Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Cita-cita yang Tergadai

3 Desember 2019   22:35 Diperbarui: 3 Desember 2019   22:40 0 13 5 Mohon Tunggu...
Cerpen  |  Cita-cita yang Tergadai
Econo Channel Menjadi Guru, Cita-Cita atau Sekadar Alternatif Terakhir -- Econo ...

Cita-cita yang Tergadai

Penulis: Saini

" Tegaaaaarrrr, tengoklah ke atas, cepat lakukan sesuatu, kalau tidak, maka sia sialah pekerjaan kita hari ini," suara ayah lantang terdengar dari gubuk bambu yang terletak di tengah tengah pohon para.

Aku pun menengadah ke atas, awan hitam bergumpal-gumpal dan air hujan mulai menetes mengenai  kepalaku. Tanpa menunggu komando aku berlari sekencang mungkin dengan membawa sebotol aqua yang sudah berisi air cuka. Karna kalau tidak, maka sadapan hari ini akan menjadi air.

Maka sia-sialah keringat kami hari ini. Aku berlari dari pohon ke pohon untuk meneteskan air cuka ke dalam kaleng yang menampung getah hasil sadapan. Bukan pekerjaan ringan sebenarnya yang ku lakukan, bayangkan, lahan para (pohon karet) kami seluas 10.000 meter persegi dengan 600 pohon para yang tumbuh di dalamnya, harus diberi air cuka.

Aku pun walau lelah, tetap hal itu kulakukan dengan semangat, sambil berlari bak seorang messi yang lagi menggiring bola, akhirnya selesai juga pekerjaan itu. Dengan sisa nafas penuh kebanggaan aku masuk ke pondok yang sengaja dibuat ayah untuk sekedar beristirahat.

" Sudah semua ?" tanyanya

" Sudah !" jawabku pendek.

"Tak sia-sialah aku memberi nama kamu Tegar, Tegar Pribadi, agar kamu selalu tegar dalam situasi dan kondisi apapun, tegar dalam menjalani kehidupan ini, tegar dalam segala hal."

Aku pun lebih memilih diam, mendengarkan kalimat-kalimat yang diucapkan ayah. Ku ambil segelas air lalu meminumnya.

" Memangnya ayah kamu ni ngga perlu minum ya Gar?"

Aku pun tersenyum dan sangat paham dengan kalimat ayah. Hujan mulai membasahi bumi disertai dengan suara petir yang bersahut-sahutan.

Di dalam gubuk berukuran 3 x 4 meter yg atapnya terdiri dari daun rumbia, dindingnya dari papan-papan sisa yang masih bisa dimanfaatkan, aku  bersama ayah duduk termenung, sesekali kualihkan pandangan pada pohon-pohon para yang daunya meliuk-liuk diterpa angin. Hujan masih saja membasahi bumi, airnya terkadang masuk ke gubuk kami melalui celah-celah atap yang bolong di sana sini.

Pikiranku menerawang pada keadaan sebelumnya. Tahun ini adalah tahun ke tiga aku setamat SMU, berarti sudah 3 tahun pula aku membantu ayah menyadap pohon para milik kami. Dulu, setelah tamat SMU aku pernah melontarkan niatku untuk melanjutkan kuliah ke S1 PGSD, karena saudara sepupuku juga melanjutkan kuliah ke sana, dalam hati mumpung ada teman. Entah kenapa aku ingin sekali menjadi guru, ya menjadi guru, guru SD.

Apa jawaban ayah waktu itu ? Kau ini ada ada saja, tengok lah ayah, memang ayah kamu siapa ? Kerja apa ? Untuk memberi makan kau dengan tiga orang adikmu saja ayah susahnya tidaklah ketulungan, macam macam saja kau ini. Apalagi kalau kau kuliah, mau kau jual kemana pundak ayahmu ini ? Dengan logat Batak yg masih kental ayah memberi komentar atas niatku dulu.

Aku pun hanya bisa terdiam, berdiam diri, percuma aku memberikan atau hanya sekedar menyanggah kalimat ayah, karna aku sudah hafal betul siapa ayahku, bagaimana perangainya, tidak ada kata demokrasi atau sedikit demokrasi pada diri ayah. Waktu itu, aku hanya dapat menghela nafas panjang. Sementara saudara sepupuku sudah semester 6 di PGSD.

Dalam sudut hatiku yang lain, ayah juga benar, untuk memberi makan kami berempat saja ayah kewalahan, apalagi jika aku kuliah, tidak tega rasanya membebani ayah lagi. Tiga orang adikku yang masih kecil juga tentu memerlukan biaya, sementara penghasilan kami hanya bergantung pada hasil pohon para. Itu sangat tergantung dari iklim dan cuaca.

Tp..., rasanya aku tidak ingin selamanya menjadi penyadap pohon para, karena suatu saat aku akan beristri, mempunyai anak, dalam hatiku.

Dunia kadang kejam, bahkan terasa tidak adil, aku yang sejak SD sampai SMU selalu mendapat peringkat di kelas, akhirnya harus mengubur cita cita untuk menjadi guru lantaran tidak memiliki pinansial yang cukup, sementara orang lain yang kecerdasannya jauh di bawah rata rata bisa kuliah karena ekonomi orang tuanya yang berlebih. Ah! Memang sebegitu kejamkah kehidupan ini?

Sebenarnya keinginanku untuk menjadi guru SD tidak terlepas dari pengaruh guruku ketika aku duduk di kelas 6, Sain Pardidi namanya, kami biasanya menyebut beliau dengan Pa Sain. Beliau berasal dari Barabai,  setiap habis mengajarkan materi pelajaran beliau selalu mengajarkan kami entah itu tentang kejujuran, disiplin, etika, tanggungjawab, yang sekarang ini katanya konon teramat jarang dilakukan oleh guru.

Kalimat-kalimat beliau selalu kuingat dan terngiang ngiang di telinga, diantaranya, suatu saat nanti jika kalian ingin menjadi guru yang hebat maka jadilah guru SD. Hebatnya seorang guru SD adalah kita dituntut untuk menguasai semua mata pelajaran, dari Bahasa Indonesia sampai kesenian dan ketetampilan.

Apapun pekerjaan kalian nanti, tekuni dengan sungguh sungguh selama pekerjaan itu halal.  Kerjakan segala sesuatu dengan ikhlas, jangan sombong, karena hina tidaknya seorang manusia bukanlah dari jenis pekerjaannya, tapi dari bagaimana cara ia mendapatkan sesuatu imbalan dari pekerjaannya.

Jika nanti ada diantara kamu yang menjadi guru, lakukan dengan ikhlas maka akan menjadi amal jariah, walaupun kita sudah tiada, satu atau dua orang diantara sekian banyak siswa kita mungkin ada yang mendoakan kita. Satu hal penting yang harus kalian ingat jika nanti ada diantara kalian yang menjadi guru, kalian tidak boleh berharap semua siswa kalian akan berlaku baik. Kalian akan kecewa.

Pa Sain berhenti sebentar kayanya mengingat sesuatu, sambil manggut manggut, matanya sedikit menajam. Lalu lanjutnya, beberapa hari yang lalu saya ketemu mantan siswa saya, lulusan SD ini,  jangankan untuk menegur, seutas senyumpun rupanya berat ia berikan, dan itu pertemuan yang entah keberapa kalinya. Mungkin ia merasa sudah PNS sebagai guru SD, cantik, kaya, siapa tahu ia merasa malu menegur gurunya  yang sudah hampir pensiun, sudah memutih.

Untuk kalian bapak pesan, seburuk apapun guru kalian tetap hormati, jauhkan rasa sombong. Kalimat kalimat itulah yang selalu menusuk nusuk dalam dadaku, padahal sudah sembilan tahun lamanya.

Ting ting, suara berdering di hp membuyarkan lamunanku.rupanya ada WA yang masuk. Cepat kubuka, ternyata informasi penerimaan CPNS, ku cari formasi untuk guru SD, akupun tercengang, dari 50 peluang guru SD semua yang dicari adalah lulusan S1 PGSD,  akupun manggut-manggut, ternyata ijazah SMU ku tidak berlaku untuk menjadi guru. Ah... gumamku dalam hati, siapa tahu besok atau besoknya atau kapanpun ijazah SMU dapat melamar menjadi guru SD ? Atau... cita-citaku menjadi guru SD abadi hanya sebagai cita-cita ?

" Hari sudah senja Gar, yu kita pulang kebetulan hujan juga sudah reda. Kamu kan harus ke surau lagi nanti." suara ayah mengakhiri segalanya.

Batulicin, 3 Des 2019

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x