Rosie Anna
Rosie Anna Mahasiswa

A reluctant learner who never stop learning and trying over and over again to get something right until end of her life.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Menjadi Mahasiswa Bermasalah Itu Nikmat

10 Oktober 2018   18:22 Diperbarui: 10 Oktober 2018   18:43 682 3 2
Menjadi Mahasiswa Bermasalah Itu Nikmat
Iustrasi: Bernas.id

Siapa sangka di penghujung masa pendidikan ini ternyata akan bertemu cobaan yang mengguncang kesehatan mental? Ya, tidak pernah terbayang sebelumnya oleh saya akan seperti ini jadinya.

Siapa sangka akhirnya saya pun harus menerima diri bahwa saya adalah mahasiswa bermasalah? Tidak ada yang menyangka, termasuk diri saya sendiri.

Yah mau bagaimana lagi. Inilah kehidupan. Berbagai cobaan datang dari segala penjuru. Di dalam perencanaan studi, saya tak pernah memasukkan variabel masalah yang bisa menghancurkan mental saya. Bagaimana mau memasukkan. Terpikir saja tidak.

Dari awal ketika memustukan untuk melanjutkan studi S1 saya begitu idealis. Saya yakin bahwa segala macam cobaan akan bisa saya hadapi dengan mandiri. Saya begitu percaya diri karena masa-masa SMA saya terbiasa ditempa dengan berbagai masalah kehidupan.

Tapi ternyata, untuk kali ini. Saya jatuh sejatuh-jatuhnya. Bisa dibilang ini adalah titik terendah dalam kehidupan saya. Ini adalah masa-masa kritis dalam fase kehidupan saya.

Pasalnya, cobaan yang harus saya hadapi ini akibat dari kesalahan saya sendiri. Bukan karena orang lain. Bukan karena pengaruh lingkungan. Bodohnya saya baru menyadari diri bahwa saya ini 'bermasalah'. Ah ke mana saja saya selama ini?

Tapi ya sudahlah. Tak perlu terlalu lama menyesali. Karena itu hanya membuang waktumu saja. Bumi terus berputar, ia tak mau tahu apakah kamu mampu melanjutkan hidup atau tidak. Ia hanya akan terus berputar bersama manusia yang mau bangkit dari keterpurukannya. Bagi manusia yang memilih untuk tenggelam ke dalam kesalahannya ya harus siap ditinggalkan.

Tentu aku memilih untuk bangkit. Walau pun sulit, tapi aku yakin pasti ada jalannya. Walau pun pahit, tapi aku yakin pasti akan berakhir indah. Jadi jalani saja ujian ini.

Ya, ujian yang menyerang mental memang bukan perkara gampang. Semua ini berawal dari kesalahan konsep diri dan juga penerimaan diri yang keliru. Kalau dalam istilah kesehatan mental adalah self-acceptance. Di sini yang menjadi permasalahan.

Semua berawal dari kebiasaanku sejak kecil yang selalu mengalah dan memendam semua keinginanku. Aku bukan anak yang bisa dengan mudah mengutarakan apa yang aku pikirkan, rasakan, dan inginkan. Bagiku itu adalah hal yang sulit. Saking sulitnya, aku sendiri takut ketika membayangkan apa yang terjadi jika aku menyampaikan segala isi pikiranku. Pada akhirnya aku lebih memilih diam dan bersikap seperti semua baik-baik saja.

Konsep diri seperti itu aku yakini benar adanya dari sejak aku berumur sekitar 6 tahun hingga aku berumur 22 tahun. Ya, 16 tahun aku hidup bersama konsep diri yang keliru.

Setiap didera masalah, aku selalu berusaha mengatasinya sendirian. Aku tak mau orang lain tahu aku punya masalah. Aku tak mau orang lain harus ikut merasakan lelah karena masalah yang aku miliki. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku ini baik-baik saja. Akhirnya aku selalu menutupi dan mengatasi semuanya sendiri. Hasilnya? Aku bisa.

Ya, dulu waktu kecil aku bisa mengatasi semuanya sendiri karena masalah yang mendera tidak serumit saat dewasa.

Perlahan semakin bertambah dewasa, masalah pun semakin rumit. Masalah sekolah, teman, pacar, keluarga, komunitas. Ah rasanya diriku sudah tak sanggup lagi menahan semua beban ini sendiri. Jika itu terjadi biasanya turun hujan, bukan dari langit. Tapi dari mata. Hujan itu membasahi pipi dan sedikit melegakan hati. Setelah tenang barulah aku berani becerita pada orang tua. Tapi itu pun tidak ku ceritakan semuanya. Aku pilah pilih lagi mana yang pantas untuk diceritakan dan mana yang sebaiknya aku simpan waja sendiri.

Ketika semua sudah baik-baik saja. Aku kembali pada konsep diriku untuk mandiri. Melakukan semuanya sendiri. Sampai-sampai ketika aku disakiti oleh seseorang pun aku tidak mampu mengutarakan rasa sakit yang aku rasakan. Aku hanya bisa menangis sendirian dan mencob berdamai dengan diri.

Kadang usaha itu berhasil. Kadang juga gagal. Memikirkan cara yang tepat sendirian sering kali membuatku kesal dan rasanya kepala ingin meledak. Ingin teriak sekencang-kencangnya. Tapi apa daya.. aku tak mampu. Aku terlalu berambisi untuk bisa terlihat 'baik-baik saja' di depan orang-orang.

Sampai akhirnya ada masa di mana aku merasakan kacau. Rasanya seperti ada yang membisikkan bahwa aku harus keluar dari kondisi seperti ini. Bisikan itu terus mengganggu. Membuatku hilang kendali. Membuatku melamun dan sering kali cemas. Membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan sering kali tiba-tiba menangis tanpa alasan.

Teman-temanku berusaha membujukku untuk bercerita. Tapi aku masih tidak berani. Sampai akhirnya ada seorang kawan yang bercerita bahwa dirinya pernah mengalami hal yang sama, dan ia ingin membantuku.

Lalu tanpa pikir panjang aku pun mempercayainya. Aku ceritakan semua tentang kondisiku. Inginku di semester akhir ini aku mampu tuntaskan semua tanggung jawab studiku. Tapi bagaimana bisa dengan kondisi kesehatan mentalku yang sedang kritis seperti ini? Sulit... bukannnya aku tak mau mengerjakan semua tugas perkuliahan. Tapi ini sulit. Aku selalu terganggu.

Akhirnya temanku yang pernah mengalami kondisi sama sepertiku menyarankan kepadaku untuk konsultasi pada psikolog.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2