Tunggu... Lainnya - dibuang sayang

Ngopi dulu ☕

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Selamat Jalan Mbah Lindu, Penjual Gudeg Legendaris di Jogja yang Meninggal dalam Usia 100 Tahun

14 Juli 2020   09:02 Diperbarui: 14 Juli 2020   09:10 315
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Selamat jalan, Mbah Lindu (food.detik.com)

"Beliau sempat bercerita apabila tiada (meninggal) beliau ingin dipikul kerandanya dan diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir oleh anak cucu," kata Ratiyah (54) anak dari penjual gudeg legendaris Mbah Lindu.

Mudiati juga mengulangi pesan Mbah Lindu  agar semua anak cucunya rukun guyup. "Sebenarnya tidak ada pesan apa-apa menjelang beliau wafat,".

Sosok yang ramah Mbah Lindu atau Biyem Setyo Utomo kini tinggal kenangan. Beliau telah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa pada hari Minggu (12/7/2020) sekitar pukul 17.55 WIB.

Mudiati (62) keponakan Mbah Lindu menjelaskan penyebab meninggalnya Mbah Lindu karena usia tuanya. 

"Usianya sudah lebih dari 100 tahun," kata Mudiati, Minggu (12/7/2020) di rumah duka Klebengan, Sleman.

Banyak orang merasa kehilangan dengan dengan sosok beliau.

Pada 6 Juni lalu, beliau terjatuh ketika hendak berjalan ke dapur. Mbah Lindu dibawa dan dirawat di RS Panti Rapih Yogyakarta selama dua hari. Setelahnya beliau diperbolehkan pulang.

Semula Mbah Lindu masih mau makan dan minum seperti biasanya. Akan tetapi tiga hari terakhir, kendati masih mau minum, tapi nafsu makannya berkurang.

Dan akhirnya, Mbah Lindu pun berpulang.

Bukan hanya wisatawan lokal yang kesengsem dengan gudeg Mbah Lindu, banyak turis mancanegara juga singgah untuk mencicipi gudeg beliau.

Keseharian Mbah Lindu menjual gudegnya di Jalan Sosrowijayan. Tepat di samping Hotel Grage ada sebuah pos ronda, di sinilah Mbah Lindu menjual gudegnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun