Rudy Gani
Rudy Gani

Merupakan seorang pemuda yang berdedikasi pada isu kemasyarakatan, sosial, politik, ekonomi dan budaya.\r\n\r\nAktif di HMI sebagai anggota dan sempat diberi amanah sebagai Ketua Umum Badko HMI 2010-2012.\r\n\r\nkini, sehari-hari menjadi jurnalis dan freelance di media Online dan beberapa koran cetak baik lokal dan nasional\r\n\r\ndapat dihubungi melalui email: pemudatebet@gmail.com / rudygani@berkata.co.id or follow @Rudygani

Selanjutnya

Tutup

Politik

Perlukah Negara Membebaskan Kepemilikan Senjata Api?

23 Mei 2016   17:13 Diperbarui: 23 Mei 2016   18:22 306 0 2

Amerika Serikat adalah negara yang melegalkan penjualan senjata dan amunisi bagi warganya. Bahkan, tidak tanggung-tanggung. Lgalitas perdagangan senjata itu termaktub dalam konstitusi ala negeri Paman Sam tersebut.

Alhasil, para warganya, tentu dengan syarat ketat diperbolehkan memiliki senjata dan amunisi.

Jepang, negara maju yang terletak di Asia berbeda dengan Amerika Serikat.

Negara para "Samurai" ini menolak dengan keras legalitas senjata dan amunisi bagi warganya.

Maka, ketika anda pergi ke Jepang,tentunya anda tidak akan menemukan penjual senjata (legal) dan amunisi di negara penganut kekaisaran tersebut.

Dua negara ini tentu saja penulis maksudkan untuk dijadikan contoh bagaimana negara melegalkan dan melarang penjualan senjata api.

Amerika Serikat membebaskan warganya dengan syarat yang cukup ketat.

Sedangkan Jepang, sama sekali melarang keras penjualan senjata api.

Nah, berkaitan dengan kedua contoh negara itu, maka penulis mencoba melihatnya dalam konteks Indonesia hari ini.

Bagaimana pemerintah/negara Indonesia memandang legalitas kepemilikan senjata bagi warga sipilnya? apakah perlu negara memberikan legalitas bagi warganya untuk memiliki senjata api guna melindungi diri mereka dari bahaya kejahatan yang setiap waktu mengancam???

Indonesia sebenarnya sudah mengatur tentang kepemilikan senjata api.

Aturan itu dikeluarkan oleh pihak Kepolisiaan melalui sebuah surat keputusan.

Hanya saja, kepemilikan senjata secara legal masih terbatas pada golongan tertentu saja.

Selain itu, untuk mendapatkannya bukan perkara mudah. Harus dengan syarat dan prosedur yang lumayan ketat.

Belajar dari Eno

Pasca meninggalnya Eno, gadis muda pekerja pabrik di Tangerang, Banten. Beberapa poin penting sebenarnya dapat kita cermati. Masyarakat Indonesia begitu tersentak dengan "cara" penjahat itu menghabisi nyawa Eno.

Setelah diperkosa, gadis yang tak berdosa itu, dibunuh menggunakan benda tumpul bernama cangkul yang dimasukkan penjahat berwatak iblis itu ke alat vital Eno.

Eno pun seketika langsung meregang nyawa. Karena bukan saja alat vital Eno yang rusak. Tetapi bagian dalam perut Eno seperti usus dan paru-paru rusak dan hancur.

Selang beberapa waktu. Alhamdulillah/puji Tuhan, Polisi akhirnya menangkap ketiga pelaku pembunuhan "sadis, kejam dan brengsek" itu.

Dari tiga pelaku tersebut, satu diantaranya masih di bawah umur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3