Mohon tunggu...
Rumi Algar
Rumi Algar Mohon Tunggu...

Male. Hard worker, Smart, Energik, Supel, Familiar, dan lain-lain. No. Contact Person : 0813 1286 7298 & 082312951990.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Perkembangan Antara Teori dan Analisis Produksi dalam Islam

20 Mei 2013   13:11 Diperbarui: 24 Juni 2015   13:18 10097 3 1 Mohon Tunggu...

PERKEMBANGAN ANTARA TEORI DAN ANALISIS PRODUKSI DALAM ISLAM



DiSusun Oleh RUMI ALGAR

(Studi Dalam Teoritis dan Empiris Perekonomian Nasional)

A. Pendahuluan

Produksi adalah bagian terpenting dari ekonomi Islam bahkan dapat dikatakan sebagai salah satu dari rukun ekonomi disamping konsumsi, distribusi, redistribusi, infak dan sedekah. Karena produksi adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan barang dan jasa yang kemudian dimanfa’atkan oleh konsumen. Pada saat kebutuhan manusia masih sedikit dan sederhana, kegiatan produksi dan konsumsi dapat dilakukan dengan manusia secara sendiri. Artinya seseorang memproduksi barang/jasa kemudian dia mengonsumsinya. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan beragamnya kebutuhan konsumsi serta keterbatasan sumber daya yang ada (kemampuannya), maka seseorang tidak dapat lagi menciptakan sendiri barang dan jasa yang dibutuhkannya, akan tetapi membutuhkan orang lain untuk menghasilkannya. Oleh karena itu kegiatan produksi dan konsumsi dilakukan oleh pihak-pihak yang berbeda. Dan untuk memperoleh efisiensi dan meningkatkan produktifitas lahirlah istilah spesialisasi produksi, diversifikasi produksi dan penggunaan tehnologi produksi.

Dalam Kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, saw. konsep produksi barang dan jasa dideskripsikan dengan istilah-istilah yang lebih dalam dan lebih luas. Al-Qur’an menekankan manfa’at dari barang yang diproduksi. Memproduski suatu barang harus mempunyai hubungan dengan kebutuhan hidup manusia. Berarti barang itu harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan bukannya untuk memproduksi barang mewah secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan manusia, karenanya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut dianggap tidak produktif. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an yang tidak memperbolehkan produksi barang-barang mewah yang berlebihan dalam keadaan apapun. (Afdzalurrahman, 1995; 193). Oleh karena itu, konsep produksi yang dianggap sebagai kerja produktif dalam Islam adalah proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang sangat dibutuhkan manusia. Dan kerja produktif semacam ini dapat diistilahkan sebagai ‘amal saleh’ yang mengandung banyak kemaslahatan dan keberkahan.

Maka dalam hal ini, prinsip fundamental yang harus diperhatikan dalam produksi adalah prinsip tercapainya kesejahteraan ekonomi. Selanjutnya Mannan menyatakan: “Dalam sistem produksi Islam, konsep kesejahteraan ekonomi digunakan dengan cara yang lebih luas, konsep kesejahteraan Islam terdiri dari bertambahnya pendapatan yang diakibatkan oleh meningkatnya produksi dari hanya barang-barang berfaedah melalui pemanfa’atan sumber-sumber daya secara maksimum baik manusia maupun benda demikian juga melalui ikut-sertanya jumlah maksimum orang dalam proses produksi”. (Eko Suprayitno; 2008: 178-179). Dengan demikian semakin bertambahnya income pendapatan manusia dan semakin banyaknya unsure manusia yang terlibat dalam kegiatan produksi maka kesejahteraan manusia akan dapat terwujud secara lebih luas. Oleh karena itu strategi yang yang tepat dalam peningkatan kesesajahteraan manusia adalah strategi kelayakan hidup manusia dalam istilah ekonomi Islam disebut dengan “Haddul kifayah”. Karena dalam batas minimal inilah ekonomi Islam dapat dikatakan berhasil sebagai ilmu yang dapat mengantarkan manusia menuju kesejahteraan hidup.

B. Definisi Produksi

Untuk mengetahui konsep produksi dalam ekonomi Islam, maka dalam hal ini kita akan membahas tentang definisi produksi secara esoteris dan eksoteris, kemudian teori produksi dalam Al-Qur’anul Karim dan Sunnah Nabi, saw. dan pendapat-pendapat para pemikir ekonom muslim sebagai berikut:

a. Produksi Secara Esoteris dan Eksoteris

Dalam mendefinisikan produksi Dr. M. Rawwas Qalahji memberikan padanan kata “produksi” dalam bahasa Arab dengan kata: “al-intaj” secara esoteris dimaknai dengan ijadu sil’atin (mewujudkan atau mengadakan sesuatu) atau khidmatu mu’ayyanatin bi istikhdami muzayyajin min anashiril intaji dhamina itharu zamanin muhaddadin (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan penggabungan unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia produksi diartikan dengan: “Menghasilkan barang dan jasa”. Hal senada juga dipaparkan oleh. Dr. Abdurrahman Yusri Ahmad dalam bukunya: “Muqaddimah Fi Ilmi al-Iqtishad al-Islami”. Abdurrahman lebih jauh menjelaskan bahwa dalam melakukan proses produksi yang dijadikan ukuran utamanya adalah nilai manfa’at (utility) yang diambil dari hasil produksi tersebut. Produksi dalam pandangannya harus mengacu pada value of utility dan masih dalam bingkai nilai “halal” serta tidak membahayakan bagi diri sendiri atau orang lain dan kelompok tertentu. Dalam hal ini, Abdurrahman merefleksi pemikirannya dengan mengacu pada QS. Al-Baqarah; 219 yang menjelaskan tentang pertanyaan dari manfa’at memproduksi khomer (minuman keras) yang mengindikasikan banyak madzaratnya dari manfa’atnya.

Secara eksoteris produksi dapat didefinisikan dengan usaha manusia untuk memperbaiki kondisi fisik material dan spiritual moralitasnya sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup sebagaimana digariskan dalam agama Islam, yaitu; kebahagiaan dunia dan akhirat. (Kahf; 1992). Sedangkan Mannan (1992) menekankan pentingnya motif altruisme bagi produsen yang Islami sehingga ia menyikapi dengan hati-hati konsep Pareto Optimality dan Given Demand Hypothesis yang banyak dijadikan sebagai konsep produksi dalam ekonomi konvensional. Sedangkan Rahman (1995) menekankan pentingnya keadilan dan pemerataan produksi (distribusi secara merata). Disisi lain Diyaul Haq (1996) menyatakan bahwa tujuan produksi adalah untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa yang menurutnya sebagai fardhu kifayah, yaitu kebutuhan pemenuhan bagi banyak orang yang hukumnya adalah wajib. Dan Siddiqi (1992) mendefinisikan kegiatan produksi sebagai penyediaan barang dan jasa dengan memperhatikan nilai keadilan dan kebajikan/kemanfa’atan (maslahah) bagi masyarakat. Dalam padangannya, sepanjang produsen telah bertindak adil dan membawa kebajikan bagi masyarakat maka ia telah bertindak Islami.

Apabila diperhatikan dari berbagai definisi-definisi di atas dapat dikerucutkan bahwa kegiatan produksi dalam perspektif ekonomi Islam adalah menempatkan manusia sebagai pusat perhatian produksi, meskipun definisi-definisi itu berusaha mengelaborasi dari perspektif yang berbeda. Kahf, contohnya memberikan tekanan pada tercapainya tujuan kegiatan produksi yang harus selaras dengan tujuan hidup manusia, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedangkan Mannan, secara tegas menolak terhadap konsep Pareto Optimality yang pada akhirnya memberikan kesimpulan dengan mempromosikan sebuah ide mengenai pentingnya distribusi alokatif yang lebih adil diantara manusia yaitu untuk mengangkat harkat hidup manusia. Sedangkan Rahman, menekankan pentingnya pemerataan produksi untuk mencapai kesejahteraan manusia. Sedangkan Al-Haq, menekankan sebuah justifikasi proses produksi yang hukumnya adalah wajib kifayah. Karena justifikasi ini dianggap penting untuk menjaga berlangsungnya kegiatan produksi sebagai jalan untuk mencapai kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat.

Dari berbagai definisi dan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kepentingan manusia yang sejalan dengan moral Islami haruslah menjadi target dan fokus kegiatan produksi, sehingga imbas dari produksi adalah untuk meningkatkan martabat dan eksistensi manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Maka produksi adalah proses mencari, mengalokasikan dan mengelola sumber daya ekonomi menjadi output dalam rangka meningkatkan maslahah bagi manusia. Dan oleh karena itu, produksi juga mencakup aspek tujuan kegiatan yang menghasilkan output serta karakter-karakter yang melekat pada proses dan hasilnya.

b. Teori Produksi Dalam Al-Qur’anil Karim

Allah, swt. akan menjamin pemenuhan rizki kepada semua hambanya, akan tetapi Allah, swt. pun memberi prasyarat untuk mendapatkan rizki ini harus dilakukan dengan usaha, karena rizki itu didapat dengan berusaha. Karena langit tidak akan berhujan emas ataupun perak, akan tetapi dengan usaha manusia yaitu dengan cara mengambil sebab (al-akhdzu bil asbab) untuk mendapatkan rizki ini, sebagaimana firman Allah, swt. QS. Al-Mulk; 15.

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (QS. 67: 15).

Para ulama’ mewajibkan bekerja bagi orang-orang yang mampu bekerja, statement ini disandarkan kepada firman Allah, swt. QS. Hud; 61:

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do'a hamba-Nya)". (QS. 11: 61).

Al-Jashash dalam “Ahkamul Qur’an”, menafsiri ayat ini (khususnya kata ista’marakum fiha) dengan memerintahkan kalian untuk membangun sesuai dengan yang dibutuhkannya. Hal ini menunjukkan kewajiban membangun bumi berupa: bercocok tanam, menyirami dan mendirikan bangunan”. Itu semua adalah bentuk kerja.

Dari ayat tersebut mengindikasikan bahwa Islam sangat mengharamkan semua bentuk pengangguran, karena pengangguran adalah bagian dari tanda-tanda keterbelakangan yang menghinggapi komunitas masyarakat. Islam memandang bekerja adalah kewajiban dan menjadi hak sekaligus. Sebagaimana hal ini dijelaskan Allah, swt. dalam firmannya QS. At-Taubah; 105:

“Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat perkerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan". (QS. 9: 105).

Ayat di atas menjelaskan kepada kita, menjadi wajib bagi semua manusia usia produktif untuk bekerja keras dengan memilih kerja yang sesuai dengan kompetensinya. Dalam memilih pekerjaan sangat dipertimbangkan sistem penggajian yang layak dengan usaha/pekerjaannya yaitu agar mendapatkan gaji yang sepadan, apabila hal itu tidak didapatkan, maka lebih baik berhijrah mencari tempat kerja yang lebih sesuai dengan usahanya. Maka dalam hal ini, negara harus membantu mencarikan/memposisikan warganya dalam mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang layak dalam rangka memerangi pengangguran dan kemiskinan sehingga ia mendapatkan pekerjaan yang halal sehingga kemiskinan akan cepat terentaskan.

Islam memandang bekerja adalah asas mendapatkan kekayaan dan sebagai dasar produksi untuk memenuhi kelaziman hidup individu atau kebutuhan-kebutuhan umum masyarakat. Oleh karena itu, berusaha mencari rizki dalam Al-Qur’an itu harus disertai dengan niat jihad fisabilillah agar dalam bekerja dilakukan secara optimal sehingga menghasilkan output produk yang berkualitas tinggi. Maka ayat tersebut menjelaskan kepada kita betapa pentingnya urgensi kerja dalam Islam sehingga harus diniatkan dengan jihad. Hal ini juga dijelaskan Allah, swt. dalam QS. Al-Muzammil; 20:

...Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur'an…” (QS. 73: 20).

Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa semua manusia adalah unsur produksi dan sebagai pekerja dalam kehidupan ini, dan ia bekerja seakan-akan menyembah kepada Allah, Azza wa Jalla. Karena berusaha mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya dalam waktu bersamaan, ia dapat memenuhi keinginan orang lain dan dapat mengabulkan kebutuhan-kebutuhan mereka, maka proses pengelolaan finansial untuk pembangunan dan produksi sangat menyerupai shalat atau ibadah fardhu yang mana manusia sangat mengharapkan pahalanya di akhirat dan keridha’an Sang Pencipta Allah, swt.

Imam Syaibani menjelaskan: “Sesungguhnya Allah mewajibkan kepada hambanya untuk mencari penghidupan agar dapat membantunya menjalankan keta’atan kepada Allah, swt”. Berkaitan dengan hal ini, Abu Dzar, ra. berkata ketika beliau ditanya laki-laki tentang pekerjaan-pekerjan yang paling mulia setelah keimanan. Dia menjawab: “Shalat dan makan roti”, kemudian laki-laki melihatnya dengan penuh keheranan. Kemudian Abu Dzar mengatakan: “Seandainya tidak ada roti (makanan), maka hamba Allah akan kelaparan”. Berarti: memakan makanan (roti) dapat meluruskan tulang pinggangnya sehingga ia dapat menunaikan keta’atan”.

Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah pekerjaan, maka wajib bagi muslim untuk bekerja secara optimal dan maksimal, sesuai dengan firman Allah, swt. QS. Al-Kahfi; 7: “…Agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. 18: 7). Maka bekerja yang optimal merupakan bagian dari pendekatan hamba kepada Tuhannya”.

Dan oleh karena itu, standar penerimaan para pegawai/karyawan dalam Islam adalah professional dan amanah, maka wajib untuk mengangkat orang yang terbaik, karena ini adalah amanah dan orang yang mencederainya adalah berhianat. Dalam hal ini, Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan hal tersebut sesuai dengan firman Allah, swt. QS. Al-Qasash; 26:

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS. 28: 26).

Ayat di atas mengandung nilai dasar: “Sebaiknya dalam memposisikan seseorang dalam jabatan tertentu itu dengan mengambil orang yang terbaik diantara manusia sekitarnya”. Karena sebuah jabatan/kekuasaan itu memiliki dua rukun: “professional dan amanah”. Begitu halnya nasehat ekonomi Abu Yusuf yang disampaikan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid tetang urgensi terpenuhinya sifat professionalisme dan amanah bagi orang-orang yang akan diposisikan dalam sebuah jabatan atau pekerjaan.

Oleh karena itu konsep profesionalisme dalam perspektif pemikiran Islam tidak hanya terbatas pada kekuatan fisik. Maka Ibnu Taimiyah menjelaskan dimensi-dimensi konsep profesionalisme dengan mengatakan: “Profesionalisme dalam semua hal”. Yaitu dengan terpenuhi kemampuan ilmiah, kemampuan kesehatan fisik, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan politik, tingkat pendidikan, tehnologi disamping dengan tercukupinya modal finansial yang digunakannya. Unsur-unsur itu semua merupakan unsur pembentuk kualitas produksi sumber daya insani (SDI).

Adapun konsep amanah mengandung ruh dan spiritualitas manusia yang diterapkan dalam prilakunya, karena prilaku manusia adalah perasaan spiritualitas (dzauqu ar-ruh). Hal ini sesuai dengan firman Allah, swt. QS. Al-Maidah; 44:

“… Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-oang yang kafir. (QS. 5: 44).

Ibnu Taimiyah menjelaskan substansi dari sifat amanah adalah: “Sifat takut kepada Allah dengan meninggalkan takut terhadap manusia”. Artinya adalah: tidak mengorbankan dasar-dasar agama dalam menjustifikasi kepentingan duniawi dan tetap merasa bertanggung jawab karena pengawasan Allah, swt. meliputi semua kerja dan amal manusia. Maka dalam bekerja itu harusdilakukan dengan cara yang ikhlas yang disertai dengan ahlak dan etika mulia dalam bekerja. Dengan demikian, sifat amanah memiliki urgensi yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan produksi pada sumber daya insani (SDI) .

Dari penjelasan di atas, kami menyimpulkan bahwa bekerja dan berproduksi hukumnya adalah wajib bagi manusia usia produktif sedangkan kompetensinya harus dilakukan secara ‘profesional dan amanah’ yang berlandaskan kepada tauhid yang kuat sebagai defends of intern pribadi manusia. Dari sini maka bekerja dan berproduksi dalam Islam itu berpegang teguh pada asas kepercayaan dan asas kapabalitas secara bersamaan. Maka ketersediaan SDI yang memiliki kualitas keilmuan, pengetahuan, pengalaman dan kemampuan untuk berinovasi dan berimprovisasi yang dibarengi dengan etika yang mulia merupakan prasyarat untuk menciptakan kemajuan pembangunan yang diharapkan.

Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang investasi adalah QS. Al-Kahfi; 34:

Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat".

Dari ayat diatas menjelaskan bahwa seseorang akan memiliki kekayaan yang besar tidak lain didapatkan melalu bekerja dan investasi. Ayat tersebut menggunakan kata bahasa Arab “samarun” yang berarti: hasil, keuntungan. Maka tidak lain keuntungan didapatkan kecuali melalui investasi. Karena bahasa Al-Qur’an tersebut menurut Prof. Dr. Syauqi Ahmad Dunya dalam bukunya: “Tamwilut Tanmiyah Fil Islam”, ada keuntungan pasti didapatkan melalui investasi karena investasi dalam bahasa Arab adalah ‘istasmara’ yang berarti menjadikan sesuatu mendapatkan keuntungan. Dengan demikian ayat tersebut berbicara masalah investasi, dan bagaimana cara sebuah sumber daya ekonomi dapat berkembang dan mendapatkan keuntungan yang besar sehingga kekayaannya menjadi besar dan banyak sesuai dengan teks ayat tersebut tidak lain salah satunya dengan melalui investasi.

Dengan demikian, dari penjelasan di atas dalam hal produksi Al-Qur’an berbicara masalah kerja dan investasi yang keduanya merupakan piranti untuk menghasilkan barang dan jasa. Yang menurut Al-Qur’an makna kerja dan investasi lebih dalam artinya karena keduanya memiliki makna dinamis dan bergerak sehingga lebih luas dan lebih dalam maknanya untuk mendorong manusia dapat mengelola aset modalnya dan mendapatkan pendapatan dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

c. Teori Produksi Dalam Sunnah Nabi, saw.

Dalam Sunnah Nabi, saw. menganjurkan umatnya untuk selalu bekerja dan berproduksi dalam rangka mencukupi kebutuhan matrial dan spiritualnya, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam Sabda Nabi, saw. sebagai berikut:

Rasulullah, saw. bersabda: “Ibadah itu ada sepuluh bagian, dan sembilan dari sepuluh bagian tersebut adalah mencari rizqi yang halal”.

Mencari rizki dalam bidang ekonomi mencakup semua pekerjaan yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mulai dari bertani, berindustri, usaha jasa dan lain sebagainya. Dalam perspektif Islam semua usaha itu masuk dalam katagori ibadah. Bahkan hal itu menempati 90 % dari ibadah. Karena bekerja yang produktif akan membantu manusia dalam menunaikan ibadah-ibadah wajib, seperti; shalat, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya, semua ibadah itu menempati 10 % dari ibadah. Bahkan Rasulullah, saw. mendorong untuk bekerja dan berproduksi serta melarang pengangguran walaupun manusia memiliki modal financial yang mencukupi, sebagaimana sabda Rasul, saw. menjelaskan sebagai berikut:

Rasulullah, saw. bersabda: “Yang paling pedih siksa manusia di hari kiamat adalah orang yang cukup yang menganggur”.

Hadis di atas sebagai landasan Imam Ja’far yang mengatakan kepada Mu’azd ketika ia tidak bekerja karena kecukupan financial dan menjadi kaya, dengan mengatakan: “Hai Mu’adz, apakah anda tidak bisa berdagang atau anda zuhud dalam hal itu?. Maka Mu’adz berkata: “Saya tidak berarti tidak bisa berdagang dan juga tidak zuhud. Karena saya memiliki banyak harta benda dan harta itu cukup sampai saya meninggal, kemudian Imam Ja’far berkata: “Jangan kau tinggalkan, karena hal itu akan menghilangkan nilai rasional anda”.

Rasulullah, saw. mendorong kepada umatnya untuk selalu berusaha dan mencari rizki di bumi. Karena tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Sebagaimana hal itu dijelaskan Rasul, saw. dalam sabdanya sebagai berikut:

Rasulullah, saw. bersabda: “Bekerja mencari kayu dengan membawanya di atas punggungya itu lebih baik daripada meminta kepada seseorang, mungkin akan diberi atau ditolak”. (HR. Bukhori).

Dalam hadis lain Rasul, saw. bersabda: “Sungguh sebagian dari dosa-dosa ada yang tidak dapat dilebur dengan shalat atau haji atau umrah, akan tetapi dapat dilebur dengan keprihatinan dalam mencari rizki”. (HR. Abu Dawud).

Rasulullah, saw. juga berpartisipasi dalam menggali parit pada perang Khandaq dan juga dalam pengumpulan kayu, beliau memakan makanan dari hasil jerih payah tangannya sendiri. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadisnya yang mengatakan:

Rasulullah, saw. bersabda: “Tidak ada yang lebih baik dari seseorang yang memakan makanan, kecuali jika makanan itu diperolehnya dari hasil jerih payahnya sendiri. Jika seorang dintara kamu mencari kayu bakar, kemudian mengumpulkan kayu itu dan mengikatnya dengan tali lantas memikulnya di punggungnya, sesungguhnya itu lebih baik ketimbang meminta-minta kepada orang lain”. (HR. Bukhori Muslim).

Sebaliknya Rasulullah, saw. sangat mencela seorang muslim yang pekerjaannya meminta-minta pada orang lain sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah, saw. sebagai berikut:

Rasulullah, saw. bersabda: “Barangsiapa membuka pintu bagi dirinya untuk meminta-minta, maka Allah akan membukakan pintu kemelaratan baginya”. (HR. Ahmad).

Disisi lain, selain Rasulullah, saw. mendorong umatnya untuk bekerja dan berproduksi, beliau juga menganjurkan umatnya untuk berinvestasi dan memberdayakan semua asetnya agar produktif dan menghasilkan keuntungan yang lebih sehingga dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Hal ini dijelaskan Rasulullah, saw. sebagai berikut:

Pada kesempatan lain, beliau menegur seorang yang malas dan meminta-minta, seraya menunjukkan kepadanya jalan ke arah kerja produktif. Rasulullah mengambil dua dirham dan memberikan kepada seorang laki-laki Anshar, dan berkata: “Satu dirham untuk membeli makanan dan berikan kepada keluargamu, dan satu dirham untuk membeli kapak, kemudian bawalah kemari”. Orang tersebut kemudian kembali kepada Rasulullah, saw. dengan membawa kapak, dan Rasulullah, saw. bersabda: “Pergilah mencari kayu, kemudian juallah kayu itu dan kamu jangan menampakkan dirimu di hadapanku selama lima belas hari”.

Dari hadis diatas menjelaskan kepada kita tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dengan cara pengelolaan modal finansial yang dimilikinya, yaitu Rasulullah, saw. memberikan dana konsumtif untuk pembiayaan rumah tangganya dan dana produktif yang dibelikan sarana ekonomi berupa kapak sehingga dengan alat produktif ini dapat digunakan untuk menghasilkan pendapatan dengan mencari dan menebang kayu bakar di tempat bebas dan ia menjualnya ke pasar. Sehingga hasil yang didapatkannya untuk pembiayaan dalam memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Beliau pun tidak hanya sekedar memberikan dana produktif yang dibelikan alat ekonomi produktif, akan tetapi beliau juga memposisikan dirinya sebagai pendamping usaha untuk memonitor kinerjanya dalam memastikan keberhasilan usaha orang Anshar tersebut. Sehingga memberikan output bahwa ia telah dapat mengubah nasibnya dari meminta-minta menjadi mandiri berkat pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh Rasulullah, saw..

Dalam hadis lain, menjelaskan bahwa Islam sangat memulyakan bagi orang yang bekerja keras dan ikhlas karena pekerja keras adalah wujud harga diri seseorang sehingga dengan saking muliyanya orang yang bekerja ini Rasulullah, saw. mencium tangan orang yang bekerja keras, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis Nabi, saw. sebagai berikut:

“Suatu ketika di Kota Madinah yang sedang hiruk-pikuk aktifitas ekonomi. Rasulullah, saw. mencium tagan salah seorang umatnya. Maklum karena ia seorang buruh yang terbiasa bekerja keras, tentu saja telapak tangannya sangat kasar. “inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya”, demikian seru beliau pada khalayak yang hadir di tempat itu”.

Dalam hadis Nabi, saw. sangat menganjurkan bekerja yang dibarengi dengan kejujuran bahkan beliau memberikan optimisme bahwa pedagang yang jujur akan masuk surga bersama para nabi, para syuhada’ dan orang-orang shaleh. Sebagaimana hadis Nabi, saw. menjelaskan sebagai berikut:

Dari Sofyan As-Sauri dari Abu Hamzah dari Abu Sa’id Rasulullah, saw. bersabda: “Pedagang yang jujur akan dikumpulkan di hari kiamat nanti bersama para nabi, orang-orang yang jujur dan para syuhada”. (HR. Tirmidzi).

d. Produksi Dalam Pemikiran Ekonomi Islam

Konsep produksi dalam perspektif pemikiran ekonomi Islam mengandung dua pengertian, yaitu bentuk pemikiran yang dihasilkan oleh para pemikir muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, saw. secara langsung atau sebuah pemikiran ekonomi produksi yang dihasilkan oleh para sarjana muslim. Akan tetapi keduanya akan menemui titik temu karena seorang sarjana muslim akan menelurkan teori produksinya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana sejarah pemikiran ekonomi yang dilakukan para ulama’ setelah sepeninggalnya Rasulullah, saw. juga merujuk langsung pada sumber hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, saw. akan tetapi dalam perkembangannya sejarah pemikiran produksi mengalami naik turun bersamaan dengan perkembangan peradaban umat Islam yang pada zaman kekhilafahan Islam pemikiran ekonomi mengalami kemajuan pesat, akan tetapi setelah runtuhnya kekhilafahan Islam yang pada saat bersamaan sistem kolonialisasi barat mensistemisasi pembodohan umat sehingga pemikiran ekonomi Islam tidak berkembang sehingga terjadi distorsi pemikiran ekonomi dan pada perkembangannya pemikiran para pemikir muslim telah terkontaminasi oleh pemikiran para pemikir ekonomi barat.

Para Pemikir Ekonomi Muslim Kontemporer

Banyak penulis berkeyakinan bahwa wilayah produksi tidaklah sesempit seperti yang dijadikan pegangan oleh kalangan ekonom konvensional yang hanya sekedar mengejar orientasi jangka pendek dengan materi sebagai titik acuannya dan memberikan peniadaan pada aspek produksi yang mempunyai orientasi jangka panjang. Selama ini yang kita fahami ketika membaca teks-teks buku ekonomi konvensional tidak jarang ditemukan adanya telaah terhadap kegiatan sebuah perusahaan untuk melakukan produksi dengan mengacu pada faktor produksi yang dimiliki oleh setiap perusahaan tersebut. Misal: perusahaan A akan mencapai tingkat produksi maksimal jika didukung oleh faktor produksi semacam modal (C), tenaga kerja (L), sumber daya alam (R), dan teknologi (T) yang difungsikan pada posisi yang optimal.

Dasar pemikiran yang dibangun dalam paradigma berfikir aliran konvensional dalam berproduksi adalah memaksimumkan keuntungan (maximizing of profit) dan meminimumkan biaya (minimizing of cost) yang pada dasarnya tidak melihat realita ekonomi dalam prakteknya berdasarkan pada kecukupan akan kebutuhan dan market imperfection yang berasosiasi dengan imperfect information. Hasil dari pencapaian produksi yang dilakukan oleh perusahaan konvensional adalah keinginan untuk mendapatkan profit (keuntungan) yang maksimal dengan cost (biaya) yang sedikit. Apa memungkinkan?. Gambaran di atas merupakan realita nyata yang terjadi di tataran aplikatif untuk melaksanakan teori produksi yang diacukan pada pemikiran konvensional.

Adapun aspek produksi yang berorientasi pada jangka panjang adalah sebuah paradigma berfikir yang didasarkan pada ajaran Islam yang melihat bahwa proses produksi dapat menjangkau makna yang lebih luas, tidak hanya pencapaian aspek yang bersifat materi-keduniaan tetapi sampai menembus batas cakrawala yang bersifat ruhani-keakheratan. Orang yang senantiasa menegakkan shalat dan melakukan ibadah lainnya merupakan wujud dari nilai produktifitas yang dilakukan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan ruhaninya. Seseorang yang betul-betul melaksanakan shalat dengan benar berarti ia telah melakukan aktifitas yang produktif yang selanjutnya akan membawa pada nilai lebih dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.

Ada sebuah permata dalam bukunya DR. Monzer Kahf yang berjudul: “The Islamic Economy; Analytical of The Functioning of The Islamic Economic System” yang menyebutkan bahwa: “Tingkat kesalehan seseorang mempunyai korelasi positif terhadap tingkat produksi yang dilakukannya. Jika seseorang semakin meningkat nilai kesalehannya maka nilai produktifitasnya juga semakin meningkat, begitu juga sebaliknya jika keshalehan seseorang itu dalam tahap degradasi maka akan berpengaruh pula pada pencapaian nilai produktifitas yang menurun.

Sebuah contoh: Seorang yang senantiasa terjaga untuk selalu menegakkan shalat berarti ia telah dianggap shaleh. Dalam posisi seperti ini, orang tersebut telah merasakan tingkat kepuasan bathin yang tinggi dan secara psikologi jiwanya telah mengalami ketenangan dalam menghadapi setiap permasalahan kehidupannya. Hal ini akan berpengaruh secara positif bagi tingkat produksi yang berjangka pendek, karena dengan hati yang tenang dan tidak ada gangguan-gangguan dalam jiwanya ia akan melakukan aktifitas produksinya dengan tenang pula dan akhirnya akan dicapai tingkat produksi yang diharapkannya.

Selama ini kesan yang terbangun dalam alam pikiran kebanyakan pelaku ekonomi –apalagi mereka yang berlatar belakang konvensional- melihat bahwa keshalehan seseorang merupakan hambatan dan rintangan untuk melakukan aktifitas produksi. Orang yang shaleh dalam pandangannya terkesan sebagai sosok orang pemalas yang waktunya hanya dihabiskan untuk beribadah dan tidak jarang menghiraukan aktifitas ekonomi yang dijalaninya. Akhirnya mereka mempunyai pemikiran negatif terhadap nilai kesalehan tersebut. Mengapa harus berbuat shaleh, sedangkan kesalehan tersebut hanya membawa kerugian (loss) bagi katifitas ekonomi? Sebuah logika berfikir yang salah perlu dan perlu diluruskan. Pelurusan pemikiran tersebut akan membawa hasil jika diacukan pada nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, baik yang termaktub dalam Al-Qur’an al-Karim atau As-Sunnah as-Sahihah.

Menurut Prof. Abdul Manan: Produksi tidak berarti menciptakan secara fisik sesuatu yang tidak ada, karena tidak seorangpun dapat menciptakan benda. Dalam pengertian ahli ekonomi yang dapat dikerjakan manusia hanyalah membuat barang-barang menjadi berguna, yang biasa disebut dengan istilah “dihasilkan”. Sekarang kita perhatikan pembahasan prinsip produksi secara singkat.

Prinsip fundamental yang harus selalu diperhatikan dalam proses produksi adalah prinsip kesejahteraan ekonomi. Bahkan dalam sistem Kapitalis terdapat seruan untuk memproduksi barang dan jasa yang didasarkan pada asas kesejahteraan ekonomi. Keunikan konsep Islam mengenai kesejahteraan ekonomi terletak pada kenyataan bahwa hal itu tidak dapat mengabaikan pertimbangan kesejahteraan umum lebih luas yang menyangkut persoalan-persoalan tentang moral, pendidikan, agama dan banyak hal-hal lainnya. Dalam ilmu ekonomi modern, kesejahteraan ekonomi diukur dari segi uang seperti kata Profesor Pigou: “Kesejahteraan ekonomi kira-kira dapat didefinisikan sebagai bagian kesejahteraan yang dapat dikaitkan dengan alat pengukur uang”. “Karena kesejahteraan ekonomi modern bersifat materealistis, maka perlu membatasi ruang lingkup pokok persoalan yang sama itu.

Dalam sistem produksi Islam konsep kesejahteraan ekonomi digunakan dengan cara yang lebih luas. Bagi penulis, konsep kesejahteraan ekonomi Islam terdiri dari bertambahnya pendapatan yang diakibatkan oleh meningkatnya produksi dari hanya barang-barang yang berfaedah melalui pemanfa’atan sumber-sumber daya secara maksimum -baik manusia maupun benda- demikian juga melalui ikut sertanya jumlah maksimum orang dalam proses produksi. Dengan demikian, perbaikan sistem produksi dalam Islam tidak hanya berarti meningkatnya pendapatan, yang dapat diukur dari segi terpenuhinya sumber daya ekonomi, tetapi juga perbaikan dalam memaksimalkan terpenuhinya kebutuhan kita dengan usaha minimal tetapi tetap memperhatikan tuntunan perintah-perintah Islam tentang konsumsi. Oleh karena itu, dalam sebuah negara Islam kenaikan volume produksi saja tidak akan menjamin kesejahteraan rakyat secara maksimum. Mutu barang-barang yang diproduksi yang tunduk pada perintah Al-Qur’an dan Sunnah, juga harus diperhitungkan dalam menentukan sifat kesejahteraan ekonomi. Demikian pula kita harus memperhitungkan akibat-akibat tidak menguntungkan yang akan terjadi dalam hubungannya dengan perkembangan ekonomi bahan-bahan makanan dan minuman terlarang dan lain sebagainya.

Terakhir, suatu negara Islam tidak hanya akan menaruh perhatian untuk menaikkan volume produksi tetapi juga untuk menjamin ikut sertanya jumlah maksimum orang dalam proses produksi. Di negara-negara kapitalis modern kita dapati perbedaan pendapatan yang mencolok karena cara produksi dikendalikan oleh segelintir kapitalis. Bahkan banyak negera muslim di dunia ini yang tidak luput dari kecaman itu. adalah menjadi tugas setiap negara Islam untuk mengambil segala langkah yang masuk akal dalam mengurangi perbedaan pendapatan akibat terpusatnya kekuasaan berproduksi dalam beberapa tangan saja. Hal ini diusahakan dengan (a) menjalankan sistem perpajakan progresif terhadap pendapatan, (b) dikenakannya pajak warisan terhadap hak milik yang diwariskan dengan perbandingan progressif, (c) distribusi hasil pajak terutama yang terkumpul dari golongan-golongan yang lebih kaya, untuk masyarakat yang lebih miskin melalui pengaturan dinas-dinas sosial.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa sistem produksi dalam suatu negara Islam harus dikendalikan oleh kriteria objektif maupun subjektif; kriteria yang objektif akan tercermin dalam bentuk kesejahteraan yang dapat diukur dari terpenuhinya sumber daya ekonomi, dan kriteria subjektifnya dalam bentuk kesejahteraan yang diukur dari segi etika ekonomi yang didasarkan atas perintah-perintah Kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah. (Manan; Teori dan Praktek Ekonomi Islam; 54-55).

Tujuan Produksi Dalam Islam

Sebagaimana telah dibahas di muka bahwa kegiatan produksi merupakan jawaban terhadap kegiatan konsumsi atau sebaliknya. Karena produksi adalah kegiatan menciptakan suatu barang atau jasa, sedangkan konsumsi adalah kegiatan pemanfa’atan hasil produksi. Dengan demikian, aktifitas produksi dan konsumsi merupakan kegiatan yang sangat berkaitan yang tidak dapat dipisahkan karena satu sama lainnya saling berhubungan dalam sebuah proses kegiatan ekonomi. Oleh karena itu aktifitas produksi harus balance dengan kegiatan konsumsi. Apabila keduanya tidak balance maka akan terjadi ketimpangan dalam kegiatan berekonomi. Hal ini dapat dideskripsikan, apabila barang/jasa yang diproduksi itu lebih banyak dari permintaan konsumsi maka akan terjadi ketimpangan ekonomi yaitu berupa penumpukan output produksi sehingga terjadi kemubadziran hasil prooduksi. Inilah yang disebut israf (produksi yang berlebihan) yang dalam ekonomi Islam dianggap sebagai bentuk dosa yang menjadikan output produksi itu tidak ada nilai maslahah sehingga tidak berkah yang menjadikannya menjadi output produksi yang tidak produktif. Sebaliknya jika aktifitas konsumsi lebih banyak permintaannya dari aktifitas produksi maka akan menimbulkan problematika ekonomi yaitu berupa tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi yang berdampak pada kemiskinan dan malapetaka sosial dan ekonomi. Dalam permasalahan produksi dan konsumsi dapat dimisalkan; Kita tidak diperbolehkan memproduksi atau mengonsumsi produk/barang yang haram seperti alkohol, babi, anjing, bangkai, heroin, narkotika, binatang yang tidak disembelih atas nama Allah, dan binatang buas. Seorang konsumen ataupun produsen yang berprilaku Islami juga tidak boleh melakukan israf atau berlebih-lebihan, tetapi hendaknya dalam mengonsumsi atau memproduksi itu dilakukan dengan moderat. Sebagaimana sabda Nabi, saw. yang mengatakan: “Makanlah kalian sampai sebelum kenyang”. Jadi kegiatan produksi dan konsumsi harus dilakukan secara seimbang sehingga akan terwujud stabilitas ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan hidup.








































BERKAH























































MASLAHAH
































HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x