Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Asyiknya Punya Istri Empat

27 Juli 2019   06:13 Diperbarui: 3 Agustus 2019   00:55 0 24 12 Mohon Tunggu...
Asyiknya Punya Istri Empat
playworld.id

Setahun yang lalu ketika pelatihan, aku bertemu seseorang yang membuka wawasan baru tentang poligami. Usianya kira-kira 50 waktu itu. Ia bercerita, istrinya empat.

Sebenarnya total istrinya hingga saat itu adalah sepuluh. Wow, fantastis sekali pikirku. Mendengar ceritanya kami terkagum-kagum.

Mula-mulanya, ketika itu dalam perjalanan dari penginapan menuju tempat pelatihan tidak ada angkutan dari panitia. Hingga akhirnya peserta pelatihan yang memiliki mobil boleh mengangkut kawan-kawan yang tersisa.

Aku dan beberapa temanku masuk ke mobilnya. Di perempatan jalan lampu merah, salah seorang kawan nyeletuk ketika ada ibu muda naik kendaraan. Seksinya tidak terkira. Berteriak, dan seluruh kami disuruh memperhatikan anggota tubuhnya. Memang seksi sih.

Nah, orang itu -- ia yang banyak istri mengemudi -- mengomentari kami semua, itu belum seberapa. Masih kalah seksi dibanding istriku di rumah. Sembari tertawa.

Berikut penuturannya: nikmatnya melihat wanita cantik itu hanya ada dimata. Rasanya sama. Aku pernah memiliki istri dari segala bentuk. Mulai dari yang kurus hingga yang gemuk. Mulai dari yang perawan tinting, hingga yang janda lebih tua dari aku. Dari yang sangat cantik hingga yang biasa saja.

Istriku jumlahnya sepuluh. Istri pertamaku seusiaku, lalu entah karena apa aku tertarik untuk menikah lagi. Dengan yang jauh di bawah usiaku. Beberapa bulan bercerai. Lalu menikah lagi yang ketiga. Berjalan tiga tahun. Cerai lagi.

Ketika umrah, aku ketemu dengan wanita di Madinah. Menikah di sana. TKW, beberapa bulan aku di sana. Ketika pulang ke tanah air. Sempat 5 tahun baru bercerai.

Pokoknya total wanita yang pernah aku nikahi sepuluh orang. Enam orang telah bercerai, sisanya masih empat. Mereka semua akur. Karena aku selalu jujur. Jika aku menikah, aku cerita kepada semua istriku.

Jumlah anakku 36 orang. Sampai aku lupa siapa nama mereka. Beberapa dari mereka sudah bekerja. Dan sudah berkeluarga. Kalau tidak salah 11 orang. Sisanya masih sekolah. Yang paling kecil umurnya kira-kira satu tahun.

Kami semua tertegun, tak ada yang berkomentar. Hanya geleng-geleng kepala. Ia kaya raya, memiliki show room mobil terbesar di Banjarmasin. Wajar saja tak kekurangan apa pun.

Jadi, seperti apa pun bentuk wanita rasanya sama. Lanjut ceritanya. Orang akan menyangka, memiliki istri yang banyak sangat bahagia. Padahal tidak sama sekali.

Coba bayangkan, dalam seminggu aku harus membuat daftar giliran untuk masing-masing istriku. Ketika berada di istri pertama, anak di istri lainnya lagi sakit. Menelpon, mau didatangi padahal bukan jadwal di istri itu. Anak mengeluh minta ditemani ketika sakitnya.

Tidak semua anak dan istri selalu sehat. Bayangkan, 25 orang anak. Dia darah dagingku. Padahal jadwal harus ditepati agar tidak saling cemburu. Terpaksa meneteskan air mata. Ikut merasakan sakit anak. Darah dagingku. Hanya bisa merasakan. Tak bisa ikut merawat. Disitulah kadang sedihnya tak terkira.

Apalagi ketika anak berkata di telpon, "Bah, aku sakit. Deman panas, Bah. Tengoki ya. Sebentar saja."

Kemudian, ketika aku sakit. Ternyata istri pertama lah yang paling telaten merawatku. Jadi berapa pun jumlah istri. Orang-orang yang pernah punya istri banyak, pasti akhirnya akan kembali ke istri pertama.

Jadi, kalau bisa mengikuti pengalamanku. Tidak usahlah kalian semua mengikuti aku. Begitu sarannya. Punya istri banyak tak ada nikmatnya. Hanya nikmat dalam bayangan saja. Setelah dilakukan tak ada nikmatnya sama sekali. Lebih baik istri satilimu saja dinikmati dan disayangi.

Mengapa orang sering ganti-ganti istri, atau sering nikah lagi setelah nikah lebih dari sekali. Masalahnya karena tidak ada yang lebih baik dari istri yang ada. Jadi mencari istri yang lebih baik. Dan tidak ada yang sesuai keinginannya. Tidak ada istri yang sempurna. Begitu kesimpulannya.

Cukup aku saja yang merasakan, bagaimana tidak nikmatnya punya istri banyak. Ia menutup ceritanya. Kami turun dari mobilnya sambil senyum-senyum. Masing-masing dengan pikirannya masing-masing.

Sementara aku, cukuplah satu istri saja. Yang satu saja belum mampu memenuhi kebutuhan lahir bathinya. Merawat anak dan mendidiknya dengan baik saja belum mampu. Untuk apa punya istri lebih dari satu.