Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Media

KPI Oh KPI (Aku Jadi Benci)

14 Agustus 2019   12:38 Diperbarui: 14 Agustus 2019   16:02 0 10 5 Mohon Tunggu...
KPI Oh KPI (Aku Jadi Benci)
Kompasiana.com

KPI oh KPI

Sejak kemarin malam tv di rumah tidak menyala lagi. Maklum tinggal di daerah harus lewat antena parabola. Tak ada satu cannel pun yang mau menyala. Dulu pernah juga. Tapi kala itu wajar. Jakarta lagi padam listrik. Kali ini gak tau. Padam apa memang tidak ada jaringan. Atau parabola yang rusak.

Mungkin juga kualat. Sejak tadi malam, KPI saja yang diumpat-umpat. Dalam artikel, dalam puisi juga dalam cerita. Makanya harus minta maaf pada KPI. Katanya tak boleh menyebarkan kebencian. Kena pasal nanti. Penjara menanti.

Tapi mau bagaimana lagi. Namanya benci ya benci saja. Kalau benci disimpan dalam dada malah bahaya. Jadi kanker membawa melayang nyawa. Makanya disampaikan secara terbuka. Biar lega.

Saya heran juga, semakin hari acara tv makin loyo. Coba saja, berita yang disampaikan berita viral dari youtube, instagram, facebook dan twitter. Kalau bukan soal trending pasti soal kejahatan. Memangnya se Indonesia banyak kejahatan berlangsung. Tapi kalau yang seperti itu-itu saja yang disiarkan. Terkesan Indonesia sarang kejahatan.

Belum lagi soal acara intertain, lucu banget. Lucunya tidak membuat tertawa. Lucunya malah karena sepertinya mati ide. Koq bisa, membuat siaran dalam level nasional lebih buruk dari pada hajatan RT. Bloon ditampilkan terang-terangan. Memangnya orang Indonesia tidak bloon ya? Hingga harus diajari bloon. Heran.

Belum lagi drama, Korea telah mengajarkan bagaimana variasi cerita mereka persembahkan. Di tempat kita motifnya cuma dua. Kalau tidak selingkuh pasti soal azab dan sengsara. Yang ditonjolkan adegan kekerasan dan penyiksaannya.

Berjalan sangat lama, hingga penonton mati rasa. Mau nonton yang mana, isinya sama saja. Hampir semua. Koq ada yang menonton, padahal acaranya begituan saja. Tak ada pendidikannya sama sekali. Mau bloon sih, tak usah dididik sudah pintar sendiri.

Nah, yang paling benci itu, katanya Indonesia harus juara bola. Generasi akan datang harus menggantikan generasi loyo. Bola kalah melulu. Nyatanya acara bola diacak. Tak bisa ditonton orang dari desa. Dari daerah yang harus gunakan parabola. Kalau mau bisnis sih sah-sah saja. Tapi mana rasa kebangsaannya.

Jadi wajar jika tv ditinggalkan, pindah ke laman online. Youtube dan sejenisnya. Lalu KPI mau ikut ke sana. Coba tv yang acaranya mati suri itu dibenahi. Biar bagus. Bukan malah melarikan diri. Penjahat perang saja, ketika kalah perang sanggup jadi tawanan. Haram melarikan diri.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x