Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Gejayang Memanggil, Kemarau yang Panjang

23 September 2019   18:21 Diperbarui: 23 September 2019   18:24 0 6 0 Mohon Tunggu...
Gejayang Memanggil, Kemarau yang Panjang
Tribunnews.com GejayanMemanggil Trending Twitter, Aksi Demo Mahasiswa 1998 ...

Gejayan Memanggil, Kemarau yang Panjang

Pagi berjalan biasa
Nasi kucing
Gudeg yang lupa dipanasi setengah basi
Dipanasi lagi

Kerupuk tergantung
Seribu tiga
Seperti biasa
Ibu-ibu dengan kebaya batik
Bapak keren, blangkon melekat di kepala
Tetahun tak pernah dicuci
"Ini barang keramat, Nak. Pemberian Kanjeng Sultan."

Siswa riang berangkat sekolah
Sepeda jengki rombongan pertama
Diikuti rombongam kedua dan berikutnya
Di sisi kiri kanan jalan:
Penjual pentol
Cilok, bubur ayam, mie tek tek
Baso ikan
Lengkap dengan kopi tubruk

Tiba-tiba
Datang rombongan massa
Atas nama cinta
Atas nama pengadilan jalanan
Atas nama kehormatan
Ungkit luka lama
Agar mata terbelalak dan terbuka
Ia ajak siapa?

Tentang SKS yang banyak belum tuntas
Tentang orang-orang koruptor
Di depan mata
Tak ada habisnya
Menyengat mata
Mendidih darah hingga ubun-ubun

"Inikah yang kalian pertontonkan. Pada kami. Generasi pengganti?"
Ayo kita turun ke jalan
Ayo liburkan semua perkantoran
Ayo buat tanggal merah di kampus-kampus kita
Mau kalian apa?
Kemarin kemana saja?
Asyik dengan gawainya
Lupa harus pilih siapa
Lupa mengawasi yang curang siapa
Lupa ajak orang ikht dengannya

Setelah semua terjadi
Sungguh mudah menghakimi
Seperti nikmatnya menghamili
Lupa pertanggungjawaban
Dan hari pembalasan

Jika ingin tenang
Biarkan jalanan lengang
Biarkan Gejayan memanggil
Untuk hilir mudik muda mudi lagi
Menyusun rencana untuk saling hamil menghamili

Tanah Bumbu, 23 September 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x