Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Peraturan K-Reward yang Baru Mengecewakan Saya (Baca Uraiannya)

9 Oktober 2019   11:00 Diperbarui: 9 Oktober 2019   11:51 0 75 73 Mohon Tunggu...
Peraturan K-Reward yang Baru Mengecewakan Saya (Baca Uraiannya)
Kompasiana

Peraturan baru K-Reward, Artikel yang dihitung hanya artikel yang masuk sebagai artikel pilihan dan artikel utama. Artikel yang tidak masuk kategori pilihan dan utama tidak diperhitungkan.

Sedemikian banyak artikel yang menyoroti tentang pemberlakuan aturan baru K-Reward Kompasiana pada bulan Oktober ini. Barangkali hanya saya yang memiliki pandangan berbeda.

Baiklah kita butiri satu persatu sebagai berikut:

1. Artikel Utama

Ketika sebuah artikel masuk dalam artikel utama, pada laman google tertera artikel tersebut. Juga artikel utama dipromosikan oleh Kompasiana ke sosial media, Twitter misalnya. Otomatis peluang keterbacaan dari artikel tersebut makin besar. Jadi wajar jika jumlah pembaca akan semakin banyak.

Selain itu ketika kita membuka artikel tertentu, maka artikel utama  tampil dalam kotak yang harus disingkirkan sementara kita membaca laman artikel yang kita buka. Artinya, dari laman kompasiana sendiri artikel utama dipromosikan.

Artikel utama sudah mendapat tempat selayaknya karena memang kontennya update dan memberikan informasi bagi pembaca. Saya sangat setuju tentang hal ini. Wajar jika priotias diberikan kepada artikelnya.

2. Artikel Pilihan

Sebuah artikel pilihan juga dipromosikan lewat lewat media sosial. Disamping itu juga disarankan pada laman kompasiana sendiri. Jadi juga merupakan hal yang wajar. Salah satu bentuk aptesiasai bagi artikelnya. Juga jika kemudian peluang keterbacaannya besar pasti masuk akal.

3. Artikel Non Utama/pilihan

Artikel yang tidak masuk kategori pilihan dan utama tidak diperhitungkan. Barangkali juga sesuatu yang wajar. Mengapa? Kompasiana adalah sebuah rumah. Punya aturan. Pendatang suka atau tidak suka wajib ikuti aturannya. Lalu permasalahannya apa?

Ketika sebuah artikel tidak masuk pada artikel utama dan artikel pilihan tidak ada tempat untuk mempromosikan. Peluang bagi artikelnya tertutup. Hanya sekian menit berada pada tempat  "Artikel baru." Dalam kondisi semacam itu, mungkinkah peluang keterbacaannya lebih besar?

Secara logika pasti mustahil. Ketika peluang promosi tertutup maka kecil harapan artikel dimaksud akan mendulang pembaca yang banyak.

Lantas kemudian mengapa ada artikel yang tidak pilihan juga utama mampu mendulang pembaca yang banyak?

Barangkali bagi rekan Kompasianer yang rajin berkunjung ke artikel rekan lain pernah membaca artikel menarik Pak Tjipta. Yang isinya kalau tidak salah, menulis adalah untuk dibaca. Sehingga budaya berkunjung sangat menguntungkan untuk mendulang pembaca.

Artikel itu setidaknya adalah bentuk rasa gundah, ketika kunjungan balasan tidak ada padahal berkali-kali artikelnya kita baca dan diberi komentar. Seakan tulis, lepas dan pergi. Tak peduli lagi.

Bagi penulis yang sudah merasa profesional. Artikelnya merasa akan mendulang pembaca. Kerjanya adalah menulis dan menulis. Apalagi yang sudah centrang biru, pasti masuk artikel pilihan. Dan Kompasiana akan mempromosikan.

Bagi pemula, penulis yang kadang tidak layak mendapat artikel pilihan apalagi artikel utama seperti saya. Yakin artikelnya tak bakalan masuk pilihan atau utama. Dengan pemikiran bahwa tidak akan dipromosikan oleh Kompasiana. Akhirnya harus berjibaku memporomosikan sendiri.

Promosi lewat status WA, FB, Twitter, Linked, Immo, Line, dll dilakukan sendiri. Perjuangannya kian berat ketika artikelnya tidak dihargai sama sekali. Padahal dengan promosi artikel lewat media sosial juga menguntungkan Kompasiana. Alhirnya Kompasiana secara langsung ikut terpromosikan.

Sekarang alternatifnya menjadi dua. Mau penulis profesional yang setelah menulis pergi. Atau penulis pemula yang berkeringat mempromosikan artikelnya. Padahal dengan promosi sendiri jelas kuota internet banyak terkuras. Dan ketika penghargaan terhadap artikel yang tidak pilihan dan utama tidak ada menjadi mengecewakan.

Terlepas dari itu semua tetap saja kuasa ada di pihak Kompasiana. Blogging punya mereka, mau diapakan saja terserah Kompasiana. Kompasianer datang dan pergi. Ibarat mati satu tumbuh sejuta. Tinggal rasa kasihan dan pengertian saja ada atau tidak. Bagiamana pun Kompasianer pemula semangatnya begitu membara akan pupus seketika ketika berhadapan dengan aturan baru.

Setiap klik yang dilakukan sama dengan membayar dalam bentuk kuota. Dan sematan iklan terbaca.