Ronny Rachman Noor
Ronny Rachman Noor Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Cangkok Rahim, Asa Baru Wanita

6 Desember 2018   19:46 Diperbarui: 6 Desember 2018   21:18 282 13 4
Cangkok Rahim, Asa Baru Wanita
Bayi pertama di dunia yang lahir dari hasil pencangkokan rahim dengan donor wanita yang telah meninggal dunia. Photo: Hospital das Clnicas da Faculdade de Medicina da USP

Minggu ini dunia kedokteran kembali  dihebohkan  dengan pengumuman oleh ilmuwan Brazil keberhasilan pencakokan rahim dengan donor wanita yang telah meninggal dunia untuk pertama kalinya di dunia. Keberhasilan ini bukan hanya sampai keberhasilan mencangkokkan rahim saja namun berhasil dilahirkan bayi perempuan yang sehat dari pencangkokan ini (sumber).

Sebelumnya upaya untuk menggunakan uterus dari wanita yang meninggal dunia sudah pernah dicoba di berbagai negara sepertti Amerika, republik Czeh dan Turki, namun belum berhasil.

Keberhasilan pencangkokan uterus dari donor hidup memang sudah pernah dilakukan sebelumnya.  Untuk pertama kalinya pencangkokan rahim dengan menggunakan donor hidup  terjadi di Swedia di bulan September 2013 lalu. Sejak saat ini sudah tercatat 39 kali pencangkokan uterus dari donor hidup dan hanya 11 yang berhasil menghasilkan bayi.

Keberhasilan pencangkokan uterus dari donor yang sudah meninggal  menunjukkan bahwa uterus wanita yang sudah meninggal dapat digunakan dan dicangkokkan untuk mengatasi  permasalahan kesuburan wanita.

Masalah infertilitas pada wanita memang cukup mengkhawairkan karena persentasinya mencapai 10-15%.  Hal ini berarti bahwa satu dari 500 wanita mengalami abnormalitas Rahim akibat anomali  congenital, mengalami malfungsi, hysterectomy ataupun infeksi.

Sebelum era pencangkokan uterus ini, biasanya  penyelesaian masalah wanita yang mengalami masalah infertiltas ini dilakukan dengan mengadopsi anak atau menggunakan teknik bayi tabung dengan meminjam rahim wanita lain karena sangat terbatasnya donor hidup yang mau menyumbangkan uterusnya.

Proses pencangkokan dan kelahiran

Keberhasilan pecangkokan uterus dari donor yang sudah meninggal dunia ini bermula ketika seorang wanita berusia 32 tahun tidak  memiliki rahim akibat mengalami sindrom Mayer-Rokitansky-Kster-Hauser (MRKH).

Wanita ini pernah mencoba prosedur bayi tabung sekitar 4 bulan sebelum menjalani cangkok rahim di bulan September 2016 lalu dan menghasilkan 8 sel telur yang telah dibuahi dan diawetkan dengan menggunakan teknik penyimpanan di suhu sangat  rendah.

Donor  dalam pencangkokan rahim ini  adalah wanita berusia 45 tahun yang meninggal dunia akibat mengalami stroke yang menyebabkan subarachnoid haemorrhage.

Uterus dari donor yang sudah meninggal ini diangkat dan dicangkokkan melalui operasi yang memakan waktu 10,5 jam.  Operasi ini memang memerlukan waktu yang lama karena  harus menyambungkan uterus tersebut dengan vena, arteri, ligament dan saluran vagina agar uterus ini dapat berfungsi dengan baik.

Setelah menjalani operasi wanita ini mengalami perawatan intensif selama 2 hari dan selanjutnya dibawah pengawasan khusus tim dokter  selama 6 hari. 

Selama proses pencangkokan ini wanita tersebut harus mengkonsumsi 5 macam obat yang berfungsi untuk menekan kekebalan tubuhnya sehingga tidak ada penolakan rahim.  Di samping itu wanita ini diberi perlakuan pengobatan antimikroba, anti pembekuan darah dan aspirin selama perawatan.

Hal yang cukup menakjubkan adalah tidak adanya tanda tanda  penolakan uterus yang dicangkokan  setelah 5 bulan pasca pencangkokan dan mengalami menstruasi secara teratur.

Tujuh bulan pasca pencangkokan, sel telur yang telah dibuahi di tanamkan ke uterus wanita tersebut  dan menunjukkan kehamilan 10 hari kemudian.

Secara umum proses kehamilan yang dialami oleh wanita ini berjalan dengan sangat baik dan akhirnya setelah 35 minggu 3 hari wanita ini melahirkan bayi perempuan dengan merat 2,55 kg melalui bedah Caesar.

Bayi perempuan ini dilahirkan dari rahim hasil cangkok rahim. Photo:www.itv.com
Bayi perempuan ini dilahirkan dari rahim hasil cangkok rahim. Photo:www.itv.com
Keberhasilan pencakokan rahim yang sangat spektakuler   ini tentu saja menimbulkan asa baru bagi wanita yang memiliki kesulitan memperoleh anak dan juga kesulitan mencari donor rahim dari wanita yang masih hidup.

Jadi tidak berlebihan jika keberhasilan pencangkokan rahim dengan donor orang yang sudah meninggal dunia yang dipublikasikan  di The Lancet tanggal  4 desember 2018 lalu ini dianggap sebagai lompatan teknologi dalam bidang reproduksi manusia.

Rujukan:satu, dua, tiga