Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Ia Miskin

18 Mei 2019   19:31 Diperbarui: 18 Mei 2019   20:00 0 44 16 Mohon Tunggu...
Ia Miskin
pixabay.com

/1/
Aku lihat teratai di petakan sawah mulai mengering. Kangkung dan genjer segera berbunga. Takut keturunannya tak sempat ikut pamer pada belibis yang berpesta ketika malam tiba. Sementara tarikan napas berat masih membebani Pak Bejo. Petani asal dukuh asli.

Ia lihat di pasar pameran beras putih mengkilat. Pasti rasanya sangat enak. Begitu pikirnya. Seumur hidup hanya bermimpi menanak nasi panenan sendiri. Sawah miliknya sudah tergadai ketika lebaran tahun lalu, juga buat beli sarung dan sepatu ke tiga anaknya yang masih sekolah.

Belalang telah menyerang panennya. Impor beras telah menggerogoti jantungnya. Mengelus dada sepertinya percuma. Nasib tidak akan berubah seketika.

Senja kali ini ia sengaja tak pulang ke rumah. Duduk menatap petakan sawah. Alangkah indahnya, temaram cahaya rembulan menerpa sisa kangkung dan genjer. Belibis menari-nari mengitari pondok. Menyanyikan lagu birahi. Waktunya bertelur.

Pak Bejo ingin meminta keadilan. Penghuni sawah malam hari mampu berpesta.  Walaupun alakadarnya. Sementara ia, tidur nyenyak pun percuma. Esok pagi perut lapar anggota keluarga harus segera diisi.

/2/
Ia adalah penjual es cendol. Pak Juhri namanya. Mengukur jalan melebihi gesit tukang parkir menata kendaraan. Teriakannya senyaring peluit pak polisi di perempatan. Semangatnya mengalahkan penyapu jalanan di tengah malam.

Empat anak dan satu istri yang harus dihidupi. Dua mertua dan satu ibu renta. Pak Juhri sering berdoa. Jalan ini jangan pernah putus aspalnya. Jembatan ini jangan pernah lepas tiangnya. Hanya untuk segerobak es cendol, tiap hari doa mulai ia panjatkan sebelum keberangkatan.

/3/
Lengkaplah ketika pasar pagi ini dipenuhi pejalan kaki. Akan lebih indah jika tidak ada sampah di pinggir kali. Nita anak 6 tahunan tak lagi sekolah. Kerjanya memunguti botol plastik air mineral. Kadang berebut dengan kakek pemulung lainnya.

Ia hanya berharap. Setiap hari ada plastik botol air meniral lagi. Dua kilo, untuk ditukar sebungkus nasi kucing pengganjal perut selama malam berganti.

Nita sangat bahagia, walau sehari makan sekali dan sebungkus saja. Sisa air mineral itulah pelenyap hausnya.

/4/
Ia akan tetap seperti ini. Tidak ada yang peduli. Ia dilabel pengemis. Dengan kemiskinan dipertontonkan. Dengan kekayaan dipamerkan. Dengan kekuasaan dibuat peraturan. Dengan keagamaan diharam-haramkan.

Ia adalah manusia. Ingin bahagia. Ingin sekedar hidup bersahaja. Di antara gedung megah di kiri kanannya. Di antara deru bising dan asap mobil-mobil mewah.
Apakah mereka berdosa?

Tanahbumbu, 18 Mei 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x