Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Cukup ini saja

Memberi tak harap kembali

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Gadis yang Menabung Air Mata

22 Januari 2020   20:14 Diperbarui: 22 Januari 2020   20:26 196 36 10 Mohon Tunggu...
Cerpen | Gadis yang Menabung Air Mata
m.kiblat.net Hukum Puasa Bagi Wanita yang Enggan Berhijab - Kiblat

Gadis yang Menabung Air Mata

Re, orang memanggilnya dengan sebutan Re. Nama panjangnya tak seorang pun tau. Barangkali orang yang dahulu menerimanya bekerja juga lupa nama aslinya. Orang malah lebih mengenal Re dengan nama gelar saja. Re Si Jelita yang Riang. Bekerja di salah satu supermarket di depat rumahnya.


Padahal Re lulusan sarjana pendidikan, jurusan matematika. Tak ada sekolah yang menerima lamaran pekerjaannya.

"Maaf, Bu. Jam pelajaran telah penuh. Guru kami sudah lengkap."

Kalimatnya seragam. Seperti sudah mendapat instruksindari pejabat atasan. Kalau ada lulusan guru baru penolakan yang tepat adalah jam pelajaran telah penuh terisi oleh guru yang ada.

Sedihnya Re terobati. Bukan karena Re tak bisa jadi guru. Re merasa tak sendiri. Teman lulusannya saja ketika diwisuda lebih dari 600 orang. Mereka juga mengalami nasib yang sama.

Beruntungnya Re ada supermarket membutuhkan karyawan yang mampu menggunakan komputer dan teliti. Re sangat senang karena pasti dia diterima. Kemampuan komputernya terbilang nomor wahid di antara pelamar lainnya. Saingannya hanya lulusan SMA.

Maka diterimalah Re sebagai kasir. Lulusan FKIP Matematika jadi kasir supermarket. Malukah Re? Dia hanya tertawa kemudian mengedipkan mata kanannya sambil rersenyum manja. Dasar Re.  Gadis manja begitu pasti mengundang selera.

Jarak rumah dengan supermarket tempatnta bekerja sekitar 500 meter. Market ada di depan gang, di jalan utama. Sementara rumah Re ada di dalam gang. Dua kali perempatan gang baru tiba di rumahnya.

Shift kerjanya selalu malam hari. Alasan bossnya adalah karena rumahnya dekat. Jadi perjalanan pulang sangat aman. Re masuk setiap pukul 16.00 sore dan pulang pukul 00.00. Tepat ketika supermarket tutup.

Namanya karyawan, Re tak kuasa protes. Walau sebenarnya sangat berat setiap malam harus setengah begadang. Hari sabtu adalah hari bahagia. Re bisa bebas merdeka. Bisa jalan-jalan dan belanja-belanja.

Pada saat jalan-jalan dan belanja terlihat Re aslinya. Re yang periang dan lincah. Sepanjang perjalanan senyumnya tak lepas-lepas. Jalannya setengah berlari dan meloncat-loncat. Re sungguh girang. Dari situlah teman-temannya mengingst Re dengan Si Jelita yang Riang.

Sampai suatu ketika Re bercerita kepadaku. Re minta kepadaku untuk mendengarkan seluruh ceritanya sebelum melanjutkan ke hubungan yang serius. Apalagi hingga siap-siap ke jenjang pernikahan.

"Bang," kata Re suatu ketika. Pada saat itu kami sedang berada di teras rumahnya. Apel malam mingguan. Biasanya kalau tidak membakso kami habiskan waktu dengan sambil berbalas pantun atau menyanyi bersama. Re menyanyi dan aku memainkan gitar.

"Bang, Aku mau ngomong serius. Dengarkan baik-baik ya. Jangan sela hingga selesai cerita. Setelahnya silakan Abang putuskan apa yang terbaik buat Abang."

Aku menangguk pelan. Penasaran yang tak mampu aku jelaskan. Ketika seorang perempuan meminta untuk mendengarkan. Pasti ada sesuatu yang sangat rahasia yang ingin diuratakannya. Re ingin jujur dengan berterus terang.

Dan aku benar-benar memang harus mendengarkan. Maka dengan seluruh kekuatan aku tahan resa penasaranku. Beribu pertanyaan aku pendam. Apa yang telah terjadi? Mungkinkah Re telah bosan? Atau orang tua Re tak merestui hubungan kami selama ini?

Lama Re menatap wajahku. Kedua tangannya yang mungil lembut aku genggam. Memberikan kekuatan. Bahwa aku akan mendengarkan dengan seksama.

"Bang, aku sudah tidak perawan."

Tangisnya meledak. Tangannya dalam genggamanku ditarik mendadak. Aku terdiam. Tak mampu berkata apa-apa. Kututupi segala kecewa. Aku mau marah, marah pada siapa? Kecewa kecewa pada siapa? Pada Re? Re bukan istriku. Belum jadi istriku tepatnya.

Sejenak kagetku mampu aku kuasai. Kemudian tangan Re aku tarik kembali. Senyum kucoba lemparkan. Tak juga rasa kasihan. Re tak mungkin mau dikasihani. Kemudian aku tersenyum. Seolah tak terjadi apa-apa. Seolah hanya mendengar cerita biasa.

Setelah isak tangisnya reda, Re melanjutkan ceritanya.

"Ketika pertama kali mendaftar di supermarket itu Bang. Dasar pengawas supermarket sialan. Dia mengancam, jika tak mau melayaninya, aku akan dilaporkan melakukan pencurian uang Bang. Aku takut. Maka peristiwa itu terjadi.

Bersyukurnya, Bang. Senjatanya gak mau bangung. Jadi demi meluluskan niatnya si bejat itu hanya menggunakan jarinya. Itu pun hanya sekali bang. Setelahnya dia pergi. Dan beberapa hari setelahnya dia mutasi.

Tapi aku sudah tidak perawan bang. Aku takut. Gegara peristiwa itu keperawananku hilang Bang. Kejadian itu sudah 3 tahun lalu, Bang.

Aku takut berhubungan serius dengan laki-laki. Aku tak kuasa membohongi calon suamiku, Bang. Aku juga tak mampu berterus terang."

Re menarik napas dalam.

Kutatap matanya tajam meyakinkan, bahwa aku tidak apa-apa. Aku menerima Re apa adanya.

"Belum, Bang. Itu baru permulaan. Masih ada lanjutannya." tangsi Re meledak lagi.

Kali ini tak kubiarkan orang yang sangat aku kasihi bersedih hati. Orang yang akan jadi ibu dari anak-anakku bercerita tentang kepiluan.

"Sudah sayang! Sudah sayang!"

Kuraih pundaknya. Kupeluk erat. Inilah pertama kali dalam hidupku memanggil Re dengan sebutan sayang. Sebutan sayang yang keluar dari hati terdalam. Tanpa aku rencanakan. Keluar begitu saja. Bukan rayuan maut seperti biasa ketika para muda midi pacaran. Gombalan yang menjemukan.

Re terdiam. Getaran tubuhnya sungguh membuatku semakin mencintainya. Dia adalah wanita yang begitu ceria ternyata menyimpan duka yang tak terkira. Re si Jelita yang Riang telah menabung air mata begitu lama. Sekarang sudah tumpah dibahuku. Re adalah calon ibu dari bayi-bayi mungilku. Semoga.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x