Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Puisi | Ia Berkata

21 September 2019   18:25 Diperbarui: 21 September 2019   18:28 0 4 1 Mohon Tunggu...
Puisi | Ia Berkata
Brilio 4 Penyanyi seksi yang hijrah & bercadar, terbaru Tiara De

Malam ini kucoba duduk sendiri lagi
Pada batang pinus rebah dekat bibir pantai
Dari kejauhan kulihat deru kapal nelayan beradu nyaring dengan tiupan angin malam
Masil terlintas senyum manismu di seberang lautan
Senyum yang membuatku senang siang malam

Bebeberapa menit yang lalu datang pesan terselip pada bulu camar yang jatuh tak sengaja
Camar tersesat lupa pulang ke sarangnya
Atau sarangnya telah rusak termakan usia
Atau sarang yang telah jatuh terinjak kakinya

Pesan itu berkata:
"Maafkan aku, maafkan Masku dan seluruh anggota keluarga"
Aku tak menjawab, suatu ketika aku pernah terhina
Dia berkata, jika sudah ada yang disayang. Kenapa masih kurang?

Aku me jawab:
Membagi barang akan menipis atau berkurang
Membagi sayang akan tumpah ketika teko penuh isinya
Dalam teko ada cinta yang tak pernah habisnya
Tak becampur susu, tak bercampur madu
Apalagi tercampir candu bahkan empedu

Pesan itu berkata lagi :
"Kasihan adikku, jika cintamu kau bagi"
Aku tak menjawab,
Aku merasa ia adalah yang pertama
Membuatku bahagia hanya dengan senyumannya
Membuatku rindu jika lama tak bertemu

Sebelum pesan habis tertiup dan menipis
Sebait kalimat terucap dengan hidmat, "jika aku sayang kamu, jangan buat aku menangis lagi"

Kali ini aku menjawab:
Bagiku sayang bukan untuk jadi pertarungan malam
Bagiku sayang adalah tentang pengorbanan
Tentang seberapa besar ia berkorban atas kekurangan
Bukan menikmati kelebihan
Atau senang di atas kepura-puraan

Aku terdiam ketika ia melontarkan pertanyaan, "lantas buat apa ada sayang, jika perhatian hanya sisa waktu diberikan"

Kali ini aku merasa salah. Aku tertunduk malu
Aku ingat beberapa tahun lalu
Aku sendirian berjuang melawan lapar
Menikmati malam dengan bulan berpendar
Hanya untuk sesuap nasi di pagi dan siang hari
Saat itu aku seorang diri
Kamu ada di mana?
Mengapa sekarang meminta-minta

Pesan itu kemudian pergi
Sebelumnya menyampaikan pesan tersembunyi, " baiklah aku mengalah. Aku pergi"

Aku berteriak memanggil namanya
Dia ada di seberang lautan
Suaraku terbentur gelombang
Tak ada yang mendengar
Teriakan menggelegar hanya untuk orang-orang yang lapar

Lapar kasih sayang
Lapar belas kasihan
Dan kenyang dengan kecemburuan yang besar

Kemudian aku berdiri, kupadamkan nyala api
Kini semuanya kembali
Aku seorang diri
Tetap
Di pantai ini
Menanti pesan-pesanmu lagi
Pesan rindu dari seberang lautan yang biru

Tanah Bumbu, 21 September 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x