Mohon tunggu...
ROPINGI
ROPINGI Mohon Tunggu... Pendidik

Jika sudah dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ia adalah Anak Lelaki

23 Juli 2019   09:34 Diperbarui: 23 Juli 2019   10:31 0 25 11 Mohon Tunggu...
Ia adalah Anak Lelaki
NETRALNEWS.COM

Ia adalah anak lelaki, dalam rangka menyambut hari anak nasional.

Ia adalah anak lelaki ke tiga di antara, lima suadara. Tumbuh menjadi anak yang liar. Ibunya sibuk mengasuh dan membesarkan adiknya dalam susuan. Sementara bapaknya penjual sayur keliling dengan pikulan di bahu. Berangkat ketika azan subuh dikumandangkan. Pulang ketika wirid maghrib telah selesai.

Ketika SD, sementara anak lain berangkat ke sekolah dengan perut kenyang dengan kegiarangan menyambut hari baru, ia berangkat dalam perut kosong.

Teman-temannya menggunakan seragam bersih setrikaan kadang membuatnya iri. Ia lihat baju yang dikenakan. Banyak tambalan di sana sini. Jangankan setrikaan, dicuci pun seminggu sekali. Malu bermain dekat teman-teman ketika istirahat. Bau keringat, begitu kata temannya.

Makan terakhir yang ia santap tadi malam selepas isya adalah nasi aking yang di masak kembali. Kerupuk remah dan sambal plelek lauk ternikmat. Tak suka rebusan sayur yang hanya dengan garam. Daging atau ayam hanya ia rasakan ketika ada undangan selamatan atau was ada acara walimah perkawinan. Selebihnya tak ada.

Jajan sekolah? Belum pernah terbayang akan dapat uang jajan. Ia juga tak pernah mengharapkan. Dapat berangkat ke sekolah sudah anugerah terbesar.

Bukan tentang sulitnya mata pelajaran yang ada di benak kepalanya, melainkan apakah ia mampu menahan rasa lapar hingga nanti menjelang malam. Makkum, makan sehari sekali. Nasi aking dan sambel plelek, mana ada gizinya. Ibunya sering berbisik, "Sudah yang penting kenyang. Syukur masih bisa hidup."

Memang benar. Di sekolah, pelajaran berjalan seperti biasa. Baginya hanya angin lalu belaka. Jika ada pekerjaan rumah berarti esok pagi harus ada teman yang kasihan memberikan contekan untuknya.

Demikianlah waktu berlalu, hidup anak ini adalah sekedar bertahan untuk hidup. Hanya sekali waktu berdoa, kapan badan ini bisa lekas besar. Siapa tau bisa jadi kuli panggul di pasar. Atau mencari kardus bekas dan botol plastik air mineral.

Prestasi di sekolahnya terbilang istimewa. Selalu rangking satu atau dua. Dari urutan bawah. Ia pasrah, buat apa juga ranking satu. Tak ada hadiah bermutu. Coba jika hadiahnya uang jajan, atau nasi yang tidak sekedar nasi aking dan kerupuk andalannya. Pasti ia berusaha sangat keras meraihnya.

Apa yang bisa diharapkan dari kondisi anak seperti ini? Prestasi? Atau kreatifitas barangkali? Entahlah. Bertahan hidup melewati hari-hari agar segera besar. Bekerja sebagai buruh atau apa saja yang penting menghasilkan uang.

Ia tak tau jika lulus SD akan sekolah dimana? Zonasi? Apalagi, jauh dari angannya. Bisa diterima di sekolah gratis saja sudah luar biasa. Alih-alih berebut sekolah favorit, asal ada yang bersedia menerima saja sudah senang. Jika pun tak ada yang menerima, juga tak mengapa. Toh, masih ada jalanan tempat sekolah barunya.

Ia tau, ternyata ia tak sendiri. Ada berjuta temannya di negeri ini. Di pelosok desa, di perkampungan, hingga di tengah kota semua sama. Si miskin papa dengan perut teriris menahan lapar.

Apa yang bisa diharapkan dari mereka? Pertanyaannya terbalik. Harusnya, apa yang bisa mereka harapkan jika kondisi keluarga tetap begini? Hidup berjalan sendiri-sendiri. Mau minta bantuan pada siapa? Keluarga yang lain sibuk dengan urusannya.

Berharap kepada pemerintah? Pemerintah yang mana? Yang ia tahu hanya ada tetangga, pak RT, dan guru di kelasnya. Juga kepala sekolah, kadang-kadang sekali lima bulan memberikan sambutan ketika upacara bendera. Tak ada.

Katanya beasiswa diberikan kepada siswa miskin, siswa berprestasi. Bagaimana berprestasi jika yang dipikirkan hanyalah bagaimana menahan lapar. Belum lagi tentang persyaratan administrasi yang harus dilengkapi. Sudah tak masuk di kepala ibu bapaknya.

Harapannya kian pupus, ketika syarat jadi buruh pun sekarang dibatasi. Harus tamatan SMP. Jangankan SMP, SD saja belum tentu mampu bertahan dan lulus. Apalagi memikirkan untuk melanjutkan.

Akh, sudahlah. Namanya juga orang miskin. Anak orang miskin. Ia tak minta dilahirkan dari perut ibu yang miskin. Juga tak minta bapaknya hanya penjual sayur keliling. Kalau sudah miskin, ya miskin saja hingga turunan selanjutnya.

Biarlah mereka yang kaya menjadi kian kaya. Masa bodoh dengan mereka. Biarkan asyik menikmati kekayaannya.

Bapak/ibu guru sering memberi semangat, hidup harus optimis menatap masa depan. Jadilah yang terbaik mengarungi zaman. Bagaimana bisa. Modal dari mana? Coba berikan saran, apa yang ia akan lakukan? Tak ada. Paling hanya mengurut dada sambil berkata, kasihan.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x