SUROBLEDHEK
SUROBLEDHEK Guru

Hati baru, semangat baru, wajah baru, ayo siapa mau

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Puisi | Itu Dahulu, Anakku

21 April 2019   13:45 Diperbarui: 21 April 2019   13:48 45 16 3
Puisi | Itu Dahulu, Anakku
Qhasran

Kenapa teriakan ia membentur karang
Mengalun seakan bayang-bayang
Bukan tentang sajian menyesatkan
Lupa arah pendidikan
Atau tenang cinta yang keluar dari garisnya

Kesedihan dipamerkan siang malam
Kekacauan diumbar hilang ketenangan
Duhai, kau!
Lemparkan kursimu
Datanglah pada kami sekali saja
Masuklah nikmati bilik-bilik rumah kami
Dan lihatlah di atas meja indah itu
Tidak akan ada sajianmu

Laris manis setumpuk mata berlapis-lapis
Semua hanya angka tipis
Tak akan kami gubris
Anakku berkata: jika tontonan bola saja harus disensor, kapan saya bisa contoh pemain bola dunia hebat berlaga. Pantas kita tak pernah juara. Walau lomba tujuh belasan di desa

Aku hanya tersenyum, barangkali kita memang harus begini
Bangga dan berjaya berteriak suka suka
Padalah dunia kita hanya seluas tempurung saja

Anakku meyahut tak puas: sudah jual saja kalau begitu, toh di gawaiku masih ada yang lebih seru

Aku terdiam
Menjauh, kemudian duduk di teras
Mengenang masa indah saat aku jadi anak bapakku
Ada cerita indah yang aku tunggu setiap minggu

Tanah Bumbu, 21 April 2019