Mohon tunggu...
ROPINGI
ROPINGI Mohon Tunggu... Pendidik

Jika sudah dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Puisi

"Urtikaria Kolinergik"

16 Juli 2019   19:17 Diperbarui: 16 Juli 2019   19:22 0 5 0 Mohon Tunggu...
"Urtikaria Kolinergik"
Suara.com

Urtikaria Kolinergik

Ia gadis muda, kumpulan ibu setengah baya meracik sirih ketika purnama mulai menyapa
"Perawan jangan ditinggalkan sayang," salah seorang berkata

Upacara adat pedalaman meratus pertangahan musim kemarau
Anjing dan babi berkeliaran ikut dalam sajian pesta
Mantra pengusir keburukan pelan-pelan dilantunkan tetua adat
Untuk alam semesta

Ibu setengah baya menari-nari riang gembira
Perawan malu-malu dibelakang berbisik pada temannya
"Kita nanti saja, bila yang lain sudah lelah pamerkan dada."

Pato-pato mulus hingga tengah malam tiba
Lelah ikuti irama gong

Adegan 250 tahun lalu lenyap temakan zaman
Tersisa kegirangan, dalam dansa
Pada mimbar kerlap kerlip lantai bar
Tontonan yang sama

Gembira menyisakan perawan yang hilang
Entah kemana?
Oleh siapa?
Mereka bukan orang pedalaman dengan leluhur yang disucikan

Muda mudi mencari pasangan berganti-ganti
Lupa harga diri
Lupa di tanah mana ia berdiri
Akibatnya, Urtikaria Kolinergik pada hati dan birahi

Tanah Bumbu, 16 Juli 2019