Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Teman Baru dalam Panggilan Video WA

16 Juli 2019   01:13 Diperbarui: 16 Juli 2019   01:36 0 11 7 Mohon Tunggu...
Teman Baru dalam Panggilan Video WA
Oketekno

Punya teman baru yang mau diajak panggilan video memang sangat menyenangkan.

Setelah bosan menulis puisi, tidak tanggung-tanggung sehari semalam 12 tulisan sempat aku post. Coba saja jika tidak ada jeda waktu pasti aku akan post hingga seribu tulisan. Soal kualitas pasti sangat diragukan.

Betapa tidak, harusnya menuliskan sesuatu memerlukan pemikiran mendalam. Skenario, tema, setting serta alur logika yang akan dibangun. Nyatanya di tulisanku tak ada sama sekali. Semua hanya sekali jadi. Bahkan, kadang banyak kata salah eja. Ada yang tertinggal hurufnya atau tertukar tempatnya.

Namamya juga manusia tempat salah dan khilaf. Jika disengaja itu teledor namanya. Jika tidak sengaja itu kurang hati-hati disebutnya. Jadi harap maklum saja jika ketika membaca, banyak salah di mana-mana.

Malam ini sengaja aku tidak tidur. Mencoba bergadang cari inspirasi buat tulisan esok. Dengan harapan pada waktu mendatang ada tulisan yang diganjar dengan HL. Harusnya ada peningkatan. Masak hari-hari cukup puas dengan kategori pilihan. Bersyukurlah dari pada tidak ada sama sekali.

Biasanya, jam-jam seperti ini dering wa berbunyi. Ada pesan masuk dari teman-teman kompasianer. Malam ini sungguh sepi. Entah karena tadi pagi adalah hari pertama kerja setelah libur panjang. Capek. Atau memang sudah bosan. Prasangka baik saja, mereka sedang istirahat karena capek aktifitas siang seharian.

Ketika asyik melamun, ternyata dering wa berbunyi. Berarti ada pesan masuk. Bergegas aku buka. Ingin tahu isinya apa? Pesan dari kontak yang tidak terdaftar. Masih dalam bentuk angka. Aku bingung ini dari siapa?

Demi menjaga rahasia, aku akan sembunyikan kontak identitasnya. Privasi kata orang sekarang.

Berikut isi percakapannya:
Demi meringkas cerita aku beri kode saja, 

- (dia) dan + (aku).

- mat malam bang
+ malam

Karena belum kenal, engan rasanya menjawab obrolanya. Dalam hatiku lebih baik aku merencana tulisan untuk esok hari. Targetku bulan ini minimal 500 tulisan. Siapa tau reward dari admin bisa lebih banyak ketimbang sebelumnya.

Bayangkan saja, kuota internet buat nulis artikel dan memberikan vote di artikel kawan-kawan saja sebulan menghabiskan Rp 600.000. Sementara yang aku dapat Rp 40.640. Bukan salah admin sih, salahku juga karena belum ahli dalam tulis menulis. Akhirnya kurang mendapat respon yang sangat baik dari pembaca.

Oh iya, kok malah curhat. Malu lah, segala urusan uang sebegitu saja sampai jadi bahan tulisan segala. Ok, kita lanjut ke urusan pesan wa tadi.

- mat malam bang
+ iya mat malam, ada apa ya?
- ajarin dong bang
+ ajarin apa?
- katanya abang pandai membuat puisi, ajarin ya
+ boleh-boleh
- bagiaman caranya?
+ sudah begini saja, sekarang pikirkan apa yang akan kamu tulis
- saya lagi kangen bang
+ baguslah, simbol apa yang akan kamu gunakan?
- simbol?
+ ya, misalnya rembulan untuk suasana romantis. Pantai, bunga-bunga, atau apa saja yang kamu suka.
- aku suka kucing bang.
+ ya sudah, kucing bagus jadi lambang kangen. Ada istilah malu-malu kucing.
- coba abang contohkan ya, minimal satu bait.
+ baiklah sebentar

Aku tulis satu bait puisi sekenanya. Memang kebiasaanku begitu. Menulis apa saja tak menggunakan pikiran. Jadi jempol saja yang berjalan. Inilah bait yang aku buat.
"Jika malam datang, aku kesepian. Hanya kucing jadi teman dinginnya malam. Untuk yang ada di sana. Gantikan kucing ini segera. Aku berharap kau ada."

Aku kirim tulisan itu kepadanya. Sebenarnya pesan yang aku kirim terbaca. Contreng dua dengan warna terang. Artinya pesan telah terbaca. Lama tak ada jawaban.

+ sebentar bang. Aku lanjutkan ya.
- semangat. Harus bisa ya. Ntar aku koreksinya.
+ oce

Beberapa menit aku tunggu. Tak ada pesan masuk. Syukurlah, dalam hatiku berkata. Sementara dia berpikir, aku juga berpikir untuk esok hari.

Setengah jam, dia diam. Terlihat di wa nya masih online. Satu jam, tetap diam. Aku mencoba bersabar. Sambil berpikir, bagaimana caranya agar bisa berkenalan dengannya.

Sangat tidak etis sebenarnya, berkomunikasi dengan orang yang tidak kita ketahui identitasnya. Sebaiknya aku tanyakan namanya atau bagaimana?

Soal nama siapa saja bisa menggunakan nama sembarang. Seingatku jarang sekali aku menanyakan status perkawinan atau usia orang lain. Bagiku tua, muda, besar, kecil, cantik, kurang cantik, sama saja. Toh, perlunya hanya berkirim pesan. Tak lebih tak kurang.

Setelah lama berpikir, aku putuskan akan melakukan panggilan video. Jika dia tidak mau berarti memang tidak ingin berkenalan lebih dekat. Jika mau, selamat. Rejeki besar berarti malam ini.

Setelah satu setengah jam berlalu, aku putuskan melakukan panggilan vedio. Yakin saja dia pasti akan menerima.

Benar panggilan video aku lakukan.

Tuut, tuut, tuut, ....

Diterima, terlihat suasana ruangannya. Terang benderang. Jaringan kebetulan lagi bagus. Jadi sangat jelas telihat lawan yang ada dalam kamera.

Di depan kamera hp ku, hanya ada ruangan. Kemudian aku minta agar dia menunjukkan wajahnya. Beberapa saat kemudian terlihat seekor kucing sedang tiduran mengamati kamera.

- kok kucing sih. Wajahmu mana?
- sebentar bang. Ini lagi siap-siap

Aku amati dengan seksama. Tak juga ada wajah di depan kamera.

- ikh, mana?

Tak ada sahutan. Hanya gerakan camera mengarah ke arah ruangan lain. Terang benderang.

- ayolah!

Tiba-tiba aku dengar suara tawa. Seakan malu. Lalu, kamera video hpku gelap.

- kok gelap?

Gerakan kamera mundur, dan aku terperanjat. Hp  terlepas. Bulu kudukku berdiri. Yang tadinya duduk langsung berdiri. Subhanallah! Allahu akabar! Asytaghfirullaah! Astaghfirullah!! Aku berteriak.

Hanya ada rambut panjang dan wajah tanpa indera. Tak ada mata. Tak ada hidung, tak ada mulut. Aku bergidik. Ingin mematikan panggilan wa. Tak bisa. Mau menoleh ke tempat lain. Sorot mata tak mau pindah darinya.

Aku berdiri mematung, sambil komat kamit baca ayat kursi. Dia masih ada menggerakkan wajahnya agar terlihat jelas. Gila!

Keringat dingin mengucur. Tak sempat berpikir lagi. Hanya berzikir yang mampu aku lakukan. Dia masih tetap tertawa. Rambut sebahu teruarai disirir dengan jari tangannya. Allahu akbar. Benar tak ada inderanya. Ampun ya Allah. Orang apa siapa ini? Jika orang, dia bernapas dengan apa? Jika hantu, mustahil ada hantu. Aku tak percaya hantu. Apalagi yang suka mengganggu.

Tak terasa keringat dingin kian terasa basahi baju. Sarung yang aku kenakan dingin, basah. Pipis atau apa? Aku tak merasakannya. Benar-benar diam mematung. Menyebut nama Allah berkali-kali. Dia tidak hilang-hilang juga. Mataku juga tak segera menoleh ke tempat lain.

Mengapa tanganku hanya diam, harusnya aku ambil hp nya. Aku matikan pangilan wa nya. Benar-benar syok aku dibuatnya. Entah kapan berakhirnya panggilan itu. Yang jelas, ketika aku tersadar hp sudah tidak aktif lagi.

Aku tak tau berapa lama kejadian itu. Berapa lama aku tak sadarkan diri. Yang aku tau saat ini sudah pukul 02.00. Entah ketika itu teridur atau memang betul terjadi panggilan video dengan wanita tadi. Wallau A'lam bi sawaab.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x