Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Sehari Bersama Pakde, Alangkah...

5 November 2019   17:52 Diperbarui: 5 November 2019   18:18 0 20 10 Mohon Tunggu...

Hari ini aku sungguh beruntung diajak Pakde mengambil honor. Katanya artikel yang ditulis Pakde mendapat honor Rp 5.000.000. Pas aku tanya, berapa jumlah artikelnya Pakde hanya tertawa.

Katanya sih mau ke kota, mengambil duit lewat ATM. Aku seneng banget. Maka tanpa pikir panjang, langsung aku iya kan.

Kami berangkat puluk 9 pagi. Perjalanan ke kota butuh 1.5 jam naik kendaraan. Karena adu hanya duduk di belakang menemani, walau berapa jam juga tenang-tenang saja. Toh, duduk dibelakang bisa sambil mainan gawai, bisa sambil mendengarkan musik lewat headset.

"Nanti aku dikasih makan kan, Pakde."

"Tenang saja. Pasti aku bikin kenyang. Mau nambah berapa saja boleh. Mau sekenyang apa saja boleh. Silakan. Aku lagi ketiban rejeki nomplok ini."

Satu setengah jam tak terasa. Pikiran yang ada di kepala begitu selesai ambil duit langsung cari tempat makan. Alangkah senangnya. Belum sarapan pagi juga. Jadi sekalian sarapannya pas makan siang saja.

Begitu keluar dari mesin ATM, Pakde langsung mengajak berangkat.

"Kita cari makan kan, Pakde? Sudah pukul 10.30 siang. Perut sudah keroncongan."

"Iya, iya. Tenang saja. Yuk, jalan."

Berjalanlah kendaraan pelan. Mengelilingi kota. Sambil berkendara, Pakde melirik kiri kanan jalan. Kalau-kalau ada warung yang jual makanan.

"Pakde, kita makan mie ayam yuk."

"Jangan mie ayam di sini. Aku dulu pernah mampir di sini. Sambelnya basi. Mahal pula. Air tehnya tidak anget. Tempat lain saja."

Jalan lagi kendaraan Pakde.

"Pakde, bakso itu gede-gede. Pasti enak. Singgah yuk!"

"Jangan bakso yang ini. Dulu aku pernah makan bakso di situ, sambelnya pedes banget. Pulangnya aku sakit perut. Yang lain saja."

Beberapa saat kiri kanan jalan tak ada orang jualan makanan. Kendaraan rada laju.

"Pakde, itu ada yang jual ayam geprek. Dagingnya besar-besar, Pakde. Kita di sini saja kah?"

"Kita cari yang ada kuahnya biar segar. Di situ gak ada kuahnya. Masak makan cuma ayam goreng dan sambel. Gak seru. Yang lain saja."

Waktu terus berputar. Tak terasa sudah pukul 12 lebih. Terik mata hari sudah di atas kepala. Pakde masih saja muter-muter memilih-milih makanan.

"Kita istirahat dulu, Pakde. Ada es kelapa."

Kendaraan akhirnya menepi. Selamatlah diriku. Sejak pagi perut tak terisi. Gak ada nasi tak masalah. Minimal sekarang hausku berkurang.

Sambil duduk minum es kelapa, Pakde bercerita tentang pengalamannya singgah di rumah-rumah makan yang ada di kota. Tentang nasi yang mentah. Tentang sambel basi. Tentang ayam yang berbau. Ikan yang terlalu kering. Hampir tak ada satu jenis makanan pun yang nikmat di mulut Pakde.

Aku pura-pura saja mendengarkan. Yang penting dapat minuman air kelapa. Segerlah rasanya.

Setelah selesai, kami naik kendaraan lagi.

"Di sana ada yang jual sate dan gulai kambing. Kita makan di sana saja ya?"

Waduh! Senang tak terkira. Pasti akan sangat nikmat. Awas saja. Nanti jika sampai aku akan pesan dua kali lipat. Membalas dendam.

Ketika sampai di tempat tujuan, warung sate tutup. Ampun dah. Pakde oh Pakde.

"Tutup ternyata. Kita ke tempat lain saja ya? Ke arah jalan pulang. Tadi aku lihat ada yang jual nasi rames. Buka kayanya."

Dalam hatiku, tak mengapa lah nasi rames juga. Yang penting makan. Dan, ternyata nasi ramesnya habis. Mau kembali ke arah kota tidak mungkin. Maka perlahan tapi pasti kami mencari warung makan yang mengarah ke arah jalan pulang. Sudah pukul 1.40 siang. Perut suda keroncongan.

"Pakde! Di situ saja ya? Itu ada gado-gado. Mampir ya?"

"Jangan. Gado-gado tak ada dagingnya. Cuma tahu dan tempe. Rugi lah kalau uang banyak hanya makan nasi sama tahu dan tempe. Kaya tak punya uang saja. Cari yang lain saja."

Meluncurlah akhirnya kendaraan menuju arah desa kami. Sudah jauh dari kota. Otomatis yang jual makanan sudah jarang ditemukan.

Ketika sampai di ujung tikungan ada warung.

"Pakde! Di situ saja ya? Mie instan rebus juga tak mengapa!"

"Alah, masak jauh-jauh ke kota makannya mie instan rebus. Malu lah sama orang-orang. Gak akh. Nanti di dekat desa ada warung nasi. Kita mampir di sana. Pasti ada Bebek goreng, juga sayur lodeh nangka. Pasti nikmat. Kamu bisa nambah sesukanya. Itung-itung membalas dendam.'

Karena tujuan makan sudah didapat, maka. kendaraan pun melaju. Hingga akhirnya sampai di warung yang dituju. Sudah sore. Ada tenda di depan warung. Aku pikir untuk menghindari terik matahari sore makanya di depan warung di kasih tenda. Semangat menggelora. Pasti akan makan besar. Bebek goreng, sayur lodeh. Sambel pedas. Alangkah niknatnya.

Nasib malang. Warung tutup.

"Gimana, Pakde?"

"Kita mampir saja ke orang yang jual ayam. Kita beli satu. Kita goreng untuk berdua. Pasti nikmat."

Ayam yang dijual juga habis. Akhirnya sampai di rumah dengan perut berisi sgelas air kelapa. Alangkah sedihnya.

Mau tidak mau, terpaksa memasak nasi. Menggoreng ikan asin dan makan dengan sambel sisa tadi malam. Nasib-nasib. Pakde oh Pakde. Alangkah.... Hiks hiks hiks...

KONTEN MENARIK LAINNYA
x