Mohon tunggu...
Ropiyadi ALBA
Ropiyadi ALBA Mohon Tunggu... Guru - Tenaga Pendidik di SMA Putra Bangsa Depok-Jawa Barat dan Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan MIPA Universitas Indra Prasta Jakarta

Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat, membaca dan menulis untuk pengembangan potensi diri dan kebaikan ummat manusia.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Anakku Ingin Jadi Youtuber

30 Desember 2020   20:59 Diperbarui: 30 Desember 2020   21:30 356
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar :https://solusik.com/

Tidak dapat kita pungkiri bahwa perkembangan teknologi digital saat ini telah berkembang sangat pesat. Saat ini kita kenal sebagai era revolusi 4.0, di mana kebiasaan manusia secara umum telah mengalami pergeseran ke arah yang serba digital serta tidak bisa dilepaskan dari perangkat yang serba elektronik.

Teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi alat yang mampu membantu sebagian besar kebutuhan manusia, tidak hanya untuk urusan formal dalam dunia kerja, tetapi juga sudah merasuk ke dalam urusan yang sifatnya kebutuhan pribadi setiap orang.

Percepatan penggunaan Teknologi informasi di dunia pendidikan mengalami momentumnya tatkala Indonesia memasuki masa pandemi Covid-19 sekitar bulan Maret 2020 yang lalu.

Sejak saat itu, mau tidak mau, siap tidak siap seluruh stake holder pendidikan dipaksa untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan Teknologi Informasi untuk menunjang berlangsungnya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR).

Sebagaian besar guru menggunakan metode pembelajaran online atau daring (dalam jaringan) untuk menyampaikan  Kompetensi Dasar mata pelajaran yang diampunya. Walaupun adakalanya dipadukan pula dengan metode pembelajaran offline atau luar jaringan (luring), demi menjaga ritme pembelajaran agar tetap menyenangkan dan tidak membosankan bagi semua siswa maupun guru.

Salah satu efek dari pembelajaran online yang mendominasi kegiatan siswa dan guru adalah makin gandrungnya para siswa, bahkan sejak Taman Kanak-Kanak (TK) sampai SMA/SMK/MA dalam penggunaan hand phone.

Penggunaan hand phone ternyata didominasi bukan untuk menunjang pembelajaran, namun untuk hal-hal lain yang sifatnya hiburan dan permainan (games). Hal ini sebenarnya butuh perhatian serius dan pendampingan, khususnya dari orang tua di rumah. Sebuah hand phone diibaratkan seperti sebuah hutan belantara yang sangat lebat.

Di dalamnya banyak aneka pohon, buah-buahan, dan juga udara segar yang sangat bermanfaat. Namun, di dalamnya juga banyak binatang buas dan berbisa serta jalan-jalan yang terjal yang sangat membahayakan.

Sebagai orang tua, kita harus bijak dalam menyikapi perubahan dan kemajuan Teknologi Informasi ini. Khususnya yang berkaitan dengan pola kembang anak dan kemajuan tingkat berpikir mereka. Kita tidak bisa melarang mereka untuk menggunakan hand phone secara frontal, karena kekhawatiran akan terjerumus kepada konten-konten kekerasaan, pornografi, atau konten lainnya yang tidak pantas dan berbahaya.

Begitupun sebaliknya, kita juga tidak boleh memberikan kebebasan sebebas-bebasnya kepada mereka dalam mengakses internet melalui hand phone atau gawai, hanya karena kesibukan kita atau sudah putus asa terhadap prilaku mereka selama ini.

Tugas kita sebagai orang tua adalah membimbing dan mengarahkan agar anak-anak kita tidak salah arah dan tersesat jalannya. Ini adalah zaman mereka, dan didiklah mereka sesuai dengan zamannya. Kalau ada anak kita yang ingin jadi YouTuber atau gamer, kita jangan melarangnya tanpa alasan, atau sebaliknya memberinya ijin tanpa syarat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun