Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Cukup ini saja

Memberi tak harap kembali

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Kunang-kunang, Pucuk Bayam, dan Aku yang Tak Berteman

21 November 2019   22:59 Diperbarui: 21 November 2019   23:01 138 34 11 Mohon Tunggu...
Kunang-kunang, Pucuk Bayam, dan Aku yang Tak Berteman
Nalar Politik Kenangan dari Kunang-Kunang | Nalar Politik

Kunang-kunang, Pucuk Bayam, dan Aku yang Tak Berteman

Seperti kunang-kunang yang datang di penghujung malam
Pucuk bayam jadi santapan ulat daun hingga kenyang
Juga diriku yang kini tak lagi berteman

Kerlap kerlipnya semakin hari kian redup dan menjauh
Sebuah isyarat ketika berkas cahaya tak lagi punya makna
Senyum kehilangan sasarannya
Pun kereta lepas kendali, manakala masinisnya asyik berselfi ria bersama para pengagumnya

Dahulu, ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di kebun ini
Bayam adalah sayur ternikmat dengan gizi lengkap
Zat besi penguat sendi
Bagiku adalah motivasi untuk mampu berdiri dan terbang seorang diri

Hari ini, aku lihat
Kebun ini sudah tak berpenghuni
Kereta api telah lepas kendali
Dan kunang-kunang enggan hadir walau malam di musim penghujan memanggilnya datang

Sekitarku tetap lengang
Dalam gelap tak berbintang
Di sela rintik hujan
Kunang-kunang hilang
Pucuk bayam tak lagi mengenakkan
Dan aku yang tak berteman
Menatap jauh ke depan hanya gelap menanti malam penghabisan

Tanah Bumbu, 21 Nopember 2019

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x