Rob Roy
Rob Roy profesional

Dharma Eva Hato Hanti

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Fallacy, Argumentum Auctoritatis

13 Oktober 2017   16:12 Diperbarui: 13 Oktober 2017   16:45 209 0 0
Fallacy, Argumentum Auctoritatis
Sumber: www.modifoke.info


Beberapa tahun ini berbagai pernyataan, ungkapan, ujaran, dan semacamnya, semakin masif mengemuka di sekitar kita. Paparan secara offlinemaupun online yang gegap-gempita. Udara yang tanpa sekat ini sudah terpolusi habis oleh penetrasi internet. Upaya kontinyu saling menyajikan serbaneka berita, fakta dan opini yang sering diikuti dengan uraian analisis yang relatif. Relativitas ini berkaitan erat dengan jenis otoritas (si pemasok-pengunggah-pembuat) dan argumen analisisnya.

Argumentum auctoritatis(alias argumentum ad verecundiam) adalah fallacyketika nilai penalaran ditentukan oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Sebuah gagasan, opini, atau analisis diterima sebagai kebenaran hanya karena dikemukakan oleh seseorang yang sudah terkenal karena keahliannya. Jadi kebenaran itu diterima bukan berdasarkan penalaran sebagaimana lazimnya.

"Ilmu pengetahuan berkembang dengan menguji hipotesis terhadap bukti yang ada yang diperoleh melalui eksperimen dan pengamatan alam. Hal ini tidak didasarkan pada kewenangan atau pendapat individu atau institusi." (Peer Review in Scientific Publications - 2011).

Berbagai jenis otoritas sebagaimana dikutip oleh para ahli logika dalam berbagai jenis argumen adalah: (1) ahli dalam bidang pengetahuan tertentu (otoritas kognitif atau epistemik); (2) individu atau institusi yang bergengsi atau berkuasa; (3) pejabat pemerintah, hukum atau administrasi; (4) kepala perkumpulan sosial, keluarga, agama, leluhur, dan seterusnya.

Relevansi atau kesesuaian (keahlian) otoritas dengan paparan serta argumen yang mendasari paparan tersebut adalah elemen penting yang perlu dipertimbangkan. Pengakuan dan penghindaran yang efektif dari pertimbangan ini harus didasarkan pada definisi yang memadai tentang ketepatan-ketidaktepatan, pantas-tidak pantas atau relevan-tidak relevan, dalam hal otoritas dan argumen. Mengembangkan kriteria relevansi untuk keragaman ini terbukti sangat efektif untuk menilai ada-tidak adanya fallacy: kesalahan atau kesesatan dalam penalaran.

"(Bobot) atau pengaruh yang melekat pada otoritas, bergantung pada: (1) tingkat kecerdasan relatif dan memadai dari orang yang bersangkutan; (2) tingkat probabilitas relatif dari orang yang sama; (3) kedekatan atau keterpencilan antara subjek pendapatnya dan pertanyaan (fakta) yang ada; dan (4) kesetiaan media, yang melaluinya, pendapat yang seharusnya disampaikan, termasuk kebenaran dan kelengkapan." (Jeremy Bentham, Handbook of Political Fallacies , ed. HA Larrabee - 1971).

KESESATAN

Secara logika, kesesatan dalam penalaran memiliki berbagai tipe. Namun secara garis besar dapat dibedakan dalam 2 kategori, yaitu kesesatan formal dan kesesatan material. Kesesatan formal terjadi karena pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logika terma dan proposisi dalam sebuah argumen. Contoh kesesatan formal, yang pernah diungkapkan seorang Pengacara, adalah hanya agamaku yang cocok dengan Sila Pertama Pancasila (agama yang lain tidak sesuai sehingga harus dibubarkan).  

Kesesatan material menyangkut isi (materi) penalaran. Bisa karena faktor bahasa (keliru/ tidak tepat) dan juga karena tidak adanya hubungan logis atau relevansi antara premis dan kesimpulan. Contoh, seorang Pejabat mengatakan bahwa OTT KPK yang seringkali dilakukan bisa membuat Pejabat Daerah akan habis. So what?

Pelajaran yang dapat dipetik dari uraian di atas adalah kesesatan dalam penalaran adalah keniscayaan dalam era sekarang yang disebut millennial, era tsunami informasi. Tidak perlu kaget karena berpikir logis membutuhkan energi dan semangat kerendahan hati yang mewujud kepada penghormatan atas pengetahuan dan pengalaman. Oleh karena itu, terhadap simpulan yang mengatakan "Tidak ada Tuhan" dari seorang Stephen Hawkings yang ahli kosmologi pun kita tidak perlu panik karena sang maestro itu bukanlah ahli agama.