Mohon tunggu...
ROPINGI
ROPINGI Mohon Tunggu... Pendidik

Jika sudah dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Teratai dan Telur Katak

21 Mei 2019   00:28 Diperbarui: 21 Mei 2019   01:21 0 10 2 Mohon Tunggu...

Tentu tak pernah berakhir begini
Teratai mulai layu
Kemarau sudah menguras habis air di sawah kami
Yang tersisa hanya genangan dengan lobang belut
Keruh bercampur telur katak yang tak lagi menetas

Ia berkata,"Saatnya kita merdeka."
"Dari apa, Pak Tua?"
Dari lintah darat
Mereka tak lagi datang dengan kendaraan dan mobil avanza
Ia hanya membeli kartu ponsel lima ribu dua
Lalu, sebarkan pesan gratis
"Butuh dana cepat? Ini solusinya. 20% persen bunga. Tanpa agunan. Hubungi nomor ini."

Mengapa bisa?
Darimana mereka tau nomor kita
Siapa pelindung rakyat jelata?

Akankah seperti teratai dan katak di sawah?
Memangnya kita bisa apa?
Data selalu ada yang punya
Sudah terdaftar dengan kartu keluarga
Dan aksi tipu-tipu merajalela
Yang berkuasa diam saja

"Itu urusan kecil, aku lagi sibuk mengurus perkara besar. Kalian selesaikan saja urusan itu secara kekeluargaan. Yang lebih mendesak adalah menggiring demonstran agar tak buka suara. Yang lebih penting adalah membunuh teroris di mana pun mereka ada."

Aku diam saja
Aku hanya rakyat jelata
Mengeluh pun tak boleh buka suara
Mungkin nanti kena pasal makar
Memang aku harus diam saja

Seperti halnya teratai yang kekeringan di tengah sawah
Dan telur katak yang tak mungkin lagi menetas

TanahBumbu, 21 Mei 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x