Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Cukup ini saja

Memberi tak harap kembali

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Igauan Ibu, Aku Sungguh Menyesal Telah Bertanya

22 Januari 2020   00:57 Diperbarui: 22 Januari 2020   01:46 341 42 11 Mohon Tunggu...
Cerpen | Igauan Ibu, Aku Sungguh Menyesal Telah Bertanya
ilustrasi via devianart.com

Perempuan itu, ia tak pernah lelah menyeka air mata. Bukan karena gali lobang tutup lobang atau rentenir datang silih berganti membawa surat ancaman dari penagih utang mengetuk pintu. Anaknya cuma satu, semata wayang. Lelaki kecil periang.

Perempuan itu, ia tak pernah menyesali kepergian suaminya beberapa tahun lalu. Dedam berdarah merenggut kebersamaan mereka. Kebodohannya lah yang menjadi sebab hilangnya nyawa. Dikira panas badannya karena kelelahan. Maklum buruh bangunan, hari-hari adukan semen melumuri tangan.

Orang-orang tak pernah tau, ia selalu tertunduk dan tersipu malu manakala para majikannya menanyakan sesuatu. Dari pintu ke pintu menjadi pembersih rumah dengan upah yang tak pernah bertambah-tambah. Ia tetap kerjakan dengan tabah.

"Jangan tuan, jangan. Saya tidak berani tuan," suatu malam perempuan itu mengigau. Tidur dalam keadaan lelah memang sering membangunkan igauan.

Aku bertanya dalam hati. Apa yang sedang terjadi?  Akukah yang bermimpi atau ibu?

"Tidak, Nak. Tidak ada apa-apa. Ibu hanya kelelahan mungkin. Tak usah kau risuakan," bantah ibu ketika suatu kali aku tanyakan.

"Apakah majikan ibu baik-baik saja?" tanyaku tiba-tiba.

"Ah, sudahlah. Namanya juga bekerja. Suatu saat ketika kau dewasa pasti tau bagaimana lelahnya bekerja."

Jawaban ibu tak membuatku puas. Aku hanya tak kuasa mendesaknya untuk memberikan jawaban sempurna.

Gurat hitam di pipinya tak mampu membohongi siapa saja. Termasuk diriku. Bagaimana bisa kesedihannya begitu berkepanjangan hingga tak ada air mata tersisa. Beberapa kali ketika terbangun tak sengaja kudengar isak tangisnya.

Mungkin dengan menangis kesedihan ibu terobati, pikirku menenangkan hati. Aku benar-benar tak mengerti apa yang telah terjadi. Kesedihan memang harus diluapkan, begitulah yang terjadi pada ibu hampir tiap malam, berharap esok pagi semua terlupakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x