Mohon tunggu...
Ropiyadi ALBA
Ropiyadi ALBA Mohon Tunggu... Tenaga Pendidik di SMA Putra Bangsa Depok-Jawa Barat dan Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan MIPA Universitas Indra Prasta Jakarta

Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat, membaca dan menulis untuk pengembangan potensi diri dan kebaikan ummat manusia.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Membangun Religius Personal Branding

11 Juni 2021   23:17 Diperbarui: 11 Juni 2021   23:32 63 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membangun Religius Personal Branding
Sumber gambar:katalisnet

Hampir setiap manusia ingin dikenal sebagai orang yang baik, dan diakui keberadaannya. Sebagai makhluk sosial, tentunya kita tidak ingin terasing dan tidak dikenal di lingkungan sekitar. Untuk itu, kita perlu menyadari bahwa kita bukanlah siapa-siapa tanpa adanya peran positif dari masyarakat dan lingkungan. Disinilah pentingnya sebuah persepsi dan citra positif masyarakat terhadap kita, agar hidup kita dapat lebih bermakna dan bermanfaat bagi banyak orang.

Kemuliaan seseorang memang tidak diukur dari seberapa besar tingkat 'keterkenalan' mereka di masyarakat. Namun, orang-orang yang sudah biasa terjun dan bersosialisasi di masyarakat, tentunya adalah pribadi-pribadi yang unggul. Karena mereka mampu merealisasikan diri mereka sebagai 'zoon politicon' yang senantiasa hidup dan berinteraksi dengan manusia lainnya. 

Sebagai manusia dan anggota masyarakat, kita ingin eksistensi kita diakui. Kita tidak ingin keberadaan kita menjadi sesuatu yang meresahkan, dan sebaliknya ketiadaan kita justru dirindukan. Kalau ini sampai terjadi, maka sesungguhnya kita telah menjadi seburuk-buruknya makhluk di muka bumi. Untuk menjadi seorang manusia yang dirindukan keberadaannya, tentunya kita harus membangun citra diri yang positif. Citra diri yang dimaksud bukanlah sesuatu yang sifatnya polesan dan penuh kepalsuan, namun lahir dari dalam diri dan merupakan potret diri sejati yang lahir dari sebuah keotentikan jiwa dan kebersihan hati.

Membangun citra diri atau biasa disebut dengan Personal branding adalah upaya sadar dan disengaja untuk menciptakan dan mempengaruhi persepsi publik tentang 'diri' dengan memposisikan sebagai pribadi yang khas dan membedakan dengan yang lain, yang pada  akhirnya untuk memajukan karir dan meningkatkan lingkaran pengaruh di masyarakat.

Seseorang yang memiliki mimpi yang besar, tentunya tidak akan berhasil kalau ia merupakan pribadi yang kecil. Ia akan terus berusaha menjadi pribadi yang bertumbuh, tak kenal musim dan arah angin. 

Memang baik menjadi orang 'penting', tetapi lebih penting menjadi orang 'baik'. Di sinilah kata kunci dari sebuah 'personal branding' yang selayaknya kita bangun. Terminal akhir dari merek diri yang kita jual adalah kita ingin dikenal sebagai orang baik (min ahlil khoir) pada ujung perjalan hidup kita nanti. 

Dalam sejarah peradaban manusia kita telah mengenal seorang manusia paripurna (insan kamil), yang sosok kemuliaannya tidak hanya dikenal di kalangan manusia yang mengikutinya, tetapi juga oleh lawan-lawan yang senantiasa memusuhinya. Dialah Muhammad bin Abdullah, seorang manusia pilihan Tuhan yang diimani sebagai Nabi dan Rasul serta pembebas manusia dari gelapnya perbudakan hawa nafsu menuju terangnya peradaban manusia. 

Muhammad bin Abdullah, sejak kecil sudah dibranding oleh Allah SWT sebagai anak yang baik, selalu berkata benar dan dapat dipercaya. Untuk itulah masyakat melabelinya dengan gelar Al Amin. Inilah modal besar yang dimiliki Muhammad bin Abdullah, sebagai calon pemimpin besar umat manusia kala itu. 

Dikenal sebagai orang yang jujur dan memiliki integritas bukanlah sebuah perkara yang mudah, dan tidak mungkin lahir dari sebuah kepura-puraan. Pribadi yang berintegritas merupakan akumulasi dari nilai-nilai luhur yang sudah terbangun sejak dini dan menjadi sebuah kebiasaan dan pembiasaan yang berlangsung sejak lama. 

Dasar dari upaya membangun citra diri yang positif adalah nilai-nilai spiritual atau religius. Untuk itu, religius personal branding adalah upaya yang tepat agar kita tidak salah langkah dalam membangun pencitraan diri, karena dasarnya adalah nilai-nilai ketuhanan dan kata kuncinya adalah kepasrahan kepada Allah SWT dan keikhlasan semata-mata hanya karena-Nya.

Siapapun dan apapun kita pada hari ini adalah tidak penting. Yang terpenting adalah, sudahkah kita memposisikan diri sebagai orang-orang yang bermanfaat bagi banyak orang atau belum?. Untuk menjadi insan yang berguna bagi banyak orang, kita tidak perlu fokus pada kekurangan dan ketidakmampuan yang kita miliki. Namun sebaliknya, fokuslah pada kelebihan dan kemampuan yang kita miliki. Kita harus mengenal siapa kita, apa kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Selanjutnya fokuskanlah pada kelebihan yang kita miliki untuk digunakan sebesar-besarnya manfaat terhadap lingkungan sekitar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN