Roselina Tjiptadinata
Roselina Tjiptadinata ibu rumah tangga

ikip Padang lahir di Solok,Sumatera Barat

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Abaikan Bau Menyengatnya, Petik Manfaatnya

25 September 2018   09:16 Diperbarui: 25 September 2018   21:34 2977 22 13
Abaikan Bau Menyengatnya, Petik Manfaatnya
ilustrasi: halo.doktersehat.com

Alam Menyediakan Beragam Manfaat Bagi Kita

Hampir setiap hari kita baca manfaat dari bermacam macam buah dan sayuran, misalnya buah Alpukat yang sangat bermanfaat, bukan hanya buahnya yang enak, tapi juga daun dan bijinya. 

Seperti yang sudah dituliskan pada artikel sebelumnya, yakni bermanfaat untuk mencegah hipertensi, memperlancar BAB, mencegah semblit dan meremajakan kulit, membersihkan ginjal dan banyak lagi manfaat lain walaupun tentu manfaat yang dapat dirasakan setiap orang mungkin akan berbeda, sesuai dengan kondisi tubuh masing masing.

Selain dari Alpukat, tulisan lainnya yang pernah saya tuliskan adalah mengenai manfaat buah pare. Karena pada waktu dulu, pada umumnya orang lebih mengandalkan obat-obat dari tumbuh-tumbuhan dan buahan yang terdapat di pekarangan rumah masing-masing. 

Kemudian, seiring dengan semakin majunya tekhnik pengobatan modern, orang mulai melupakan manfaat yang dapat dipetik secara alami. Antara lain, misalnya, dari buah pare yang rasanya pahit. Apalagi bila dimakan mentah atau dijadikan jus. 

Tetapi terbukti rasa pahit ini tidak ada artinya bila dibandingkan dengan manfaat yang dapat dirasakan secara nyata. Seperti menyembuhkan gatal-gatal menahun yang sudah menghabiskan biaya tak terhitung, bahkan ke dokter spesialis kulit tidak memberikan kesembuhan, ternyata dengan mengeluarkan uang senilai 5 ribu rupiah, sembuh total dari rasa gatal yang menyiksa. 

Di samping itu juga menetralisir tekanan darah dan mencegah terjadinya hipertensi, bahkan batuk yang tak kunjung sembuh dengan obat-obatan yang dibeli dengan harga mahal, ternyata sembuh dengan buah pare. 

Petai baunya menyengat, tapi demi khasiatnya abaikan saja soal bau itu 

Tidak semua orang suka Petai, karena baunya yang kalau dimakan bila kita buang air kecil, maka baunya menyengat dan tidak akan hilang dalam satu dua hari... Juga bau mulut kita sangat mengganggu sewaktu kita bicara. 

Bayangkan bila sehabis makan petai, terus kita kedatangan tamu, rasanya risih mau bicara karena udara yang keluar dari nafas kita sudah tercemar dengan bau petai yang menyengat. Tetapi di balik baunya yang menyebalkan,ternyata ada manfaat yang jauh lebih besar dari baunya yang menganggu.

Tapi sisi positifnya adalah makan petai sebanyak apapun, belum pernah ada yang mengalami efek negatif. Berbeda dengan makan jengkol yang dapat menimbulkan rasa sakit yang amat sangat, karena tidak bisa buang air kecil dan susah BAB

Kembali ke Manfaat Petai

Secara umum, petai dikenal sangat bermanfaat untuk membersihkan ginjal. Tanpa perlu mencari-cari referensi di Google, sejak tempo dulu Petai dikenal sangat bermanfaat, bukan hanya mencegah sakit pinggang, tapi juga berkhasiat menyembuhkan gangguan pada pinggang.

Ada banyak testimoni tentang kesembuhan yang diperoleh dengan mengonsumsi petai secara teratur. Karena tidak menyangkut promosi untuk sejenis barang dagangan, maka tentu tidak ada salahnya menjadi masukan bagi kita.

Misalnya, Ada seorang ibu mengatakan dia sakit pinggang, berdiri agak lama sakit, duduk agak lama juga sakit apalagi ketika menggendong bayinya sakitnya bukan main. 

Suatu waktu temannya menyarankan agar dia mencoba makan petai tiap hari 10 biji. Pada awalnya ia tidak percaya, tapi karena sakitnya tidak kunjung sembuh, maka akhirnya wanita ini mencoba memperaktikannnya, Aneh, setelah makan selama seminggu rasa sakit berkurang dan akhirnya sembuh total.       

Di Sumatera Barat, di kampung halaman saya, tanaman petai ada dimana-mana. Dan orang orang di desa, sudah biasa memanfaatkan apa yang ada di kebun atau pekarangannya untuk dimakan, tanpa mempedulikan apakah baunya menyengat. 

Terbukti, di desa-desa orang orang tua yang sering makan pete tidak pernah kena gangguan tulang. Pada usia yang sudah tua, mereka masih kuat mencangkul di kebun ataupun di sawah. 

Bagi orang di desa, obat dan dokter adalah masalah langka yang tidak terjangkau oleh kondisi ekonomi. Dan ternyata alam sekitar sudah menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan, termasuk petai sebagai obat alami.

Hasil Kajian Ilmiah

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2