Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Cukup ini saja

Memberi tak harap kembali

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Gobek, Jagoan Dermaga Banjar Raya

27 Januari 2020   22:57 Diperbarui: 27 Januari 2020   23:07 162 47 8 Mohon Tunggu...
Gobek, Jagoan Dermaga Banjar Raya
Banjarmasin Post - Tribun Dermaga Banjar Raya Diganti Beton - Banjarmasin Post

Pasar ikan. Menjelang subuh. Nelayan sudah menepi. Perahu penuh ikan bersandar. Tali ditambatkan. Keranjang-keranjang ikan dinaikkan. Pemilik kapal naik. Minum kopi dan bercengkrama.  Gadis-gadis belia penjual kopi selalu siap melayani teh dan kopi hangat.

Pembeli antri minta dibagi. Harga ikan sepertinya sudah ada dalam daftar. Tertempel di dinding dermaga. Tak berlaku sejak Gobek ada di sana. Banjar Raya, tempat pelahulan ikan tertua di Banjarmasin.

Keranjang pertama dinaikkan ke mobil pickup. Keranjang ke dua. Belum ada yang melakukan penawaran. Berikut keranjang-keranjang di belakakgnya.

Gobek adalah preman Banjar Raya. Memang sejak kecil hidup di sana. Jadi tukang bagi jatah pembeli. Sejak ayahnya. Kelakuannya sama. Memaksa pembeli yang ingin menawar harga terlalu rendah. Dari pekerjaan itu Gobek dapat imbalan dari pemilik kapal. Harga sudah dipatok pemilik kapal. Kelebihan harga dari yang ditawarkan Gobek adalah jatahnya Gobek.

Setiap malam sedikitnya lima hingga sepuluh kapal yang bersandar. Masing-masing kapal berisi hingga dua puluh keranjang bermacam-macam ikan tergantung di laut lagi musim ikan apa.

Hampir semua kebutuhan ikan laut Banjarmasin memasoknya dari Banjar Raya.

Dermaga Banjar Raya kali ini benar-benar banjir ikan. Mau tidak mau harga harus diturunkan. Hukum ekonomi pasti tetap berlaku. Semakin banyak barang tersedia maka harga akan turun.

Sepertinya pembeli tidak seperti biasa. Langganan yang biasa antri hanya sedikit. Maka Gobek memutar otak, bagaimana agar harga tetap stabil.

Kebetulan semua ikan jenisnya hampir sama. Ikan rumah-rumah (dalam bahasa Banjar disebut ikan peda).

Bagaimana asal muasalnya tak ada yang tahu. Tiba-tiba saja Gobek naik dari sebuah perahu dan marah-marah. Ikan dalam keranjang dilempar-lemparkan. Mending kalau dilemparkan ke dermaga. Ikan dilemparkan ke sungai beserta keranjangnya. Ikan hanyut terbawa arus dan lenyap.

Tawar menawar kemudian terhenti. Beberapa puluh keranjang telah naik ke mobil-mobil pedagang, dan pergi. Mengejar penjualan di pasar pagi.

"Coba kalau bawa ikan itu jangan berbarengan. Kalau sudah begini bagaimana coba? Harga pasti jatuh. Banjir ikan begini," teriak Gobek melotot pada semua yang hadir.

Teriakan teriakan Gobek diulang dan diulang. Gerah juga sebenarnya yang mendengar. Tapi mau bagaimana lagi. Namanya tidak ada kompromi. Pemilik kapal datang dan pergi. Kebetulan datang berbarengan ya jadinya begini. Kebetulan sepi, ikan laut langka. Gobek untung banyak.

Merasa tak digubris. Gobek kian ngamuk. Beberapa keranjang ikan yang sudah di dermaga ditendang jatuh ke sungai.

Pedagan yang belum sempat membeli banyak yang takut dan pergi. Batal membeli ikan di dermaga ini. Makin ngamuklah Gobek.

Beberapa pemilik kapal ada yang pura-pura asyik minum kopi saja. Walau mereka yakin ikan yang dibuang Gobek adalah sebuah kerugian. Bagaimana melerainya? Gobek jagoan di dermaga. Dia juga sudah banyak utang jasa pada Gobek. Akhirnya ya pasrah saja.

Waktu terus berlalu. Kemarahan gobek tak juga mereka. Sampai datang seorang perempuan setengah tua. Mendekati Gobek. Tanpa suara. Menarik tangan Gobek.

Gila! Gobek menoleh. Mulanya mau menarik dan membentak perempuan tersebut. Akhirnya menunduk dan seperti dicolok hidungnya. Gobek mengikuti langkah perempuan tua tersebut. Gobek dibawa pergi.

Keributan jelas terhenti. Tukang buat onar telah pergi. Jual beli pun dilanjutkan lagi. Dan selesai. Terpaksa pemilik kapal yang melakukan transaksi langsung dengan pedagang. Dan pedagang yang datang belakangan untung besar. Tidak ada harga tambahan untuk Gobek.

Sepertinya semua yang hadir di tempat itu lupa keributan yang baru saja terjadi. Mereka lebih ingin ikannya cepat laku. Dan pedagang pun ingin segera membeli dan pergi untuk diedarkan lagi di tempat lain.

Seseorang kemudian bertanya pada penjual kopi di pinggir dermaga itu.

"Siapa itu tadi? Mengapa Gobek tak berani? Ibunya ya?"

"Iya Bang," jawab penjual kopi.

"Baru dua kali ibunya datang seperti ini. Dahulu hampir saja teejadi pembunuhan di tempat ini, Bang. Kelakuan Gobek memang begitu. Kebetulan ada yang berani melawan. Beruntung saat keributan ada yang melaporkan pada ibunya. Jadi ya seperti tadi. Gobek ditarik di tangan dan dibawa pergi. Tak membantah sama sekali." lanjutnya.

Gobek, jagoan dermaga Banjar Raya. Hampir tak ada orang yang berani menahan amuknya. Takluk bertekuk lutut di tangan ibunya. Bagaimana bisa?

Tapi begitulah, menurut cerita yang beredar. Gobek dahulu ketika kelahirannya dalam keadaan terbungkus tembuni (bekelubut, bahasa Banjarmasin.) Hanya ibunya yang tau bagaimana membuat gobel luka. Katanya Gobek tak mempan senjata. Bapaknya juga.

Pernah ketika dahulu bapaknya masih jaya-jayanya, Gobek sangat nakal. Dan berkelahi di dermaga ini. Sepuluh orang memakai parang semua. Hanya bajunya yang robek-robek. Gobek tak melawan. Dia hanya menahan dengan badannya. Melihat gak mempan senjata. Musuhnya melarikan diri.

Entahlah, Gobek sangat takut kepada ibunya, karena bakti anak pada ibunya atau karena takut dilukai ibunya dan kekebalannya hilang. Hanya Gobek yang tahu.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x