Mohon tunggu...
ROPINGI
ROPINGI Mohon Tunggu... Pendidik

Jika sudah dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Hari Anak Nasional dan Realitanya

23 Juli 2019   12:31 Diperbarui: 23 Juli 2019   12:33 0 10 1 Mohon Tunggu...
Hari Anak Nasional dan Realitanya
Tribunnews.com

Adakah yang lebih menyedihkan dari pada cerita tentang "Ia Anak Lelaki" dalam cerita terdahulu? Ternyata banyak. Dalam versi yang berbeda dalam bentuk yang tidak sama.

Kadang cerita hanya sampai pada cerita setelah dibaca hilang dari kepala. Sebagian ada yang berucap, kasihan. Itu pun hanya lepas dari mulut. Selebihnya otak akan merespon berita lainnya. Lupa tentang cerita sedih yang telah dibaca.

Apalagi untuk berpikir, menoleh ke tetangga. Jangan-jangan ada tetangga dekat yang butuh bantuan kita. Dia malu atas kemiskinan dan kekurangannya. Hingga menutupi dan tak bersuara.

Budaya di tempat kita berbeda, respon hanya cepat dilakukan ketika sudah diviralkan. Masing-masing berebut membantu. Dalam hati, siapa tau dengan membantu akan ikut jadi terkenal. Budaya apa yang seperti itu? Bukan Indonesia banget. Atau memang sudah bergeser budaya kita. Entah lah.

Apalagi jika sudah menyangkut hal-hal yang memalukan. Pasti akan rapat disembunyikan. Derita akan ditanggung sendirian. Berita tentang UU IT, kian menambah takut korban.

Tuntutan balik dianggap mencemarkan nama baik jadi momok korban. Terutama kasus pelecehan seksual. Dan yang melakukan adalah orang besar, terpandang dan hartawan. Selesailah urusan. Hingga akhirnya, korban yang malah dipenjarakan.

Seperti, Minah (bukan nama sebenarnya) kelas 6 SD yang akhirnya terpaksa keluar sekolah karena hamil. Digilir teman-temannya beramai-ramai. Harus pasrah. Demi menahan malu, orang tuanya akhirnya mencarikan orang suruhan untuk mengaku sebagai pelaku. Jalan paling mudah. Dinikahkan.

Atau siswi yang menahan derita dilecehkan guru olah raganya. Hingga lulus sekolah diam saja. Oknum guru yang mencoreng nama baik guru.

Tak sedikit juga, ibu dari siswa bermasalah yang dipanggil ke sekolah kemudian jadi sasaran kebejatan kelakuan oknum kepala sekolah. Terpaksa harus diam, karena berhadapan dengan orang terpandang.

Adalagi tentang anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah, kemudian jadi pekerja rumah tangga. Mengurus menemani akan tuan rumah. Tak akan mampu mengelak ketika, penghuni rumah melecehkannya. Memperlakukan secara kejam, karena kondisi ekonomi memaksanya diam.

Inilah segelintir kejadian yang terjadi lepas perhatian. Atau pura-pura tidak tahu. Yang penting tidak viral, biarkan saja. Nanti juga hilang dengan sendirinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2