Mohon tunggu...
Ronny Rachman Noor
Ronny Rachman Noor Mohon Tunggu... Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Jalan Panjang Penemuan Obat Covid-19 akankah Segera Berakhir?

2 Juni 2020   10:36 Diperbarui: 2 Juni 2020   10:52 181 24 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jalan Panjang Penemuan  Obat Covid-19 akankah Segera Berakhir?
Hydroxychloroquine salah satu obat lama yang diujicobakan. Sumber: AP: Rafiq Maqbool

Ketika pakar Kesehatan terperangah mendengar pengakuan Presiden Trump bahwa dirinya telah mengkonsumsi Hydroxychloroquine yang selama ini digunakan untuk pengobatan malaria untuk mencegah terjangkit Covid-19,  timbul pertanyaan yang mendasar mengapa berbagai obat obatan yang sudah lama digunakan untuk penyakit lain selama  ini kini dicobakan untuk menyembuhkan penderita Covid-19?

Tidak hanya Hydroxychloroquine,  Remdesivir yang juga selama ini digunakan sebagai anti virus untuk penyakit lainnya yang disebabkan oleh virus. Jepang misalnya juga mengujicobakan Avigan yang merupakan obat flu yang selama ini sidah umum digunakan.

Uji Coba

Belum adanya pengobatan standar bagi penderita Covid-19 menimbulkan pertanyaan  mengapa  para pakar  pengobatan dan kesehatan seolah olah  tampak sedang melakukan coba coba?

Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, karena menurut publikasi  terbaru di  the journal Science Translational Medicine menunjukkan bahwa  sejak merebaknya Covid 19 paling tidak sudah dicobakan 200 obat obatan termasuk hydroxychloroquine, remdesivir  dan Avigan yang disebutkan di atas.

Obat obatan ini telah diujicobakan melalui 1.100 percobaan dan penelitiian di seluruh dunia.  Bahkan badan Kesehatan dunia WHO mencobakan dalam sekala besar beberapa obat obatan yang sudah ada ini.

Pertanyaan yang paling mendasar bagi kita semua adalah mengapa sampai saat ini belum ditemukan obat yang jitu untuk menyembuhkan penderita Covid-19?

Belum ditemukanya obat untuk mengatasi Covid-19  sebenarnya dapat dimengerti secara Ilmiah karena obat obatan yang selama ini diujicobakan adalah obat obat lama yang diharapkan dapat efektif mengatasi Covid-19 yang lebih canggih dan kompleks.

Sebagian besar obat yang diujicobakan ini memang terbukti aman dan  efektif pada penderita penyakit tertentu seperti misalnya malaria dan rematik, HIV, namun ketika diuji cobakan pada pendeirta Covid 19 situasinya menjadi berbeda karena virus yang dihadapi berbeda alamiah, prilaku dan patogenitas nya.

Rumitnya meracik obat Covid-19

Menurut Prof Sharon Lewin dari Doherty Institute, Covid-19 lebih kompleks jika dibandingkan dengan virus HIV sekalipun karena menurutnya virus ini merusak sistem kekebalan tubuh penderita dengan cepat dengan tingkat kerusakan yang sangat besar dan berakibat fatal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x