Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Pepaya Pakde

5 November 2019   20:03 Diperbarui: 5 November 2019   20:19 0 22 14 Mohon Tunggu...
Pepaya Pakde
Amazon.es Amazon.es: AGROBITS B - Casa - 10 Vase: Juguetes y juegos

Pakde, guru seni rupa. Melukisnya sangat hebat. Setiap sketsa selalu ditaruh di mading sekolah. Makanya Pakde sangat dikagumi hampir semua siswa.

Untuk mengisi waktu senggang setelah pulang sekolah, Pakde suka bercocok tanam. Suatu ketika pepaya Pakde banyak buahnya. Ada yang sudah hampir matang.

Namanya juga siswa. Jangankan pepaya matang, belimbing wuluh, sawo, bahkan mangga mentah saja pasti dipetik. Tak sedikit yang kemudian membawa garam dan pisau kecil dari rumah. Jika istirahat. Di ujung kelas mereka ngumpul. Ngerujak. Tak laki-laki, tak perempuan. Sama. Sambil Pakde yang jadi topik gosip mereka.

Betapa tidak. Pakde selain punya pohon pepaya juga punya pohon srikaya. Jika berbuah biasanya Pakde bungkus. Maksudnya supaya tidak busuk dimakan ulat. Juga agar tidak ketahuan siswa lalu diambil sebelum matang.

Kali ini, buah pepaya Pakde adalah buah pertama. Besar-besar dan hampir kuning mateng. Alan dipetik ketika sudah mulai masak.

Namanya siswa, biar pun banyak buah lain yang ada pepaya tetap jadi incaran mereka. Pakde tahu. Sorot mata siswa selalu Pakde awasi. Yang dilihat dan jadi bahan obrolan adalah bagaimana caranya agar memetik pepaya Pakde gak ketahuan. Dan Pakde mendengar.

Setiap pagi sebelum siswa datang ke sekolah Pakde sudah di depan rumah. Pura-pura mengerjakan sesuatu. Padahal intinya agar pepaya terjaga dan tidak dipetik siswa hingga matang dan siap dipetik.

Suatu ketika ada beberapa siswa yang rada nekad. Tak nakal sebenarnya. Buktinya baik-baik datang pada Pakde mau minta buah pepaya.

"Pak Guru, pepayanya matang. Kami boleh petikkan tidak?"

"Jangan. Saya yang menanam. Memakan pun belum. Kalian sudah mau memetik saja. Sudah sana!"

Pakde marah. Namanya juga Pakde. Sangat sayang pada pepayanya.

Siang sedikit, ketika istirahat pertama ada lagi rombongan yang mau minta pepaya. Hardikan Pakde tetap sama.

Pas istirahat kedua ada lagi siswa yang lain datang meminta izin mau memetikkan pepaya Pakde. Tetap tak dizinkan. Dan Pakde selalu marah-marah.

Entah suka karena Pakde marah atau apa. Nyatanya sebelum-sebelumnya tak ada siswa yang nekat minta izin sama Pakde. Atau barangkali siswa yang kena marah sengaja menggoda Pakde.  Namanya juga Pakde, makin digoda makin marah.

Nah, ketika akan pulang sekolah datang ibu guru meminta pepaya yang diincar siswa tadi. Makin menjadilah amuknya Pakde.

"Tidak siswa, tidak guru. Sama saja. Baru aku punya pepaya mau mateng saja sudah banyak yang mengincar. Padahal aku yang menanam. Aku yang merawat. Enak saja mau minta ketika sudah mateng!"

Pakde benar-benar marah. Pepayanya memang tinggi. Tak bisa dipetik langsung dengan tangan. Maka segeralah Pakde mengambil galah. Sambil ngomel-ngomel sendiri dengan bahasa yang hanya Pakde yang mengerti.

Galah pun di arahkan ke arah tumpukan pepaya yang tergantung. Mananya sambil marah, ya sambil menonjok pepaya sekenanya. Akhirnya pepaya jatuh. Satu, dua, tiga, pepaya mentah jatuh. Pakde sakit hati. Pepaya yang matang tak jatuh-jatuh. Pepaya paling besar.

Tonjokan Pakde kian mengamuk. Semakin lama Pakde semakin mendekati pohon pepaya. Dan, gubrak!! Pepaya matang jatuh. Tepat kena kepala Pakde. Pepaya hancur. Kepala Pakde berwarna kuning jingga. Pakde blepotan, berteriak kaget.

Guru-guru keluar dari kantornya. Siswa yang tersisa belum pulang mendekat ke Pakde. Semua tertawa setengah takut kena marah Pakde.

"Makanya kami tadi mau menolong Pak Guru. Karena kami tau Pak Guru gak bisa manjat pepaya. Pak Guru sih...."

"Hukh! Kamu. Sana sudah, pulang sana."

Pakde berjalan menuju rumah. Pepaya matang tinggal kulitnya tak ada yang bisa dimakan. Hancur di atas kepala Pakde. Sementara pepaya lainnya berserakan. Tak satu pun yang Pakde bawa pulang.

"Nih, sisanya Ambil. Bagi-bagi. Esok siang pepayanya aku tebang, biar tak perlu galah lagi untuk memetik. Biar tak ada yang melirik pepaya itu lagi."

KONTEN MENARIK LAINNYA
x