Mohon tunggu...
Rudi Haryono
Rudi Haryono Mohon Tunggu... Dosen STKIP Muhammadiyah Bogor - Mahasiswa S3 Linguistik Terapan Bahasa Inggris Unika Atma Jaya Jakarta -Pegiat Kepemudaan

Educator, Sociopreneur, Youth Enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Hardiknas: Belajar vs Pandemi

2 Mei 2021   22:19 Diperbarui: 2 Mei 2021   22:32 125 3 0 Mohon Tunggu...

Hari Pendidikan Nasional kembali diperingati setiap tanggal 2 Mei. Setiap peringatan Hardiknas pula variasi aspirasi dan ekspresi publik beraneka warna menyoroti isu dan masalah pendidikan yang tidak pernah habis di negeri tercinta, tentu tanpa menafikan progress atau kemajuan yang sudah diraih. Setahun lebih sudah kontak interaksi siswa dan guru serta kohesifitas warga sekolah dibatasi karena pandemi Covid-19 yang juga belum berakhir. 

Kerinduan akan bersekolah dengan interaksi belajar normal semakin menggebu, membayangkan kelas-kelas yang sudah kosong hampir  setahun lamanya, riuh rendah suasana belajar di kelas dan gelak canda tawa di sekolah di antara sesama teman sekolah, kini menjadi hal yang semakin dirindukan. 

Tak aneh rasanya tuntutan dan keinginan sebagian orang tua siswa yang ingin agar pembelajaran tatap muka kembali diadakan walaupun hal tersebut masih belum dapat dilakukan mengingat grafik pandemi yang belum melandai dan juga bagian dari antisipasi penyebaran Covid-19 yang terus bergerak. 

Saat ini ramai dan trending, meme di medsos dan grup Whatsapp, meme yang membandingkan keramaian (crowd) masyarakat sedang ramai belanja, pasar, tempat wisata, dan mall yang mulai secara perlahan dibuka dengan terbatas. Ada kecemburuan mengapa sekolah belum juga dibuka? Sementara tempat tempat publik lainnya sudah mulai dibuka. 

Tentunya bukan sebuah komparasi yang  pas ketika kerumunan tempat-tempat publik yang mulai dibuka dengan sekolah yang masih ditutup (pembelajaran tatap muka). 

Sekolah sebagai sebuah insitusi pendidikan mempunyai spektrum perspektif tersendiri sebagai sebuah lembaga pendidikan, bukan tempat publik yang sifatnya ekonomis, wisata dan bebas mobilitasnya. 

Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan "dibatasi secara ketat" oleh regulasi yang melibatkan banyak faktor atau unsur stakeholders yang berkaitan secara sistem. 

Sekolah sebagai sebuah sistem "terikat" baik secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal sekolah memiliki regulasi yang harus dipatuhi secara perundang-undangan dan mengikat, dan secara horizontal  terikat dengan reputasi dan tanggung jawab kepada unsur keluarga dan masyarakat. 

Sebuah sekolah yang coba-coba memaksakan untuk melakukakan pembelajaran tatap muka harus benar-benar siap secara aturan protokol kesehatan baik secara aturan intenal maupun eksternal.  

Tidak mudah memang antisipasinya, implementasi protokol kesehatan yang ketat dan baik di sekolah, belum menjamin siswa untuk juga patuh ketika di luar sekolah, berkendara, bermain dan berinteraksi bersama teman sekelasnya dan mobilitasnya yang tidak dapat dipantau secara maksimal untuk mencegah terpapar Coviod-19. 

Penguatan Literasi Digital

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN