ROPINGI
ROPINGI Guru

Ketika semua dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

[EMPSK] Belum Selesai

16 Mei 2019   19:28 Diperbarui: 16 Mei 2019   20:56 112 36 9

Belum selesai, begitu ia sampaikan se saat ketika langkah pertama keluar rumah disampaikan. Kebimbangan ini perlu diyakinkan. Tak bisa ditunda juga disegerakan. Di ujung gedung itu mereka menyusun tumpukan uang.

Ia adalah tukang sapu. Belum punya kekuatan membersihkan. Hanya lantai dan kaca sangat mudah baginya. Meja juga lacinya sempat disentuh. Tak bermakna apa-apa. Dengan senyuman, tak mungkin semua bersih seketika.

Belum selesai, begitu gumamnya. Harus ada yang mencuci otaknya. Harus ada yang menyiram hatinya. Harus ada yang membasuh jiwanya. Dengan apa?

Orang-orang dalam tumpukan ruang berebut ambil jatah makan. Bukan untuk dirinya saja. Bukan untuk ibu bapaknya. Juga bukan untuk anaknya saja. Kroni dijatah hingga seluruh keturunannya juga guritanya.

Sedikit lagi. Kemarin iya terakhir berucap, sesaat ketika mengunci pintu lantai 101. Mumpung lift belum macet, begitu desahnya.

"Mbak, tolong ambilkan serbet ya?" perintah majikannya.

"Maaf, Pak. Serbet ada di bahu saya," sahutnya penuh hormat sambil membungkuk.

"Bukan yang itu, serbet lainnya. Serbermu terlalu kotor. Aku tidak suka," hardiknya setengah membentak.

"Iya, Pak," jawabnya pelan sambil membungkuk dan berlalu.

Ia datang lagi. Membawa bungkusan rapi.

"Ini, Pak," tersenyum manis ia menyerahkan bungkusan.

Senyum manis yang sudah disusun berpuluh tahun. Ternyata hari ini tiba waktunya.

Dan, ....

Bommm!!!

Lalu, gemeretak dan rentuntuhan bersahut-sahutan. Teriakan mememekikkan. Pertobatan terucap dari bibir-bibir yang sebelumnya bisu. Tengadah tangan dari yang sebelumnya sangat berat.

Suara terdengar nyaring dari lantai dasar. Semua orang dalam ruang di setiap lantai berhamburan. Menyelamatkan diri. Tak ada tempat untuk selamat.

Perlahan gedung megah runtuh. Hingga jadi tumpukan beberapa waktu kemudian. Banyak karena yang mengabadikan. Banyak yang mencari informasi dengan bertanya-tanya. Padahal mereka semua hanya meraba-raba. Dan yang seperti itu tidak disebut hoaks. Lucu.

Ternyata hanya dengan sebuah bungkusan semua bisa dibersihkan. Angkara murka. Kebencian. Kedengkian. Keserakahan. Entah apa lagi namanya.

Seperti itulah yang dipercayai gadis pembersih ruangan itu setelah neneknya, ibunya dan dirinya bekerja di tempat itu secara turun temurun. Tak ada perubahan sama sekali.

Kini semua selesai. Tak satu pun jadi pembelajaran bagi yang menyaksikan. Hanya ada bisikan, "Ia sangat kejam. Semoga Tuhan membalaskan kebiadabannya"

Tanah Bumbu, 16 Mei 2019