Mohon tunggu...
Rudi Haryono
Rudi Haryono Mohon Tunggu... Dosen STKIP Muhammadiyah Bogor - Mahasiswa S3 Linguistik Terapan Bahasa Inggris Unika Atma Jaya Jakarta -Pegiat Kepemudaan

Educator, Sociopreneur, Youth Enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan

Malam Malam Terakhir dan Revolusi Ruhaniyah

8 Mei 2021   04:04 Diperbarui: 8 Mei 2021   04:28 176 3 1 Mohon Tunggu...

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi akan usai. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Waktu yang berlalu begitu cepat tersebut dikarenakan begitu sibuknya dan padatnya kegiatan yang kita lakukan serta rutinitas keluarga, pekerjaan, sosial dan lainnya. Sejatinya, kesibukan tersebut tidak lantas melupakan kita untuk tetap stay tune dengan merawat kondisi ruhaniya dengan terus berusaha melakukan kesungguhan (mujahada) dan proses pendekatan (taqarrub) kepada Allah swt. Sesibuk apapun kita dalam beraktifitas, sejatinya ada saat atau momentum untuk terus mengasah kecerdasan spiritual dengan terus senantiasa mejadikan setiap aktifitas yang kita lakukan dengan motif beribadah kepada Allah swt. Mengasah kecerdasan spiritual dengan terus berupaya melakukan intensitas amalan hidup yang lebih baik, lebih peka atau sensitif akan perintah dan larangan Allah swt. Berusaha menjadikan setiap detak detik yang berbunyi dengan terus mengingat Allah swt,melakukan rutinitas ibadah dalam pusaran kebaikan dan amal sholeh. 

Malam malam terakhir Ramadhan adalah saat terbaik untuk melakukan muhasabah dan evaluasi personal atas berbagai lintasan peristiwa, pengalaman, dan hikmah dari sekian lama rentang usia kita yang terus berkurang dan semakin menuju ufuk perpisahan yang bernama kematian. Sebuah peristiwa individual yang dialami oleh setiap jiwa yang memiliki nyawa. Malam malam terakhir Ramadhan sejatinya kita jadikan momentum untuk sebuah refleksi kehidupan untuk merenungi tugas kehambaan sebagai hamba Allah ('abdullah) dan fungsi kepemimpinan/khalifah sebagai hamba yang diamanati Allah swt untuk mengelola dan memakmurkan bumi-Nya. Menakar kualitas timbangan kebaikan dan keburukan dalam bingkai interaksi sosial sesama manusia (hablumminannas) dan interaksi hubungan personal kepada Allah swt (hablumminallah). Menakar bobot timbangan atau neraca kolektif  antara dosa dan pahala. Mengingat kembali asal usul kita, dari mana kita berasal, apa yang sedang kita lakukan dan akan kemana kita akan kembali. Seluruh proses awal sampai akhir tersebut sudah dipandu sedemikian rupa secara detil oleh Allah swt dan Rasul-Nya dengan Kitabullah dan Hadits Rasulullah saw. 

Malam-malam terakhir Ramadhan juga sejatinya mejadi perenungan untuk kita bagaimana kualitas ibadah kita dan bagaimana respon atau perlakuan kita terhadap bulan Ramadhan. Terhadap malam-malamnya, terhadap waktu pagi dan petangnya.  Sudahkah kita memanfaatkan potensi dan " tawaran" keutamaan puasa dari Allah swt tersebut dengan bersungguh-sungguh, ataukah tetap saja memberlakukan Ramadhan sama saja, tidak ada yang istimewa di tengah-tengan rutinitas dan kesibukan duniawi. 

Malam malam terakhir Ramadhan, sejatinya kita semakin dapat melakukan proses abstraksi kehidupan. Hal tersebut dimaknai secara sederhananya sebagai sebuah kondisi dimana kita tidak menjadikan materi dalam kehidupan sebagai satu-satunya tujuan (goal) untuk memenuhi kepuasan, kenikmatan hidup, dengan melakukan hal apapun tanpa memperdulikan haram halal sebuah perbuatan. Lebih dapat memandang sebuah hal perspektif keakheratan, menukarkan dunia untuk akherat. Menjadi manusia cerdas dengan senantiasa mengingat kematian sebagai pemutus kenikmatan dunia, pemutus seluruh mimpi dan harapan. Tidak hanya mengingat kematian, tapi juga mempersiapkan bekal kematian, menghayati kematian, dan dalam setiap waktu terus berupaya menjadi manusia paripurna, tentu bukan zero dari dosa, tapi bagaimana menjadikan setiap saat sebagai sebuah kesempatan untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan dan kualitas ibadah kepada Allah swt. 

Malam malam terakhir Ramadhan, siapakah yang bisa menjamin tahun depan kita masih bertemu dengan Ramadhan 1443? Betapa banyak saudara atau tetangga kita yang sudah meninggal kemarin-kemarin dan tidak sempat "berlebaran" esok hari. Mari jadikan malam-malam terakhir Ramadhan dengan mengencangkan ikat pinggang, membuang kemalasan, banyak terjaga di malam hari dalam proses kegiatan dzikir dan berdoa di waktu malam hari yang mustajab. Tidak disibukkan dengan urusan dunia yang tidak berkesudahan dan tidak ada rasa puasnya. Karena memang kepuasan sejati itu atau dalam hal yang sifatnya abstrak, bukan materi. Kepuasan dan ketenangan hidup itu berada dalam kesabaran dan kesyukuran, dua password kehidupan terbaik yang harus selalu kita ingat. Semoga kita semua dapat menjadikan malam-malam terakhir Ramadhan yang didalamnya terdapat malam Lailatul Qadr dengan mengisinya dengan berbagai amalan yang dianjurkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Insya Allah. Aamiin. 

VIDEO PILIHAN