Mohon tunggu...
ROPINGI
ROPINGI Mohon Tunggu... Pendidik

Jika sudah dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Film "Dua Garis Biru", Antara Ketakutan dan Kesadaran

14 Juli 2019   08:53 Diperbarui: 14 Juli 2019   09:04 0 12 5 Mohon Tunggu...
Film "Dua Garis Biru", Antara Ketakutan dan Kesadaran
Kincir

"Dua garis biru", film anak remaja yang banyak mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Antara dilema menghindari pergaulan bebas atau kesadaran meninggalkannya.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (Deputi KSPK) BKKBN M. Yani mengatakan film ini memang menggambarkan fenomena yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat, terutama pernikahan dini. Dalam salah satu scene bahkan diceritakan akhir dari risiko kehamilan dini yaitu harus operasi pengangkatan rahim.


Hari Kependudukan Dunia diperingati setiap tanggal 11 Juli. Memanfaatkan ini, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama John Hopkins Center for Communication Program (JHCCP) dan Forum Genre Indonesia (FGI) mengajak para generasi muda untuk menonton dan berdiskusi mengenai film 'Dua Garis Biru'. Film berdurasi 1 jam 53 menit ini memang baru dirilis perdana tayang di bioskop pada 11 Juli 2019. (detikNews / Berita
Sabtu 13 Juli 2019, 12:43 WIB)

Film yang menceritakan tentang pernikahan dini. Akibat pergaulan bebas remaja. Pembelajaran lewat media film memang sangat menguntungkan. Kita coba analisa dalam perspektif yang berbeda. Bayangkan saja, ketika anak remaja menyaksikan film ini. Akibat pergaulan yang tanpa batas. Dengan segala resiko kehamilannya. Apa yang terbayang dibenak mereka?

Sebagian barangkali akan tersadar dan berusaha menjaga dirinya. Membebaskan diri dari pergaulan yang melampaui batas. Tak sedikit yang kemudian menjadikan film ini ide besar buat melakukan hubungan sex denga cara jitu. Mereka menjadi berhati-hati dalam dalam melakukannya.

Apalagi alat kontrasepsi yang beredar bebas di market-market. Juga obat anti hamil dapat dibeli bebas di apotik atau toko obat.

Fimela.com
Fimela.com

"Ini adalah sebuah keprihatinan kita, dan masih banyak masalah yang mungkin perlu diangkat dalam bentuk karya sinema seperti ini supaya banyak hal persoalan kependudukan kita agar dipahami masyarakat. Memang penyajiannya harus seperti ini, kalau kita bentuk lewat ceramah mungkin orang nggak mau dengar, tapi kalau dalam bentuk film ini luar biasa sekali," ujarnya di sela-sela kegiatan Dialog Inspiratif Pernikahan Dini dan Nonton Bareng Film Dua Garis Biru di Cinema XXI Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (11/7/2019) lalu.

Masalahnya adalah pada pemindahan kesadaran tentang tidak bolehnya berhubungan badan sebelum pernikahan atau jangan sampai hamil ketika melakukan hubungan intim.

Jika yang diinginkan adalah menghindari hubungan intim sebelum pernikahan, salah satu cara yang paling mendasar adalah lewat agama. Kesadaran tentang dosa besar yang berakibat sangat fatal.

Suara Merdeka News
Suara Merdeka News
Peran orang tua, terutama ibu sangat besar dalam membangun kesadaran untuk anak remaja meninggalkan pergaulan bebas ini. Dengan obrolan ringan ketika senggang terhadap anak mampu membuat anak mengerti dan biasanya menahan diri.

Yang mengherankan, tidak sedikit orang tua ya g malu jika anak remajanya nikah di usia muda. Akhirnya, karena kebutuhan sex anak dengan segala penunjangnya baik melalui sosial media dan komunikasi yang terjadi di obrolan-obrolan singkat. Memberikan peluang kepada anak remaja untuk berada dalam rumah dengan lawan jenis.

Juga ketika kos-kosan menjadi tempat aman bagi remaja melakukan pergaulan bebas. Lepas dari pengawasan orang tua. Maka yang dibutuhkan bukan kesadaran akibat yang ditimbulkan seperti kehamilan. Mereka akan mencari cara untuk menghindari kehamilan. Melainkan sadar bahwa yang dilakukan adalah dilarang oleh agama.

Kesadaran beragama perlu dipupuk sejak dini. Oleh siapa? Orang tua lah yang jadi pelaksananya. Tak bisa diserahkan kepada sekolah, guru agama dan penceramah/rohaniawan saja. Tetap saja orang tua harus menjadi contoh anak-anaknya dalam pelaksanaan keberagaman di rumah.

sumber