Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Rinai Hujan, Payung Hitam, dan Gadis yang Minta Belas Kasihan

6 November 2019   22:26 Diperbarui: 6 November 2019   22:24 0 26 6 Mohon Tunggu...
Rinai Hujan, Payung Hitam, dan Gadis yang Minta Belas Kasihan
Pixabay Depresi Gadis Payung - Foto gratis di Pixabay

Malam lalu adalah hujan deras pertama setelah  kemarau panjang mendera. Ketika malam pasar biasanya gadis itu menjajakan bunga lewat senyum manis menyapa. Tersipu malu bukanlah kebiasannya.

Trotoar jadi pemakaman pertamanya. Setelah ribuan pemakanan ia lalui malam malam sebelumnya. Halte bis kota, ruko-ruko hingga pos ronda, jadi saksi isak tangis dan tawa.

Malam ini berbeda. Ia berdiri di ujung gang dengan payung hitam di tangan. Bersama rinai hujan menanti jemputan datang. Seperti biasa. Hanya bis dan angkot saja. Tak ada yang istimewa.

Senyum dan sapa lenyap dari bibir manisnya. Ia berpikir, barangkali rinai hujan malam ini adalah pengantar pemakaman terakhir baginya. Setelah bis kota memakan darah, daging hingga melumat habis urat nadinya.

Di tengah kebisingan, ia mencoba untuk diam. Ketika warna warni lampu jalan diperlihatkan, ia menengok sebentar lalu mengambil kesimpulan.

"Sebentar lagi kulit dan dagingku juga akan ikut warna warninya. Atau aku jadi tumbal kepuasannya."

Pada rinai hujan yang membasahi tubuhnya, ia minta belas kasihan. Pada payung hitam di tangan ia minta perlindungan. Hanya itu saat ini yang sanggup ia lakukan ketika lelah menikmati pemakaman-pemakaman kebebasan.

Tanah Bumbu, 6 Nopember 2019