Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Makanya, Siapa Kemarin yang Memilih Mereka

19 September 2019   07:08 Diperbarui: 19 September 2019   07:23 0 10 6 Mohon Tunggu...
Makanya, Siapa Kemarin yang Memilih Mereka
kreativv ID Mengenal Lukisan Abstrak Lebih Dalam (moneypict.pw)

Kadang saya berpikir, mengapa kita begitu mudah menghakimi dan lupa pada apa yang telah dilakukan sebelumnya. Mari kita ingat-ingat sejenak, ketika masa kampanye. Jujur atau tidak jujur, kita telah memilih orang untuk menjalankan pemerintahan ini.

Setuju atau tidak setuju, presiden telah kita pilih langsung. Dan Jokowi bukan orang yang baru saja kita kenal. Sudah 5 tahun memimpin negeri ini. Kemudian, sepakat tidak sepakat beliau karena telah kita pilih lagi akhirnya jadi kepala negara lagi. Lalu mengapa tiba-tiba ketika ketika beliau bekerja, kita recoki dengan segala macam opini dan kegaduhan.

Harusnya lima tahun lalu ketika memerintah sudah terlihat dan kita membaca dengan jelas apa yang dikerjakan dan yang akan dikerjakan akan datang. Begitu juga kebijakan-kebijakannya. Jika tidak mencerminkan kehendak rakyat, tidak pro rakyat mengapa kita memilihnya lagi?

Demikian juga halnya dengan anggota DPR, mereka tidak sekonyong-konyong lahir terus duduk jadi anggota dewan. Mereka kampanye menyampaikan janji ini dan itu. Kalau ternyata mereka sekarang terpilih. Memangnya siapa yang memilih? Kita juga kan? Lantas ketika mereka bekerja, mengapa jika juga gencar merusak konsentrasi mereka.

Jika sudah diberi kepercayaan, coba sekali-sekali biarkan mereka bekerja sebaik-baiknya. Kita nikmati hasil pilihan kita. Tugas kita tinggal mencatat, siapa orang-orang yang tidak bekerja untuk rakyat. Catat, masukkan dalam buku harian. Kemudian jangan dipilih lagi pada periode akan datang. Siapa pun itu.

Nyatanya, kita teriak-teriak protes nyatanya tetap jadi pendukung juga. Setiap hari terjadi. Hingga suasana jadi memanas, akhirnya suasana kurang kondusif. Memancing kerusuhan dan kegaduhan nasional. Kalau sudah begitu, tidak akan ada yang untung. Semua pihak akan dirugikan. Termasuk rakyat kecil.

Akhirnya mereka akan dengan mudah berkata, bagaimana kami bekerja maksimal jika selalu direcoki. Padahal tidak direcoki pun belum tentu maksimal.

Jadi kesimpulannya mudah saja. Ada tiga ratus juta rakyat indonesia, mustahil di antar mereka tidak ada ada yang layak menjadi ratu adil dan perwakilan yang mampu menjadi tangan dan kaki kita memakmurkan negeri ini. Orang-orang yang sudah ketahuan belangnya simpan dalam catatan. Jangan dipilih lagi.

Selebihnya tinggal kita berdoa, semoga legislatif, yudikatif, dan eksekutif dapat bekerja maksimal sesuai dengan amat yang telah kita berikan untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa beserta kesejahteraan rakyatnya.

Kalau ternyata tetap belum mampu mengemban amanah juga doakan supaya segera mati saja agar ada penggantinya yang lebih baik. Masak sih, tidak percaya dengan kekuatan doa. Masih ada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang mampu menjawab doa-doa hambanya.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x