Mohon tunggu...
Rudy W
Rudy W Mohon Tunggu... Lainnya - dibuang sayang

Ngopi dulu ☕

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Paskah dan Usai Pesta Demokrasi

19 April 2019   05:00 Diperbarui: 19 April 2019   05:02 220
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mgr. Ignatius menghimbau agar kita kembali ke watak bangsa Indonesia yang cinta damai (mirifica.net)

Acara-acara yang digelar untuk peringatan Paskah yang berkaitan dengan telur itu antara lain menghias telur-telur itu dengan mencoret-coret atau menggambar hiasan berwarna-warni dengan menggunakan spidol atau alat pewarna lainnya.

Selain itu, ada juga lomba untuk mencari telur-telur. Telur-telur yang sudah matang dan direbus oleh panitia disembunyikan di beberapa sudut tempat yang tersembunyi. Telur-telur itu bisa disembunyikan di bawah tumpukan rumput, di balik batu, di atas pohon, di balik kayu, dsb.

Sekelompok anak-anak lantas disuruh untuk mencari keberadaan telur-telur itu.

Anak-anak yang mendapatkan telur-telur tersebut boleh menjadikan telur-telur itu menjadi miliknya, dan boleh dikonsumsi.

Siapa yang juara, paling banyak memperoleh telur-telur itu?

Pada abad ke 19 ada legenda seekor kelinci menghiasi, meletakkan, dan menyembunyikan telur-telur.

Kelinci menjadi lambang kehidupan yang baru. Karena kelinci umumnya melahirkan bayi.

Selain kelinci, di Jerman telur-telur Paskah itu diantarkan oleh Rubah. Sedangkan di Swiss, oleh burung Elang.

Baru saja, bangsa Indonesia merayakan pesta demokrasi. Dua hari berselang, umat Kristiani memperingati Hari Raya Paskah, Jum'at, 19 April 2019.

Dalam kaitan itu, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) bersyukur bahwa kontestasi untuk pemilu Pilpres dan Pileg serentak berlangsung dengan damai, tertib, dan lancar.

Ketua KWI, Mgr. Ignatius Surharyo, mengatakan usai pesta, kerukunan dan persatuan harus tetap dijaga dan dipertahankan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun