Ronny Rachman Noor
Ronny Rachman Noor Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jejak Rasisme 90 Tahun Komik Tintin

11 Januari 2019   08:15 Diperbarui: 11 Januari 2019   20:01 546 20 7
Jejak Rasisme 90 Tahun Komik Tintin
Ilustrasi: SBS

Tahun ini tepatnya tanggal 10 Januari komik Tintin memasuki usianya yang ke 90.  Komik Tintin yang sebagian besar bercerita tentang petualanan ini dianggap oleh para pengamat komik sebagai komik lintas jaman  yang berhasil memikat hati pembacanya.

Disamping memecahkan misteri komik Tintin juga banyak bercerita tentang  fiksi sains, petualangan politik, keindahan, budaya dan masyarakat di berbagai  belahan dunia termasuk keindahan alamnya.

Komik Tintin yang merupakan karya kartunis Belgia bernama Georges Remi dengan nama pena Herge ini untuk pertama kalinya diterbitkan pada tanggal 10 January 1929 di koran Le Vingtime Sicle (The Twentieth Century) Belgia sebagai bagian suplemen yang diberi judul khusus  Le Petit Vingtime (The Little Twentieth).  Ketika itu komik ini memang ditujukan khusus untuk kalangan remaja.

Edisi Tintin tahun 1930. Sumber: uk.news.com
Edisi Tintin tahun 1930. Sumber: uk.news.com
Dalam perkembangannya kepopuleran  komik Tintin ini ternyata meledak dan  berhasil meraih simpati dari pembacanya sehingga menjadikannya sebagai komik terpopuler di Eropa dan dianggap sebagai komik lagendaris. Komik ini telah diterjemahkan ke dalam 70 bahasa dan telah terjual lebih dari 200 juta copy.

Jadi tidak heran memori pembaca yang terbuai dengan alur cerita seperti dalam seri Tintin in Tibet, Flight 714, Castafiore Emerald, Red Rackham's Treasure and Secret of the Unicorn, Seven Crystal Balls and Prisoners of the Sun dan  Destination Moon and Explorers on the Moon, Tintin in the Land of the Soviets,    misalnya masih melekat di memori pembacanya nya sampai saat ini.

Kepopuleran komik Tintin ini tidak hanya terbatas sebagai  karya komik saja namun telah diangkat dan sukses di radio, televisi, teater dan film layer lebar.

Jejak Rasisme

Namun dalam rangkaian seri ceritanya, komik Tintin dianggap oleh kalangan sebagai komik yang berisi unsur   rasisme yang pada intinya mengangkat superioritas  kulit putih di atas kulit berwarna.

Mungkin ketika dibuat cerita yang berbau rasisme ini tidak mendapatkan tanggapan yang berarti karena ketika itu jaman kolonialisme masih merajalela, namun di era modern seperti saat ini gambaran superior ras tertentu dianggap tidak layak lagi  karena dianggap merendahkan ras tertentu.

Sikap superior kaum penjajah ini juga dirasakan oleh bangsa Indonesia di era kolonialisme ketika masih dalam era penjajahan Belanda dimana inlander dianggap inferior.

Dalam perjalananya cerita tentang rasisme dalam komik Tintin  tidak hanya muncul sekali saja namun berkali kali, sehingga beberapa kalangan menganggap bahwa hal ini merupakan refleksi sikap rasisme si penulis komik.

Mungkin dari 24 seri komik Tintin ini beberapa seri menjadi perdebatan khusus karena bersinggungan dengan rasisme.  Sebagai contoh  "Tintin ini the Congo" banyak didiskusikan oleh pengamat karena dalam cerita ini ras Afrika digambarkan sebagai ras sangat terkebelakang.

Di dalam seri Tintin in the Congo memang digambarkan  bagaimana kolonialisme saat itu (tahun 1930 an) memotret orang Afrika sebagai orang yang malas dan  kekanak kanakan.

Salah satu adegan  dari komik tersebut menggambarkan Tintin tengah berkunjung ke sebuah sekolah misionaris dan berdiri di depan kelas sambil mengatakan "teman teman ku, hari ini saya akan bercerita tentang tanah leluhurmu tanah airmu Belgia".

salah satu adegan di Tintin in Congo. Sumber: Theglobeandmail.com
salah satu adegan di Tintin in Congo. Sumber: Theglobeandmail.com
Adegan di Tintin in Congo. Sumber: Tintin
Adegan di Tintin in Congo. Sumber: Tintin
adegan di Tintin in Congo. Sumber: The France 24 Observers
adegan di Tintin in Congo. Sumber: The France 24 Observers
Adegan di Tintin in Congo. Sumber: Wikipedia
Adegan di Tintin in Congo. Sumber: Wikipedia
Puncaknya seri komik Tintin yang berjudul Tintin in America diprotes keras di Winnipeg dan membuat komik ini untuk sementara tidak lagi dijual di  toko buku.

Di dalam seri Tintin in America digambarkan orang Indian sebagai orang yang terkebelakang  dan primitif dengan karakter sosok Indian yang mengacung  manggut-manggut sambil memegang  tomahawk dengan kata kata yang cenderung merendahkan.

Salah satu adegan di seri Tintin in America. Sumber: Theglobeandmail.com
Salah satu adegan di seri Tintin in America. Sumber: Theglobeandmail.com
Stereotipe penduduk asli Amerika di Tintin in America. Sumber:AHOMINA all of art
Stereotipe penduduk asli Amerika di Tintin in America. Sumber:AHOMINA all of art
Akibatnya  Tintin in Congo ditarik dari peredaran dan dari koleksi the Winnipeg Public Library sejak tahun 2006.

Terkait dengan hal ini  kreator Tintin Herge berargumentasi bahwa  dia merasa  memiliki kedekatan dengan orang-orang pribumi, karena dia lebih menyukai primitif.

Pandangan Herge terhadap rasisme ini tampaknya mulai berubah di tahun 1934  ketika dia mulai berteman dengan Chang Chong-Chen mahasiswa seni dari Tiongkok. Perubahan sikap ini sangat jelas telihat dari seri komiknya yang berjudul The Blue Lotus.

Salah satu adegan di The Blue Lotus. Sumber: Tintin Wiki - Fandom
Salah satu adegan di The Blue Lotus. Sumber: Tintin Wiki - Fandom

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2