Mohon tunggu...
Puji Plolong
Puji Plolong Mohon Tunggu... Freelance

Daydreamer

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Efek Covid-19 dalam Budaya Masyarakat Kita

14 April 2020   09:04 Diperbarui: 14 April 2020   09:11 4 0 0 Mohon Tunggu...

Gotong-royong sudah menjadi budaya masyarakat kita. Memang tidak bisa disangkal banyak manfaatnya karena memindahkan tugas berat menjadi beban kolektif. Namun di balik sisi positif keuntungannya, ternyata juga menyimpan ganjalan yang berpotensi menjadi problem sosial yang terselubung.

Sekarang rasanya sudah tidak aneh hampir dalam setiap interaksi komunitas bermasyarakat, partisipasi kita terwakili dalam media daring yang paling populer bernama Whatsapp Group (WAG). Reprentasi kita di dalamnya bisa tergabung dalam grup alumni sekolah, grup keluarga atau grup tetangga.

Dan sedikit banyak cermin budaya masyrakat juga bergeser masuk ke dalamnya.

Ketika intensitas pandemi Corona mulai merebak di tanah air medio Maret 2020, kepanikan terpapar jelas mulai melanda masyarkat. Ada yang memborong sembako, ada yang menimbun masker dan juga ada yang mulai menginisiasi gerakan-gerakan higienisasi-sanitasi. Sekalipun masih menjadi polemik, penyemprotan disinfektan juga pelarangan pemakaman jenazah korban Corona menjadi beberapa gerakan yang termasuk di dalamnya.

Walaupun WHO telah menghimbau berkali-kali terhadap keefektifan penyemprotan disinfektan, nyatanya penggalakkannya di tiap RT/RW justru semakin marak. Sebagai langkah pencegahan, gerakan ini bisa diapresiasi. Namun yang menjadi pertanyaan apakah dari perspektif biaya, tenaga dan pikiran, apakah manfaatnya juga sepadan? Negara-negara maju pada umumnya menghindari karena efek pestisidanya yang beracun. Selain itu manfaat masa preventif yang relatif singkat sebagai penangkal virus pada permukaan di udara terbuka, juga mengingat saat ini Indonesia masih berada pada musim hujan.

Tidak hanya berhenti di sini, gejala gerakan sosial ini juga bergeser ke media daring. Seolah yang satu wilayah tidak mau kalah dengan wilayah lainnya, RW yang satu bergantian memposting foto-foto aktifitas penyemprotan di berbagai WAG. Dan yang yang lebih fatal, panitia penyemprotan  yang tadinya mengimbau warga untuk tetap tinggal di rumah, justru merekalah yang paling getol untuk memposting beragam kegiatan para relawan yang sambil mengobrol ditemani suguhan kopi dan gorengan kiriman sukarela dari warga yang bersimpati.

Bahkan aktivitas ini juga menjadi ajang judgmental bagi warga yang terkesan enggan untuk bergabung keluar rumah sebagai relawan.

Jika kita mengenal istilah social engineering, mungkin di Jawa kiasan ini lebih tepat disebut dengan parikena. Teknik komunikasi yang memanfaatkan perasaan tenggang rasa untuk menstimulir obyeknya menjadi malu atau merasa bersalah. Gotong-royong pada akhirnya disalah-artikan sebagai judgment untuk orang-orang yang tidak mau terlibat langsung dalam kegiatan gotong-royong. Alih-alih berusaha menekan kurva pandemi, disadari atau tidak malah justru mempercepat laju penularannya.

Dampaknya amat jelas, jika langkah utama dalam menangani Covid 19 adalah dengan memberlakukan physical distancing, pada akhirnya gotong-royong justru menjadi simalakama langkah kontraproduktif yang memicu warga untuk malah berkumpul ramai-ramai. Dan tentu saja ada unsur latah dari satu lingkungan terhadap lingkungan yang lain karena tidak mau disebut tidak punya inisiatif atau ketinggalan.

Gotong-royong sebagai warisan budaya sebenarnya memiliki banyak nilai tambah secara sosial. Namun implementasinya di lapangan membutuhkan lebih banyak kearifan dan pengendalian ego diri. Kita membutuhkan diskresi ekstra dalam menyikapi agar manfaatnya menjadi optimal.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x