Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Firasat Ini Menyiksaku

13 Juli 2019   23:48 Diperbarui: 14 Juli 2019   00:24 0 27 7 Mohon Tunggu...
Firasat Ini Menyiksaku
pixabay.com

Firasat ini menyiksaku

Malam ini aku kembali sendiri. Hanya desiran angin malam yang membuatku bertahan. Panas udara malam tidak seperti biasanya. Firasatku mengatakan pasti akan terjadi peristiwa besar. Padahal sedang kemarau jam sekian biasanya dingin sudah menusuk tulang.

Segala sesuatunya aku persiapkan. Surat berharga tersimpan rapi dalam tas kulit. Tinggal angkat dan bawa pergi. Kata almarhum ibuku, jika perasanku seperti itu akan ada bencana mengancam.

Pernah dahulu, beberapa tahun yang lalu kebakaran besar. Menghanguskan dua buah kampung. Alhamdulillah, rumah kami tidak ikut terbakar. Beberapa bulan kemudian area kebakaran jadi mall besar. Di banjamasin.

Saat ini aku ada di desa pedalaman. Mustahil terjadi kebakaran. Pasti ada kejadian lain yang seimbang dengan kebakaran.

Apakah yang bencana yang lebih besar dari kebakaran. Banjir bandang barangkali. Atau gunung meletus. Di kalimantan tak ada gunung merapi. Banjir mandang baru saja hilang.

Kuingat-ingat lagi, kesalahan apa yang telah diperbuat penduduk desa ini. Perselingkuhan dengan perzinahan sepertinya jarang. Kemusyrikan? Hampir tidak ada yang menyembah pepohonan.

Yang aku percayai, jika bencana terjadi pasti penduduknya telah menganggap biasa perbuatan hina dan tercela. Kebobrokan moral dimana-mana. Lumrah dilakukan tanpa rasa malu. Atau kejahatan yang dilakukan terang-terangan. Merampok rombongan jadi kebiasaan. Memperkosa beramai-ramai jadi langganan. Tidak ada. Semua berjalan biasa saja.

Mungkin saja pengamatanku yang masih kurang detaill. Kuteliti satu persatu perbuatan penduduk desa. Dari ujung timur hingga ujung baratnya. Dari selatan hingga utara. Kebiasaan setiap bulannya. Semua normal. Tak ada yang mencolok sama sekali.

Malam kian larut. Bukan kian dingin. Ternyata kian hangat. Badanku hingga berkeringat. Semakin larut, semakin berdebar. Aduhai, ada apa ini?

Jika terjadi bencana, semoga tak banyak korban berjatuhan. Ingin aku bangunkan tetangga. Aku takut mengganggu mereka. Terpaksa aku tahan. Niat memberi tahu aku urungkan. Kentongan sudah aku persiapkan.

Bersyukurlah di depan rumahku ada tiang listrik. Jadi jika terjadi sesuatu tinggal berlari. Palu di tangan sudah dipersiapkan.

Semakin mendekati tengah malam, was-wasku kian besar. Bunyi arloji kian terasa terdengar mengeras. Duduk bersila di teras kian membuatku gelisah. Sebentar berdiri, sebentar duduk. Sebentar-sebentar menatap arloji.

Lelah, akhirnya aku terpaksa duduk bersandar di dinding. Mata tak lagi mengarah kemana-mana. Fokus denga gerakan jarum jam. Menanti jika sesuatu terjadi.

Tik, tik, tik, ....

Tiba-tiba, suara menggelegar datang dari arah langit. Aku terperanjat. Cahaya merah jatuh tepat di depanku. Sebesar balon udara. Panasnya tak terkira. Membakar lahan pekarangan. Menembus jauh ke dalam tanah.

"Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu Akbar! Apa yang terjadi. Ya Allah ampuni aku," teriakanku nyaring.

Aku tak kuasa berdiri. Kentongan yang tadi aku pegang terpelanting. Palu hilang entah kemana. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Ternyata firasatku benar. Bagaimana ini? Kalau api ini merembet ke rumah penduduk bagai mana?

Karena tak ada kentongan. Tak ada palu, aku hanya mampu berteriak sejadi-jadinya. Membangunkan tetangga dengan teriakan lantang. Sambil merayap menjauhi api yang membakar. Teriakanku tak ada yang mendengar. Sudah kucoba senyaring-nyaringnya. Tetap tak ada gemuruh orang keluar dari rumahnya.

Lelah merayap. Tak bergerak. Kakiku serasa dipaku. Dari tadi merayap tak juga menjauh dari kobaran api yang kian memanas.

"Tolong! Toloong! Tolooong....," teriakan meminta tolong kuucapkan berulang-ulang hingga suaraku parau.

Perlahan-lahan suaraku menghilang, padahal teriakan nyaring sudah aku coba lakukan.

"Pak! Paak! Bangun, tidur kok di teras. Masuk angin. Bangun, sudah azan subuh itu. Ayo bangun!" teriakan anakku mengagetkanku.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x