Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Isi Curhatan WA

19 Oktober 2019   22:08 Diperbarui: 19 Oktober 2019   22:07 0 34 11 Mohon Tunggu...
Isi Curhatan WA
www.pixabay.com -- Lori Greer in Portland www.pixabay.com -- Lori Greer in Portland

Aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu. Isinya mungkin hanya gula dan batu. Yang manis dan keras. Semua yang aku lakukan seperti tak ada yang benar. Selalu salah di matamu.

Beberapa hari kemarin. Otakku sepertinya miring. Batu bata disusun jadi segitiga. Bagaimana bisa? Katamu, memang begitu adanya. Yang penting indah dilihat mata. Punya makna dan jika dibaca nikmat terdengarnya. Orang-orang akan suka.

Kemarin lusa. Terbelalak mataku dibuatnya. Tak masalah sebenarnya, hanya beberapa kata. Tentang cerita sebuah rasa. Benar-benar hanya sebuah cerita. Karton besar berisi tulisan itu. Kau pajang lebar di depan pintu. Katamu, "nah yang begini yang nomor satu." Aku salah baca barangkali.

Sebenarnya imajinasimu terbang ke mana? Atau sudah hilang karena beban berat pekerjaan. Rasa bosan dari rutinitas dan tekanan. Juga bertahan pada sikutan teman yang mengaku seperjuangan. Padahal jika lengah sedikit, siap menendang.

Hari ini juga. Aku lihat surat-surat yang telah kau kirim. Dalam sampul emas dan biru. Menurutku hanya layak jika jadi bungkus kacang. Nyatanya tetap kau pajang. Begitukah instruksi atasan? Yang penting menang dalam perlombaan. Atau orang yang tidak betah akan hengkang.

Sebenarnya aku juga menyadari, sangat sulit bertahan di ruangan ini. Pengabnya bukan karena udara panas atau permusuhan sesama kita. Aku lebih merasa, hanya senyum dan pujian dalam sapaan itu bukan keluar dari hatimu. Hanya ingin dianggap ada. Susah memang aku menerka.

Untuk yang terakhir kali. Barangkali masih mungkin jika dibuat pertimbangan. Teman kita sangat banyak. Biarkan mereka betah, waktu pasti akan lenyapkan yang resah.

Kemudian aku merasa, satu persatu temanku pergi. Kadang ada yang sempat pamit untuk undur diri. Tak sedikit yang hanya mampir melirik kemudian pergi. Menyapa pun tidak. Lebih banyak, mereka tak betah karena merasa sering berbantah.

Tetap saja. Suatu malam aku merindukan mereka datang. Dalam canda dan saling menantang. Siapa yang layak membuat coretan besar, berebut spidol yang kita ambil. Ramai-ramai kata kita ukir. Sekarang tak ada lagi. Semua kamar sudah terkunci. Gelap dan mati.

Atau mungkin keresahanku yang tak terbendung, hingga harus curhat di tempat ini. Aku tak minta untuk didukung atau ada yang merasa iba di hati. Hari ini semua gundah dan resah sudah aku sampaikan.

Jika ada yang membaca lalu berkata, silakan saja. Berikan komentar suka-suka. Atau diam karena tak paham maksudnya juga tak mengapa. Masalahnya kita adalah makhluk maya. Di tempat maya. Dengan isi cerita yang kadang rekayasa.

Jadi biarlah semua apa adanya. Atau tutup saja cerita ini. Aku tak ingin, kita ingat satu kalimat pun.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x