Mohon tunggu...
Faiz Badridduja
Faiz Badridduja Mohon Tunggu... Mahasiswa

menyukai sejarah, sastra dan studi-studi keislaman

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Literasi Psikologi dalam Pandangan Filsuf Yunani Kuno

26 Oktober 2020   06:30 Diperbarui: 26 Oktober 2020   07:20 260 0 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Literasi Psikologi dalam Pandangan Filsuf Yunani Kuno
pexels.com

Psikologi -menurut Alan Porter- merupakan salah satu sains yang masih relatif amat muda, dimana ia baru muncul sebagai disiplin ilmu yang independen pada kuartal terakhir abad kesembilan belas yakni 1879 berkat penelitian empiris yang dilakukan Wilhelm Wundt serta kontribusi penting beliau dalam mendirikan Institute for Experimental Psychology di Universitas Leipzig, Jerman dan memimpin supervisi terhadap seluruh generasi mahasiswa Ph.D dari seluruh dunia di kampus itu untuk mendirikan laboratorium-laboratorium psikologi eksperimental mereka sendiri setelah mereka pulang ke negara mereka sendiri, seperti di Amerika Serikat, Inggris dan Perancis.

Tahun 1908, Hermann Ebbinghaus -seorang psikolog eksperimental- menulis di bagian awal bukunya yang berjudul Psychology : An Elementary Text-book bahwa “Psikologi memiliki masa lalu yang panjang, tapi sejarah riilnya amat singkat”, maksudnya ialah pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat manusia telah sejak lama diajukan oleh para failasuf, teolog, pedagog (ahli pendidikan), dokter, ahli biologi, ahli bedah dll, sedangkan “sejarah riil” singkat itu bermula dari sejarah psikologi modern sampai sekarang, “masa lalu yang panjang” inilah yang akan kita bedah.

Para Filsuf telah lama memulai proses pemikiran mereka tentang aspek-aspek psikis pada manusia meski saat itu belum dikenal dengan istilah psikologi. Mereka hanya menggunakan metode yang tersedia saat itu yakni analisis logis, lalu mengembangkan penjelasan tentang apa itu jiwa, proses kejadiannya serta fungsi dan sifatnya.

Thales (624-548 SM), yang dianggap sebagai bapak filsafat, mengartikan jiwa sebagai sesuatu yang supernatural dan menyimpulkan bahwa jiwa itu tidak ada, karena –menurutnya- yang ada di alam ini hanya gejala-gejala alam (natural phenomena), serta semua gejala alam berasal dari air.

Anaximander (611-546 SM) yang berpendapat bahwa segala sesuatu itu berasal dari apeiron yang bermakna “tak terbatas, tak berbentuk dan tak bisa mati” dimana zaman sekarang dikenal sebagai konsep tentang tuhan oleh para teolog, berdasarkan pada pendapatnya itu, ia menyimpulkan bahwa jiwa itu ada (exist).

Anaximenes (490-430 SM) berpendapat bahwa segala sesuatu berasal dari udara, dengan cara analisis logis yang sama dengan Anaximander ia-pun menyimpulkan bahwa jiwa itu ada.

Empedokles (490-430 SM) lebih kongkret memaknai jiwa, ia menyatakan bahwa ada empat elemen dasar alam yaitu tanah, air, api, dan udara, sedangkan manusia –dengan analogi yang sama- terdiri dari (a) tulang, otot, dan usus dari tanah, (b) fungsi hidup dari udara, (c) rasio dari api, (d) dan cairan tubuh dari air.

Hipokrates (460-375 SM) yang terkenal dengan sebutan Bapak Kedokteran, ia menganggap bahwa jiwa manusia dapat digolongkan ke dalam empat tipe kepribadian berdasarkan pada cairan yang dominan dalam tubuhnya, yakni (a) tipe sanguine atau periang yang didominasi oleh cairan darah, (b) tipe melankolis atau pemurung yang didominasi oleh cairan sumsum hitam, (c) tipe kolerik atau cepat tanggap dan responsif aktif yang didominasi oleh cairan sumsum kuning, (d) tipe flegmatis atau lamban dan responsif pasif yang didominasi oleh cairan lendir.

Sokrates (469-399 SM) yang memperkenalkan metode maeutics yakni wawancara untuk memancing keluar pikiran-pikiran seseorang, ia meyakini bahwa pikiran-pikiran itu mencerminkan keberadaan jiwa di balik tubuh material manusia.

Plato (427-347 SM) memandang aspek psikis manusia yang disebut jiwa itu bersifat immaterial, karena sudah ada (exist) sejak manusia di dalam kandungan atau alam sensoris, lalu terdapat tiga aspek dalam tubuh manusia itu yakni (a) logiticon atau akal yang berfungsi untuk berfikir dan terletak atau berpusat di otak, (b) thumeticon atau rasa yang berfungsi untuk merasakan dan terletak atau berpusat di dada, (c) abdomen atau kehendak yang berfungsi untuk berkeinginan dan terletak atau berpusat di perut. Tiga aspek ini dikenal dengan istilah Trichotomi yang menurut Plato mendasari semua kegiatan kejiwaan dan perilaku manusia. 

Trichotomi –menurut Sarlito W Sarwono- ini mirip dengan konsep jiwa dalam pandangan Ki Hajar Dewantara atau Soewardi Soerjaningrat bahwa jiwa terdiri dari Cipta, Rasa, dan Karsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN