Gayahidup

Desaku Menuju Keluarga Digital Berketahanan Nasional

17 Agustus 2017   20:04 Diperbarui: 17 Agustus 2017   20:52 284 0 0

KELUARGA DIGITAL

Program internet masuk desa mengubah kebiasaan penduduk di desaku yang pada umumnya bermata pencaharian petani karet. Suasana  malam dan dini hari yang biasanya sunyi, sejak agustus 2017 menjadi riuh sejak kehadiran program internet  masuk desa menyapa kami.

CENGKRAMAN INTERNET MELALUI MEDIA SOSIAL

Puluhan peduduk desa yang didominasi ayah-ayah dan anak-anak remaja berkumpul namun tidak saling menyapa. Asik dengan smartphone masing-masing, berinteraksi dengan facebook dan paling banyak dengan you tube membuat meraka lupa pulang, lupa tidur bahkan lupa keluarga.  Kadang sampai pukul 5 dini hari mereka bubar untuk tidur seakan siang  tidak cukup untuk bermain dalam genggaman media sosial. Media sosial benar-benar mencengkram hidup beberapa ayah-ayah, remaja dan  bahkan  siswa SD. Yang biasanya ayah-ayah berangkat pagi untuk menderes  pohon karet kini malas akibat kurang tidur, remaja (beberapa diantaranya siswaku) menyimpan video porno, anak-anak mulai merengek minta dibelikan smarphone yang bisa internetan, dan ibu-ibu merepet sepanjang hari akibat suami-suami malas bekerja.

 Kehidupan desa kami yang mengandalkan mata pencaharian menderes dan berkebun sawit kini berkenalan dengan media sosial dan media sosial semakin berkuasa. Ibu-ibu berharap  tower wifi rusak dengan demikian suami mereka ingat istirahat. Ibu-ibu menuding internet dan media sosial merengkut suami/anak dari kelurga mereka. Kepala desa berulang kali mengganti password wifi untuk mengurangi dampak negatif internet dan media sosial.  Akibatnya masyarakat yang  hendak mencari informasi melalui internet dan media sosial ketiban  dampak negatif.  

Media sosial memberi banyak dampak negatif bagi mereka yang tidak menggunakannya secara bijak. Terlalu sering mengakses media sosial dapat membuat seseorang kecanduan, phobia jika smartphone nya jauh, dan bahkan sering membuat lupa bersyukur. Di samping itu, kini prinsip "jarimu adalah harimaumu" semakin sering berlaku. Tidak jarang terjadi kasus tuntut-menuntut dalam hukum akibat update status seseorag di media sosial. Remaja kini lebih nyaman curhat di facebook dibanding curhat dengan orang tua dan keluarga sendiri. Mematikan akses internet agar tidak bisa berinteraksi dengan media sosial sama saja menutup diri dari kemajuan teknologi. kusimpulkan: pola pikir dan karakter masyarakatlah yang perlu di ubah agar menggunakan media sosial secara bijak sehingga karakter mereka semakin baik dan pada akhirnya media sosial bermanfaat untuk membangun keluarga kokoh yang berkarakter ketahanan nasional.

MENARUH HARAP PADA PENDIDIKAN

Sebenarnya penggunaan media sosial dengan pengawasan orangtua bagi remaja dan siswa SD sangatlah bermanfaat. Media sosial dapat menjadi wahana untuk belajar online, mencari dan menemukan informasi penting berbagai bidang. Namun bagaiman orangtua dapat mengawasi anak bermedia sosial jika orangtua juga sudah kecanduan media sosial yang bahkan untuk tidurpun hampir tidak punya waktu akibat mengakses media sosial? Bagaimana istri dapat berdiskusi dan membatasi suami mengakses media sosial berlebihan jika mereka tidak paham menggunakan media sosial? Latar belakan di desaku, sebagian besar masyarakat adalah  lulusan SMA, bahkan  ada yang menikah di usia SMP dan usia pertengahan SMA. Ketika harga getah karet dan sawit  mengalami masa jaya, sebagian besar masyarakat beranggapan sekolah tidak terlalu penting, yang terpenting memiliki kebun luas.

Berdasakan pengalaman di atas, faktor yang berpengaruh sangat besar yang menyebabkan seseorang/keluarga/masyarakat  Kurang bijak menggunakan media sosial  adalah tingkat pendidikan. Sebagai guru yang berkecimpung di dunia pendidikan, siswa-siswa adalah keluarga yang harus kuarahkan agar bijak bermedia sosial dan kelak mereka akan membawa pelajaran bijak bermedia sosial kepada keluarga mereka masing-masing, dan jika kelak mereka membentuk keluarga, mereka akan memiliki keluarga yang bijak bermedia sosial yang berketahanan nasional. Aku berpikir, tidak perlu muluk-muluk untuk menceramahi warga desa untuk bijak bermedia sosial, yang ada mungkin mereka menganggapku menggurui. Salah satu cara menjangkau mereka adalah lewat anak yang mereka kirim untuk kudidik.

 Kuarahkan siswaku untuk melihat media sosial untuk membandingkan hidup mereka dengan yang berada di wilayah perkotaan atau yang  lebih maju, sehingga mereka termotivasi untuk  berusaha mengejar ketertinggalan mereka. Perlahan tapi pasti kumotivasi mereka agar setamat SMA melanjutkan perkuliahan di kota. Kuberikan mereka pertimbangan  dengan menjelaskan dampak negatif jika terlalu banyak mengakses media sosial lewat layar PC atau smartphone. Kuarahkan juga mereka untuk mengakses berbagai informasi penting di media sosial dan bergabung dengan group yang bersifat kerohanian. Aku berusaha untuk berteman dengan siswa-siswaku di media sosial dengan tujuan agar kegiatan media sosial mereka dapat kuketahui dan kuarahkan. Pernah juga kuminta mereka membaca buku dan membuat resensinya di dinding facebook masing-masing dan men tag akun facebookku. Di atas semuanya tidak lupa kudoakan mereka agar dapat bermedia sosial dengan bijak, dan masa depan cerah menanti mereka.

Saat ini memang desaku tempat mengabdi  masih merupakan desa yang harus mengejar ketertinggalan dari desa lain dalam segala bidanng khususnya dalam hal 'bijak tidaknya dalam memanfaatkan media sosial". Namun lewat keluargaku di sekolah (siswa) yang kuarahkan, kelak ketika mereka kembali ke keluarga masing-masing, mereka dapat mempengaruhi keluarga masing-masing (ayah, Ibu, Saudara) dan bahkan jika kelak mereka membentuk keluarga mereka akan menjadi keluarga yang bijak memanfaatkan media sosial. Dengan demikian desaku, tempatku kini mengabdi sebagai pendidik kelak akan sampai kepada tujuan: desa digital yang ditinggali  keluarga berkarakter  ketahanan nasional. semoga