Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Bimbang dan Pengawasan

18 September 2019   23:19 Diperbarui: 18 September 2019   23:17 0 17 5 Mohon Tunggu...
Bimbang dan Pengawasan
Pixabay.com


Mengapa baru sekarang kau katakan. Rindumu hanya sebatas angan. Sayangmu hanya dalam bayang-bayang. Hanya jadi teman mimpi. Meminta tak disakiti. Harusnya buat komitmen sebelum semua dimulai.

Lihatlah, betapa camar hanya terpana. Melihat gerombolan teri berbaris dengan rapinya. Lumba-lumba bercengkrama melawan ganasnya ombak samudera. Ubur-ubur menari mengikuti ganasnya ombak musim tenggara. Dan, cumi yang tak pernah semburkan tinta walau amarah membakar matanya.

Belum puas, dengarkan gemericik sirip ikan terbang di malam buta. Meradu nyaring dengan gulungan tali bagan. Nelayan bercanda walau tak pernah penuh kecil perahunya. Buih beradu dan pecah diterpa angin malam isaratkan indahnya sabar dalam duka.

Jika semua sudah terlihat tetap membuatmu cemburu pada malam yang berganti dengan siang, lalu apa yang harus awan lakukan. Selalu berarak ikuti arah angin. Dibenturkan pun tak pernah teriak kesakitan. Lenyap menjelma jadi air hujan. Awan tetap gembira dalam kodrat terlupakan.
 
Jika sudah terdengar begitu banyak pengakuan, namun masih bimbang penasaran. Katakan pada langit dengan suara lantang. Jika belum puas juga, bisikkan dengan pelan. Dalam sebuah permohonan doa-dos di tengah malam.

Mintalah untuk sebuah belas kasihan. Pada Pemilik sekalian alam. Pemilik jiwa-jiwa yang gersang. Pencinta jiwa-jiwa yang tenang. Katakan seberapa besar pengorbanan yang sudah engkau berikan. Betapa pasrahmu memberikan sejuta sayang. Menyerahkan rindu mengharu biru.  Dan sabar yang ada habisnya.

Kalau semua pengorbanan terucap hanya ada dalam angan, jangan berharap permohonanmu dikabulkan. Sebuah penghianatan sedang kau lakukan. Sebuah kemaluan sedang kau beberkan. Tutup wajahmu untuk sementara. Jangan bercermin di depan kaca. Apalagi menatap jernih air samudera.

Cintamu belum berada pada tempatnya. Sayangmu hanya singgah sementara. Rindumu hanya bualan penutup kesepian panjang diminta hilang. Percuma.

Masih ada waktu tersisa. Sebelum semua berubah nyata. Lupakan duka. Melangkahlah dengan riang gembira. Aku berdiri di belakangmu mengamati dengan seksama. Dan akan selalu begitu hingga bayangmu hilang ditelan gelapnya malam

Tanah Bumbu, 18 September  2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x