Mohon tunggu...
Rosiana
Rosiana Mohon Tunggu... Mahasiswa

A reluctant learner.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Hidup dengan Mental Disorder

26 Juni 2019   21:50 Diperbarui: 26 Juni 2019   21:54 0 4 0 Mohon Tunggu...
Hidup dengan Mental Disorder
sadgirlsclub.org

Hari ini tepat 71 hari hidupku dibantu dengan obat-obatan psikiatri. Obat-obat itu membantuku untuk mengurangi gejala psikotik yang kadang datang tiba-tiba. Mereka adalah abilify, sertraline, dan clobazam.

Jujur masih ga menyangka bisa ada di fase ini. Ku pikir aku cukup kuat untuk menjalani kerasnya hidup. Tapi nyatanya aku hanya manusia biasa yang bisa sakit.

Tapi sakitku ini tidak terlihat. Istilah lainnya adalah "invisible pain". Mungkin jika penyakit fisik ya gampang aja cerita ke orang, mereka langsung paham. Tapi apa jadinya jika penyakit yang kita derita ini adalah penyakit mental atau gangguan kejiwaan? Ah sulit... fisik ya memang baik-baik saja. Tapi jauh di dalam itu ada jiwa yang sakit.

Hidup dengan mental disorder benar-benar mengganggu aktivitas sehari-hari. Tapi sekali lagi, aku tidak pernah menganggap itu sebagai pengganggu. Aku menganggap bahwa ya mental disorder yang ada di diriku ini adalah anugerah.

Anugerah dari Tuhan agar aku bisa lebih menyayangi diriku sendiri dan juga orang-orang di sekitarku. Mungkin sulit di awal untuk menerima diri yang memiliki mental disorder. Tapi perlahan... dibantu dengan dukungan orang tua, keluarga, teman terdekat yang terus menguatkan diriku Alhamdulillah aku bangkit!

Aku memilih untuk membagikan setiap proses yang aku lalui selama masa pemulihan lewat media sosial seperti Twitter/Instagram. Bagiku hidup dengan mental disorder bukan berarti kita harus full bed rest di kasur, menutup diri, tidak mau bergaul dengan orang-orang karena merasa malu. Tidak begitu. Justru pikiran-pikiran seperti itu harus dilawan! Jangan diikuti. Karena obat dari depresi atau gangguan mental lainnya adalah kekuatan tekad dari diri sendiri untuk melawan semua pikiran negatif.

Obat hanya membantu untuk mengurangi gejala saja. Selebihnya kita sendiri yang harus berusaha bangkit untuk menolong diri kita sendiri dari lingkaran negative keputus-asaan.

Ya, itulah yang aku rasakan selama hidup dengan mental disorder. Ada kalanya aku merasa tidak berguna dan ingin menghilang dari muka bumi. Ada kalanya aku merasa bahagia berlebihan hingga ide-ide kreatif bermunculan dengan sangat deras. Ada kalanya aku membenci diri sendiri karena kesulitan melakukan apa-apa sendirian. Padahal dulu aku adalah orang yang mandiri.

Tapi aku berusaha untuk tetap berpikir positif. Aku berusaha untuk menjalankan kewajibanku sebagai mahasiswa tingkat akhir walaupun sedang dalam kondisi pemulihan dari mental disorder.

Ya, aku hanya bisa terus berusaha karena aku yakin hidup dengan mental disorder adalah anugerah. Semua ini akan membuat diriku lebih kuat dan dewasa.

Untukmu yang membaca tulisan yang isinya ini hanyalah curhatan dari seseorang dengan mental disorder, ku doakan semoga hari-harimu selalu berarti. Sayangi dirimu, sayangi orang-orang disekitarmu. Hargailah hidup dengan terus berusaha menjadi lebih baik dari kemarin.

Salam sehat jiwa! :)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x