Mohon tunggu...
ROPINGI
ROPINGI Mohon Tunggu... Pendidik

Jika sudah dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Aquarium Itu

24 Mei 2019   18:49 Diperbarui: 24 Mei 2019   19:07 0 23 3 Mohon Tunggu...

Ini tragedi tentang adu hebat dalam aquarium. Terdiri dari teratai plastik, buntal, batu kerikil, kelereng warna warni, dan ikan sapu. Air jernih dan airator yang kadang-kadang macet. Apalagi listrik sering padam. Tak mungkin, putaran kipasnya diputar manual pakai tangan kiri.

Teratai bergaya, mengaku paling cantik. Tak akan ada yang mampu menandingi kecantikannya. Lenggang lenggok goyangannya terbara arus airator yang kadang laju kadang pelan selalu menarik birahi penghuni aquarium.

"Jika kalian merasa mampu menandingi kecantikan silakan ajukan protes. Aku memang tercantik," celotehnya.

Tak ada yang protes, karena cantik tak guna.

Kelereng sebenarnya akan mengajukan pertanyaan. Niat itu diurungkan. Ia sadar, teratai hanya plastik bekas. Daur ulang diambil dari tumpukan sampah. Mengajukan fakta-fakta juga percuma. Dalam tubuhnyw banyak cela. Tak sadar diri. Teratai mengaku paking suci. Paling cantik dan paling segalanya. Ikh, teratai layak dapat selempang putri tercantik.

Kerikil sebenarnya minder berada dalam aquarium, tak mungkin mampu bersaing mengkilat dan warna warni dengan kelereng. Makanya sejak awal, kerikil hanya jadi saksi atas apa  pun yang terjadi. Kerikil menyimak dengan bijak. Diam dan mencatat detail setiap kejadian.

Buntal mengaku paling berkuasa, dalam pemilihan ia mendapat suara terbanyak. Kerikil disuap untuk jadi pendukung utama, dan selalu menolak. Tahun lalu pernah kerikil diultimatum akan dikeluarkan dari aquarium. Atau akan dipidanakan. Sayangnya tak cukup bukti, kerikil cukup cerdik hanya dengan diam. Semua selesai.

Ikan sapu mengaku paling berjasa, ia minta untuk sehari saja jadi penguasa. Dalam janjinya, seluruh penghuni aquarium akan dibuat makmur dan merdeka. Semua penghuni tertawa. Mustahil bisa. Semua program dibacakan. Tak ada yang percaya.

"Aku sudah berkuasa, sudah terbukti, jalan-jalan sudah aku buat licin, lebar dan pasar-pasar murah berjalan sesuai rencana," kata buntal jumawa.

"Itu menurutmu, buktinya banyak rakyat sengsara. Hidup kian susah. Gas LPJ kian langka, mereka memasak dengan apa? Minyak tanah sudah tidak ada. Kayu bakar dilarang digunakan. Pasti dipenjara. Dianggap merusak hutan, lantas yang menebang jutaan hektar itu adakah mereka merasa berdosa?" sahut ikan sapu menyampaikan fakta.

"Akh, itu hoaks belaka," buntal tertawa.

Dan bla bla bla ....

Airator sejak awal selalu jadi kambing hitam. Usahanya menjernihkan air dan menghidupi penghuni aquarium tak pernah mendapat perhatian. Selalu menjadi sasaran amuk masa. Airator hanya berusaha. Dan sudah maksimal berusaha. Hanya pernah sekali mendapat pujian. Ketika sebuah perayaan.

"Kalian adalah pahlawan bangsa, memajukan peradaban anak bangsa. Pahlawan tanoa tanda jasa," nyaring teriakan buntal.

Disambut tepuk tangan meriah. Entah oleh siapa. Nyatanya airator tak pernah nikmat tidur. Ia hanya pegawai lepas. Pegawai honor. Lebih dari sepertiga jumlahnya.

Dalam hati di tengah malam ia selalu berdoa, semoga buntal tak lagi besar perutnya. Kenyang makan semua jatah seluruh aquarium.

Demikianlah, suara aquarium kian riuh. Ketika people power bergerak. Kerahkan seluruh aparat, periksa dan tuduhkan apa saja selagi bisa.

Pemilik aquarium kadang murka. Gempa, bencana dan sebagainya. Hanya peringatan agar semua tak lupa. Ada yang Maha Kuasa.

Tanah Bumbu, 24 Mei 2019